Pengkhotbah

Perikop
Maleakhi 3:6-12

Ringkasan Khotbah

Kita perlu menghormati Tuhan bukan hanya dalam satu hal namun dalam segala hal. Dari kitab 2 Yohanes dan 3 Yohanes kita belajar bahwa kebenaran menjadi dasar dan buah dari Kekristenan kita, maka ingin kita terus meningkatkan bagaimana proses penerapan kebenaran itu dalam setiap aspek kehidupan kita.

Kitab Maleakhi ditulis pada 430-420 SM, sejaman dengan Nehemia setelah kembali dari pembuangan di Babel. Setelah tiba di tanah perjanjian di Yerusalem, bangsa pilihan Tuhanpun ternyata tidak menghormati Tuhan dengan cara: memberikan persembahan binatang yang cacat (Mal 1:6-14), mengajarkan pengajaran yang menyimpang dari para Imam (Mal 2:7-8), melakukan kawin campur dan perceraian (Mal 2:11), tidak memberikan persembahan khusus dan persepuluhan (Mal 3:6-12), dan dosa-dosa lain seperti berzinah, pendusta, menganggap sia-sia beribadah kepada Allah, tidak takut kepada Tuhan (Mal 3:5,13-14).

Tetapi Tuhan tidak murka kepada umat Israel melainkan masih mengasihi mereka, sehingga Tuhan:

  1. Bertindak untuk memurnikan (NIV “Refiner” – memperbaiki; KJV “Purge” – menyucikan) umat-Nya (Mal 3:3)
    Tuhan tahu bahwa mereka tidak memberikan persembahan yang benar karena hati mereka tidak benar. Bukanlah apa yang dibawa untuk dipersembahkan yang Tuhan lihat, melainkan kemurnian hati dari umatNya, sehingga tujuan Tuhan agar umatnya dapat memberikan persembahan dengan benar tercapai.
  2. Tuhan tidak berubah kepada umat-Nya (Mal 3:6)
    Orang Israel melakukan tuduhan kepada Tuhan (Mal 2:17). Namun Tuhan tetap mengasihi dan tidak berubah kepada umat-Nya (ay 6).

Permasalahan yang dilakukan oleh bangsa Yehuda dalam Mal 3:8 adalah:

  1. Mereka tidak memberikan Persembahan Khusus
    Persembahan khusus (bhs Ibrani “Terumah”, persembahan kudus – Kel 29:27-28) diwajibkan, karena ini merupakan persembahan atas keselamatan mereka (Im 7:14). Namun di dalam zaman setelah Kristus (Ef 2:15), persembahan ini tidak ada lagi karena telah diaplikasikan dalam pengorbanan Yesus di kayu salib.
  2. Mereka tidak memberikan Persembahan Persepuluhan
    Abraham sudah mempraktekan ini dengan memberikan persembahan kepada Melkisedek (Kej 14:20); juga Yakub (Kej 28:22). Bangsa Israel diwajibkan untuk memberikan persepuluhan (Ul 14:22, Im 27:30), namun mereka melanggar ketentuan ini. Orang Israel dikatakan menipu (bhs Ibrani “khobaim”) Allah. Kata “Khobaim” dipakai dalam Im 3:8 dan Ams 22:23; menjadi kata merampas (KJV “rob” – merampok, merampas). Artinya mengambil sesuatu yang bukan milik kita. Persepuluhan dalam perjanjian baru terdapat pada Mat 23:23 dan Luk 18:12.

Tujuan persepuluhan berdasarkan kitab Perjanjian Lama:

  1. untuk makan bersama orang Israel dengan orang Lewi, dan orang-orang miskin dengan orang Lewi (Ul 14:28-29)
  2. untuk menghidupi orang Lewi

Sebagai satu-satunya suku yang dikhususkan untuk melayani Tuhan, suku Lewi tidak bekerja melainkan hidup dari persembahan persepuluhan 11 suku Israel lainnya. Namun pada zaman Nehemia, karena persembahan perpuluhan tidak diberikan orang-orang Lewi terpaksa meninggalkan pelayanan dan bekerja di ladang (Neh 13:10).

Tempat yang dipilih oleh Allah untuk memberikan perpuluhan dijelaskan dalam Ul 12:5-7, Mal 3:10 yaitu “ke dalam rumah perbendaharaan…”. Dalam perjanjian baru tempat ini dijelaskan sebagai sebuah Gereja dimana kita beribadah dan bukan langsung diberikan kepada Hamba Tuhan (Pdt).

Jika tidak memberi perpuluhan (ay 10-12), maka Allah akan memberikan belalang untuk merusak panen mereka (ay 11), dan tidak memberikan hujan kepada ladang/tanah mereka. Namun, jika orang Israel mau bertobat maka Tuhan akan memberi hujan berkat (ay 10b) dan menyingkirkan belalang dan memberikan buah pada pohon anggur mereka (ay 11).

Motivasi orang Kristen dalam memberi persembahan persepuluhan kepada Tuhan:

  1. Janganlah karena terpaksa tetapi dengan sukacita (2 Kor 9:7).
  2. Janganlah dimotivasi agar dibalas oleh Tuhan (Fil 1:14), namun jadikan Tuhan sebagai prioritas dan cintai Tuhan sebagai hal yang paling utama.

Kesimpulan: Roma 11:36a “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”