Posted by Yanes Dewangga

Konflik pasti muncul di tengah persekutuan, bahkan dalam rumah tangga sekalipun. Konflik menjadi hal yang lazim semenjak dosa masuk ke dalam dunia. Konflik pertama terjadi di Taman Eden, ketika Adam mempersalahkan Hawa dan Hawa mempersalahkan ular. Abraham dan keponakannya Lot juga mengalami konflik, ketika ternak mereka menjadi sangat banyak sehingga sulit bagi mereka hidup bersama-sama. Abraham mengalah dan mempersilahkan Lot memilih terlebih dahulu tempat tujuannya. Bukan hanya di Perjanjian Lama, tetapi di Perjanjian Baru pun terjadi konflik. Para murid sendiri pernah mengalami konflik ketika mereka mempermasalahkan mengenai siapa yang terbesar di antara mereka.

Pepatah Yahudi berkata: “Kontroversi lebih disukai daripada kuburan yang damai. Melalui kontroversi, kebenaran dikembangkan dan kesalahan dikalahkan. Kunci sebenarnya adalah memandang kepada KEBENARAN”. Martin Luther adalah seseorang yang berani berkonflik untuk membongkar kebusukan dan kebobrokan dalam gereja pada masa sebelum reformasi gereja. Dalam Kisah Para Rasul 15:22-41, Paulus dan Barnabas pernah mengalami konflik (perselisihan) yang tajam. Tetapi setelah konflik tersebut, pelayanan mereka semakin maju. Paulus sendiri kembali menerima dan mengasihi Markus, keponakan Barnabas, yang menjadi alasan Paulus dan Barnabas berselisih. Konflik itu ada dua jenis; konflik positif yang akan memberikan kemajuan atau konflik negatif yang akan mengakibatkan kemunduran. Konflik positif membuat orang bertobat, tetapi konflik negatif membuat orang mundur dari gereja. Konflik pernah terjadi di gereja mula-mula di Antiokhia. Di gereja di Antiokhia ada banyak suku bangsa, misalnya Yahudi dan Yunani. Jadi tidak ada satu gereja pun yang kebal terhadap konflik, bahkan gereja yang pengajarannya sangat baik sekali pun. Iblis selalu tahu bagaimana cara menimbulkan konflik di antara orang-orang Kristen. Anggota gereja di Antiokhia pada masa itu berasal dari golongan orang-orang Farisi yang telah menjadi Kristen dan masih memegang kuat tradisi Yahudi. Mereka mengharuskan orang-orang Yunani yang baru menjadi Kristen untuk disunat (ay. 5). Inilah awal mula timbulnya konflik di gereja Antiokhia.

Bagaimana cara gereja mula-mula ini menghadapi konflik? Mari kita mempelajari satu per satu. ❶ Belajar mengingat akan karya Allah (ay. 12-18). Karya Allah harus mengalahkan hukum-hukum atau tradisi. Ketika konflik tersebut hadir, para rasul memberikan teladan yang sangat baik dengan berkhotbah kepada jemaat tentang karya Allah. Petrus menceritakan tentang keselamatan bagi bangsa-bangsa (ay. 7-11). Lalu Paulus dan Barnabas juga menceritakan keselamatan bangsa-bangsa (ay. 12). Yakobus juga berbicara untuk meneguhkan khotbah Petrus (ay. 13). Kita lihat bagaimana Allah memakai para rasul ini menyampaikan firman Allah. Inilah prinsip yang penting. Orang percaya bisa saja berkonflik, tapi apabila sungguh-sungguh tulus mau dibimbing oleh kebenaran firman Allah, maka akan selalu terbuka jalan damai. ❷ Tegas namun tidak mempersulit (ay. 19-21). Yakobus memerintahkan orang Yahudi untuk berhenti memaksakan sunat kepada orang-orang Yunani yang bertobat. Ini merupakan hal yang sulit. Bagi orang-orang Yahudi, memegang hukum Musa menjadi hal yang sudah mendarah daging (ay. 21). Memang butuh waktu bagi orang Yahudi untuk melepaskan diri dari ikatan-ikatan hukum. Orang-orang Yunani tidak masalah memakan darah, tidak masalah memakan daging binatang yang mati dicekik, memakan daging yang telah dipersembahkan kepada berhala, tapi bagi orang-orang Yahudi hal ini menjadi persoalan. Yakobus dengan bijaksana menasehatkan orang-orang Yahudi dan Yunani untuk belajar berangkulan, menerima satu sama lain, dan saling membangun. Paulus juga menyampaikan dalam 1 Korintus 9:20. ❸ Menunjuk orang-orang yang dapat dipercaya (ay. 22-29). Rasul-rasul dan penatua-penatua memilih Yudas yang disebut Barsabas dan Silas yang juga disebut Silwanus. Mereka bukan hanya pengajar, tapi juga nabi. Orang-orang terpandang menurut Alkitab adalah orang-orang yang dapat dipercaya serta kata-kata dan kesaksian hidup mereka dapat dipegang. Dengan hadirnya orang-orang seperti ini, mereka akan memberikan pengaruh yang membangun kepada jemaat.

Konflik mungkin tidak dapat dihindari, bahkan dalam diri seorang manusia sendiri bisa timbul konflik. Tetapi Apabila orang itu sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, maka akan terbuka jalan untuk kembali kepada kebenaran dan mendapatkan damai sejahtera yang sejati dari Allah.