Posted by Yanes Dewangga

Kehendak Tuhan bagi kita dapat dibagi dua:

1. Kehendak
Tuhan secara umum: berlaku bagi semua orang khususnya semua orang Kristen
seperti memberitakan Injil, menjadi saksi Kristus.

2. Kehendak
Tuhan secara khusus: diberikan pada tiap orang secara khusus dan bisa berbeda
dari orang lain. Kehendak khusus tidak mungkin terpisah daripada kehendak umum
tetapi justru melengkapi.

Kita perlu menggumulkan dan mencari tahu apa kehendak
Tuhan bagi kita secara umum maupun secara khusus. Kehendak khusus biasanya disebut
panggilan atau pengutusan Tuhan. Panggilan ini bukan hanya untuk menjadi
pendeta atau misionaris, tetapi mungkin juga panggilan untuk menjadi ilmuwan
atau dosen, ataupun profesi-profesi lainnya. Sebagai orang Kristen kita harus
menggunakan hidup kita bukan untuk melakukan kehendak manusia tetapi kehendak
Allah.

Keluaran 4:18-31: tujuan panggilan Tuhan secara khusus
buat Musa yaitu untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir dan
supaya bangsa Israel beribadah kepada Tuhan. Ketika Musa berusaha membebaskan
orang Israel dari perbudakan dengan kekuatannya sendiri, dia gagal total.
Sehingga ketika ada panggilan khusus dari Tuhan untuk kedua hal ini, dia sampai
berkali-kali menolak, tetapi Tuhan berkali-kali menegaskan panggilan Tuhan ini
sehingga akhirnya Musa mau melakukannya.

Ketika Musa dipanggil Tuhan untuk diutus, dia sedang
bekerja menggembalakan domba Yitro, mertuanya. Panggilan Tuhan menuntut dia
untuk meninggalkan pekerjaannya dan tempat tinggalnya selama 40 tahun. Keluaran
4:18: Musa tidak langsung meninggalkan pekerjaannya untuk melakukan panggilan
Tuhan, tetapi dia meminta secara sopan dan hormat kepada mertuanya izin
terlebih dahulu. Karena sikap ini dan juga tentunya karena Musa melakukan
pekerjaannya dengan baik maka Yitro percaya dan dengan senang memberikan izin
kepada Musa. Inilah teladan yang harus kita ikuti. Kita perlu minta hikmat
Tuhan untuk kapan menjawab panggilan Tuhan dan janganlah kita menunda-nunda
ataupun lari dari panggilan Tuhan.

Keluaran 4:24: Tuhan berikhtiar (berusaha) untuk membunuh
Musa ketika dia dalam perjalanan ke Mesir. Tidak tertulis secara jelas alasan
Tuhan mau membunuh Musa tetapi setelah Zipora, istri Musa, menyunat anaknya,
Tuhan membiarkan Musa. Ada kemungkinan bahwa Musa tidak menyunat anaknya yang
kedua (sunat adalah perjanjian antara Abraham dengan Tuhan yang harus dilakukan
turun temurun oleh bangsa Israel) karena sudah berkompromi dengan lingkungan
kebudayaan istrinya yang tidak percaya Tuhan. Tuhan tidak senang dengan hal ini
dan mengingatkan Musa untuk membereskan hal ini. Walaupun Musa bisa dibilang
sangat dekat dengan Tuhan tetapi kedekatan ini tidak membuat Musa mendapat
pengecualian dari Tuhan. Justru semakin kita dekat kepada Tuhan, Tuhan semakin
ingin kita melakukan setiap apapun yang Tuhan perintahkan.

Dalam pengutusan Tuhan, kita perlu meneladani Musa dengan
melakukan dua hal yaitu membereskan urusan dengan manusia dan urusan dengan
Tuhan. Dan Keluaran 4:18-31 mengajarkan kita bahwa ketika manusia mulai
melangkah maju dengan iman untuk melaksanakan pengutusan Tuhan, maka Tuhan akan
memperlengkapi dengan firman-Nya.

(AS/06/09)