Pengkhotbah

Perikop
Yohanes 14:21,23

Ringkasan Khotbah

Kita akan fokus di Lukas 10:25-28. Sejak manusia jatuh dalam dosa, manusia bisa mengasihi diri, tapi mengasihi diri yang egois. Oleh karena itu Tuhan memberikan kedua hukum, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama. Kita bisa membedakan keduanya, tapi tidak bisa memisahkan. Dalam 10 hukum Tuhan, hukum 1-4 berbicara mengenai mengasihi Tuhan, hukum 5-10 berbicara mengenai mengasihi sesama. Doa Bapa Kami juga terdiri dari 2 bagian, berbicara kewajiban kita terhadap Tuhan dan terhadap sesama Apa hubungan antara mengasihi Allah, mengasihi sesama, dan mengasihi diri sendiri? Salah satu alasan kedua hukum ini diberikan adalah supaya kita mengasihi diri kita dengan benar. Kita tidak bisa mengasihi sesama dengan benar kalau kita tidak terlebih dahulu mengasihi Allah. Orang yang mengasihi Tuhan pasti merenungkan dan melakukan Firman-Nya, dan ingin mengenal dengan lebih dalam Tuhan yang dicintainya.

Lukas 10 berbicara mengenai ahli Taurat yang berbicara dengan Tuhan. Sebagai jawaban, Yesus mengutip apa yang tertulis di hukum Taurat. Rasul Yohanes juga berkali-kali mengulang dan menekankan betapa pentingnya memegang dan mentaati Firman Tuhan. (Yoh 14:15; 14:21, 14:23; Yoh15:11, 1 Yoh 5). Seorang misionaris bernama David Brainerd, yang menghabiskan pagi hari dengan membaca beberapa bagian kitab suci dan mendoakan orang Indian berkata “Di dunia ini banyak orang, di antaranya ada sebagian orang Kristen, di antaranya sedikit yang membaca Firman, dan dari antaranya lebih sedikit lagi yang melakukan Firman Tuhan”.

Lirik lagu “Seperti rusa rindu sungai-Mu “diambil dari Mazmur 42. Di awal menyanyikannya, mungkin kita membayangkan situasi yang tenang dan damai. Tapi kalau kita lihat Mazmur 42:4-5, situasinya berbeda, karena latar belakangnya bukanlah situasi damai melainkan bangsa Israel sedang diejek. Jadi pemazmur begitu merindukan Tuhan boleh hadir di tengah-tengah mereka. Elia saat menghadapi nabi-nabi Baal, dia menyusun 12 batu dan menyiram air di atasnya. Air saat itu sangat berharga dibanding emas karena dalam masa kekeringan. Semua yang berharga diberikan kepada Tuhan. Ketika umat Tuhan memberikan yang terbaik, Tuhan memberikan yang terbaik, Tuhan mendatangkan api-Nya. Apakah Firman Tuhan menjadi yang paling berharga bagi kita? Apakah kita sudah membaca, merenungkan, dan melakukannya? Kita sudah sering mendengar, membaca, tapi tidak melakukan.

Dalam kekristenan ada 4 tingkatan pertumbuhan kerohanian:

1. mengasihi diri untuk diri sendiri. Tetapi ketika mengasihi diri sendiri kita bisa egois.

2. mengasihi Allah untuk diri sendiri. Kita semua pasti mengalami hal ini. Ada saatnya orang mengasihi Tuhan karena kebutuhanNya bukan karena pribada Tuhan sendiri.

3. mengasihi Allah karena Allah itu sendiri. Di tahapan ini, kita menyukai pribadi yang menolong kita, dan yang membentuk ini adalah ujian dan penderitaan, seperti halnya Ayub.

4. mengasihi diri sendiri karena Allah. Di sini terjadi kesatuan yang intim dengan Allah. Manusia larut dalam kasih Allah. Ini tidak berbicara bahwa kita menjadi tidak ada, atau diri kita jadi Tuhan. Kasih kepada Allah adalah dasar mengasihi Allah, dan mengasihi diri sendiri.

Kasih kepada Allah tak bisa dilepaskan dari kasih kepada sesama, dan sebaliknya. Dalam Markus 10:17-22, orang muda yang kaya membangun argumen. Yesus meminta dia menjual semua harta dan membagikannya kepada sesama. Seketika argumennya hancur. Di Lukas 10:29 untuk membenarkan dirinya, seorang ahli Taurat bertanya siapakah sesamaku manusia. Ini kebalikan dari orang muda yang kaya. Tuhan Yesus tidak menjawab langsung, tapi memberi cerita orang Samaria yang baik hati. Secara tidak langsung Tuhan mau berkata, tidak usah berkata siapakah sesamaku, tapi jadilah sesama bagi orang lain.

Ketika kita tidak mengasihi Allah kita tidak bisa mengasihi sesama. Demikian juga sebaliknya. Kita mengaku sebagai anak-anak Tuhan. Apakah kita sudah mengasihi Tuhan kita? Apakah kita sudah mengasihi sesama kita? Setelah kita tahu mengenal kasih ini, lakukanlah.