Posted by Yanes Dewangga

Melalui pembacaan 2 Kor 12, Paulus mengajarkan agar kita belajar menikmati kesusahan, kesesakan dan pergumulan hidupnya, atau merayakan kesulitan dan pergumulan hidupnya itu. Ada masa dimana kita tidak perlu berdoa kepada Tuhan untuk mengambil pergumulan itu melainkan mengijinkan Tuhan untuk kita menjalani atau menikmatinya. Dalam 2 Kor 12, ada hal menarik dari kisah Paulus ini, Paulus berdoa agar Tuhan mengambil masalah hidupnya. Ada 2 sikap batin yang diberikan oleh Paulus yaitu senang dan rela untuk menikmati semua siksaan kesesakan dalam hidup pelayanannya. Godaan yang terbesar dalam diri kita adalah kita sulit menerima kekurangan pasangan kita atau menerima kekurangan anak2 kita yang membuat kita gampang tersinggung, marah atau dongkol, itu menjadi indikator bahwa kita belum berdamai dengan diri kita sendiri. Kita memindahkan kesalahan dalam diri kita kepada orang2 di sekitar kita. Ay. 10 berkata, “sebab jika aku lemah maka aku kuat”. Jadi kekuatan kita adalah saat kita berani menerima kekurangan diri kita, dan menganggap bahwa kekurangan itu adalah aib atau hal memalukan buat diri kita, maka pada saat itulah kita berhenti menuntut orang lain dan berhenti meminta orang lain berubah. Saat kita belum berdamai dengan kekurangan kita, itulah yang menjadi pencetus kita gelisah dengan kekurangan orang2 di sekitar kita, kita menuntut orang lain berubah, yang sebenarnya kita mau mendapatkan kesenangan dari perubahan pasangan atau anak2 kita itu, sementara kita sendiri tidak pernah berubah dari keadaan kita. Jadi ay. 10 membantu kita untuk ❶ sadar, yaitu mengerti, mengenali, dan memahami apa saja kelemahan-kelemahan kita sendiri. ❷ menerima, saat orang menegur kita maka kita tidak marah karena kita berkata, “ya itu kekurangan saya”.

Dalam pengalaman Paulus yang menyebut ini sebagai duri, Tuhan mengijinkan ada duri dalam dagingnya. Seorang penafsir mengatakan bahwa ini adalah gangguan mata pada saat Paulus dipenjara, atau pada saat Paulus membutuhkan kemampuan untuk menuliskan surat-surat kepada Jemaat. Paulus sudah berdoa kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak menyembuhkan penyakitnya. Saya kira setiap kita punya duri, punya area-area kelemahan, area-area sensitif, saya menggunakan kata dalam buku saya adalah Monster yaitu sesuatu yang mengganggu. Ada 3 area monster yang menonjol yaitu ❶ area emosi, ❷ sebagian kita memiliki cara berpikir yang liar dan ❸ sebagian lain ada di dalam kebiasaan2 yang buruk.

Saya memberi beberapa contoh kelemahan2 kita yang kita perlu hari ini berdamai, berani mengakuinya, dan membutuhkan orang lain untuk menolongnya. Dan saya akan sebutkan juga, kira2 dari mana sumbernya. Saya berikan beberapa contoh yang menonjol adalah orang yang bergumul dengan cara berpikir negatif. Kalau melihat satu fenomena selalu melihat yang negatifnya dulu, sebagian orang bergumul dengan area seksual, ada yang begitu mudah terangsang tergoda dengan masalah seksual, pornografi dan ada yang tidak. Sebagian lain ada yang tidak bisa mengontrol keinginan rasa curiga, saya kira sinetron di TV dimana seorang istri yang suka cek isi SMS dari HP suami dan berpikir jauh saat suami atau anak2nya belum pulang2, kemudian berkata “jangan2…mungkin dll”. Ada orang2 yang tidak diperlakukan dengan adil biasanya menjadi orang yang mudah cemburu, sebagian lain ada yang bermasalah dengan harga diri, tersinggung, bahkan dengan masalah2 kecil dapat membuat marah yang besar. Sehingga semua barang dibanting dan dihancurkan. Ada yang memiliki masalah keuangan, bisa sangat boros sekali atau pelit sekali/kikir, atau suka mengambil uang orang lain (korupsi). Ada orang yang memiliki masalah akibat penolakan, sehingga mudah marah jika tidak didengarkan atau ditolak apa yang menjadi keinginannya.

Kita perlu menguatkan hati kita seperti kata-kata dalam Habakuk 3:16-19, jangan lagi kita berdoa Tuhan kuatkanlah hatiku dan hiburkanlah jiwaku, tapi berkatalah aku menguatkan hatiku karena Tuhan, saya akan jalani masalah ini sampai selesai dan menerima kekurangan yang saya miliki. Orang yang berdoa kepada Tuhan dengan berkata “Tuhan jauhkanlah masalah itu dari padaku” adalah contoh orang yang tidak dewasa dalam iman. Itu sebabnya Tuhan berkata kepada Yosua, “kuatkan dan teguhkanlah hatimu, masuklah ke tanah Kanaan….”, Yosua sempat gentar bagaimana dia bisa menggantikan Musa. Ingatlah saudara-saudara, tidak ada orang yang bisa menguatkan hati kita, kecuali kita sendiri menguatkan hati kita didalam Tuhan. Saat kita berjalan dalam lembah kekelaman kita tidak takut bahaya karena gada-Mu dan tongkat-Mu menyertai aku. Percayalah akan penyertaan dan perlindungan Tuhan.