Pengkhotbah

Perikop
Efesus 6:1-9

Ringkasan Khotbah

Manusia tidak dapat lepas dari relasi dengan manusia lain. Oleh karena itu adalah tanggung jawab kita untuk menjalankan relasi ini secara bijak dan sepatutnya. Untuk itu kita membutuhkan tuntunan Roh Kudus untuk diperbaharui. Dalam surat Efesus banyak dijabarkan mengenai karakter hidup baru di dalam Kristus. Di dalam relasi antar manusia pada masa itu, ada sistem dimana kedudukan yang sangat besar dimiliki laki2 atau suami baik dalam keluarga maupun masyarakat. Petunjuk mengenai membangun relasi ini sudah dimulai di Efesus 5:21 dengan “rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain. Inilah dasarnya, keegoisan, keserakahan bisa dihindari. Jenis keserakahan yang sering kali tidak terekspos tapi kuat ada adalah soal kekuasaan. Keserakahan dalam hal kedagingan mudah ketahuan tapi dalam hal kekuasaan sering kali tidak menyolok tapi sangat merusak. Memang salah satu tabiat manusia adalah ingin menguasai sesamanya. Suami terhadap istri, istri terhadap suami, orang tua terhadap anak dan sebaliknya. Dalam gereja pun terjadi, ada orang yg cenderung ingin menguasai orang lain.

Dalam Amsal 27:17 dikatakan “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya”. Satu manusia bukanlah siapa2, orang itu baru terbukti bijak waktu berelasi dengan orang lain. Kita perlu untuk saling mendorong dalam kasih, membuat satu sama lain menjadi bijak dan memposisikan diri secara tepat. Wujud kerohanian adalah dalam mengasihi sesama. Rohani semakin baik hubungan relasi dengan sesama juga makin baik. Dalam Efesus 5:1-2 kita dianjurkan untuk menjadi penurut2 Allah, hidup dalam kasih, dan menghidupi kasih seperti kasih Kristus. Allah menghendaki kita menghidupi kerajaanNya dengan mengasihi satu sama lain. Untuk itu kita perlu takluk dulu kepada kebenaran (2 Tim 3:16). Masalahnya sering kali kita melalaikan kebenaran. Kalau kita lihat sekilas dalam perikop ini, Paulus memberikan petunjuk anak2 taat kepada orang tua di dalam Tuhan (ay. 1), ini memiliki arti khusus bahwa bapak2 perlu untuk mendidik anak2 dalam ajaran Tuhan. Mengenai hamba adalah harus taat kepada tuannya seperti taat kepada Kristus, serta bagi tuan harus ingat mereka memiliki Tuhan yang sama. Artinya relasi didasari pada takut akan Tuhan. Dan juga Bapak atau tuan berperan untuk memberikan ajaran yang baik menurut ajaran Tuhan.

Penekanan Paulus dalam membangun relasi yang harmonis: 1. Anak2 dan orang tua (ay. 1-4). Anak2 harus taat kepada orang tua dalam kebenaran (ay. 1). Jaman ini manusia ingin lepas dari otoritas di atasnya, demikian juga anak2 ingin lepas dari orang tua. Tetapi Alkitab menekankan anak harus takluk kepada otoritas di atasnya termasuk orang tua nya tanpa mengabaikan peran dan posisi anak2. Taatilah menunjukkan tuntutan, ditambahkan lagi ‘karena haruslah demikian’. Maksud Paulus itulah yang benar dan adil. Hanya ada satu jalan yaitu taat kepada orang tua. Efek dari menghormati orang tua adalah bahagia dan panjang umur di bumi (ay. 2). Mengapa, karena di sana ada emosi yang dikendalikan, relasi dengan orang tua makin baik. Tuhan akan memperlengkapi orang tua untuk mendidik anak2. Sehingga bila anak2 taat kepada orang tua merekapun terhindar dari perbuatan2 gelap. Karena itu mereka bisa menikmati kebahagiaan. Orang tua tidak boleh membangkitkan amarah dan harus mendidik dalam ajaran dan nasehat Tuhan (ay. 3). Kekuatan penting dalam kepemimpinan kristen adalah keteladanan Kristus. Kepemimpinan sekuler meski tidak mengakui meniru kepemimpinan Kristen dalam konsep Servant Leadership. Manusia tidak mau lagi mengenai ketaatan teladan hidup di dalam Tuhan sehingga manusia makin sakit dan lemah secara sosial. Di situ butuh sosok teladan. Anak2 mau taat, mau mendengar ajaran, orang tua nya yang harus menjadi teladan. Anak2 melihat teladan orang tua. Jangan memprovokasi mereka untuk marah (ay. 4) maksudnya adalah membuat jengkel, memanas2i, menerapkan disiplin yg salah, kuasa yang berlebihan, tuntutan yg kejam melebih batasan kemauan anak, larangan yang tidak perlu dsb. Orang tua pada waktu menggunakan otoritasnya perlu mengkomunikasikan dengan baik kepada anak2. Didik dalam ajaran dan nasehat Tuhan (ay. 4). Yang sering terjadi sekarang bukan anak yang hilang tapi bapak yang hilang, dalam arti dalam menjalankan perannya, contohnya jam kerja panjang. Hati bapak harus berpaling pada hati anaknya agar dapat membawa hati anak kepada hati Juruselamatnya. Anak perlu dipersiapkan sejak kecil menjadi murid Kristus.

2. Hamba dan tuan (ay. 5-8). Istilah hamba ada yang dipakai disini adalah doulos, seorang hamba yang menjadi budak dari orang lain. Taatilah dengan takut dan gentar tapi jangan cuma di depannya saja (ay. 5). Ada orangnya atau tidak, kerja dengan serius dan tulus hati. Tidak mudah, karena kadang kita melayani dengan motivasi tertentu. Seorang hamba cenderung bekerja karena terpaksa. Terhadap itu Paulus berkata bekerja seperti melayani Tuhan. Upahnya nanti dari Tuhan. Dalam 1 Tim 6:1 dikatakan dengan segala penghormatan : pengabdian penuh. Mengenai tuan, ada 2 jenis tuan, tuan orang percaya, mungkin mereka baik, dan ada tuan yang bengis, kejam (1 Ptr 2:18). Terhadap yg bengis pun harus menghormati. Tuan2 wajib bersikap seperti hamba2, saling menghargai, menjadi teladan bagi hamba2Nya. Contoh tuan yang tidak bijak adalah Laban terhadap Yakub, dikatakan Laban pernah mengubah upah Yakub sepuluh kali. Jauhkanlah ancaman (ay. 9). Tuan2 cenderung mengancam bawahannya. Karena itu Paulus berkata hormatilah mereka, dengan penuh kelembutan dan sikap kemanusiaan.Seperti itu jugalah layaknya dalam gereja, saling menghargai. Jangan melihat manusia dari sisi sosial ataupun kelayakan seseorang dihormati. Gereja harus menjadi tempat pendidikan relasi yang baik. Sementara keluarga adalah tempat praktek berelasi. Relasi sejati tidak bisa dibangun dalam ancaman dan tuntutan tapi dalam kasih. Teladan kita adalah Kristus yang meski adalah Tuhan turun ke dunia menjadi hamba.