Posted by Admin GIII Tokyo

Dalam segala aspek kehidupan kita (rumah tangga, gereja, keseharian), kita harus berjuang membangun pola pikir rohani. Sebuah komunitas akan menjadi ‘solid’ apabila di dalamnya orang-orang mempunyai pola pikir yang bersifat rohani, yang sesuai kebenaran Firman Tuhan. Manusia cenderung mencari kemudahan hidup dan mengikuti gaya hidup konsumtif, dan cenderung memuaskan keinginan pribadinya dengan berbagai kemudahan yang tersedia di zaman sekarang. Karena gaya hidup seperti ini maka mulailah muncul berbagai penyakit seperti obesitas dan diabetes. Gaya hidup yang ingin “mudah” dan memuaskan keinginan pribadi juga menggerogoti kehidupan bergereja. Apabila hujan turun, malas ke gereja, apabila tempat Persekutuan Doa jauh, malas pergi. Bahkan ada juga orang Kristen yang berpendapat bahwa kita tidak perlu lagi pergi ke gereja karena kita dapat mendengarkan Firman Tuhan dari internet. Apabila setiap orang memiliki pemikiran seperti ini, gereja akan menjadi sepi dan arti persekutuan dengan Allah dan saudara/i seiman menjadi tidak ada lagi.

Tuhan Yesus sudah meninggalkan sebuah teladan yang sesuai dengan kehendak Allah, yang darimananya kita dapat belajar untuk membangun pola pikir rohani. Efesus 4:17-32: nasehat Paulus kepada jemaat Efesus untuk belajar membangun pola pikir rohani. Di ayat 17-18, Paulus menyebutkan bahwa orang yang tidak mempunyai pola pikir rohani adalah orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia, pengertiannya yang gelap, jauh dari persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalamnya dan karena kedegilan hatinya. Dalam Roma 1:21-32, Paulus juga menyebutkan dengan terperinci kepada jemaat di Roma gaya hidup orang-orang yang tidak mempunyai pola pikir rohani. Roma 1:21: Paulus dengan jelas menyebutkan bahwa sekalipun manusia mengenal Allah, manusia tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebagai orang-orang yang mengaku sudah menerima Kristus, kita harus terus-menerus memeriksa hati kita: “Apakah hati kita adalah hati yang murni dan berkenan di hadapan Tuhan?” Merupakan hal yang tragis apabila kita mengaku Kristen dan terlihat begitu saleh di gereja, namun sebenarnya hati kita jauh dari Tuhan. Untuk mengecek kondisi kerohanian kita, kita perlu bercermin dan memeriksakan diri kita kepada Tuhan. Apabila kita mempunyai hati yang kosong setelah ibadah, malas berdoa, malas membaca Firman Tuhan, kita perlu dan harus berdoa kepada Tuhan: “Tuhan, selidiki hati hamba, koreksi hati hamba.” Kita harus dengan penuh komitmen memotivasi diri untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari, berdoa, dan mengikuti ibadah dengan teratur. Melalui hal-hal inilah kita dapat mempunyai pola pikir rohani. Kita membutuhkan komitmen yang kuat yang hanya dapat diteguhkan oleh Roh Kudus.

Dalam Efesus 4:20, kata “belajar” dalam bahasa Yunani disebut “matetes” yang artinya “murid”. Dengan demikian, dasar untuk memiliki pola pikir rohani adalah menjadi murid Kristus. Dengan menjadi murid, kita dididik untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh Kristus. Untuk disebut sebagai murid Kristus sejati, kita harus mengenal Kristus, mendengarkan Kristus, dan menerima pengajaran dari Kristus (Efesus 4:20-21). Kata “mengenal” dalam Efesus 4:20 ini mempunyai makna yang begitu dalam. “Mengenal” Kristus bukan hanya mengetahui siapa Kristus dari luar, namun kita mengenal Kristus dari dalam dan juga sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dan kebersamaan dengan Kristus. Ketika kita sungguh-sungguh menerima Kristus, itu adalah awal membangun pola pikir rohani. Kita harus terus belajar membangun pola pikir kita yang sungguh-sungguh sesuai dengan kehendak Allah. Kita harus menjadi murid Kristus yang sejati, yang menempatkan pola pikir seperti pola pikir Kristus. Beberapa tanda hidup baru adalah mempunyai perasaan baru, mempunyai prinsip dan karakter yang baru, dan mempunyai pola pikir yang baru yang seperti Kristus walaupun tubuh adalah tubuh yang sama. Ketika kita menempatkan pola pikir kita di dalam Kristus, maka kita akan senantiasa berjalan di dalam kehendak Allah. Kita harus berhati-hati apabila kita menjadi orang-orang yang begitu tekun menjalankan pelayanan tanpa berpikir secara rohani, maka kita akan menjad orang yang hanya merongrong pelayanan dan menjadi batu sandungan bagi orang lain.