Ringkasan Khotbah

Lebih kurang 3 bulan yang lalu, telah dikhotbahkan mengenai istilah manusia super, yaitu manusia yang telah mengalami sunat secara rohani (pertobatan) dan melakukan perkara-perkara rohani (hal-hal yang menyenangkan hati Allah).

Jemaat Kolose menghadapi tantangan-tantangan dalam pertumbuhan rohani yang berasal dari luar diri mereka, yaitu ajaran-ajaran sesat, dan juga yang berasal dari dalam diri mereka, yaitu keinginan-keinginan duniawi untuk berbuat dosa. Rasul Paulus menyebut jemaat Kolose sebagai orang-orang yang telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya (ayat 9) yang mengindikasikan bahwa jemaat Kolose adalah orang-orang yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Namun, masih ada sifat-sifat manusia lama yang masih tinggal dalam hati mereka; hidup mereka belum menggambarkan arti pengikut Kristus sebenarnya. Firman Tuhan kepada jemaat Kolose sangat relevan dengan kehidupan orang-orang Kristen di zaman sekarang karena orang-orang Kristen zaman sekarang juga menghadapi tantangan-tantangan yang sama, baik yang berasal dari luar maupun dari dalam diri mereka. Kita dapat memahami kata “menanggalkan” dalam kalimat “menanggalkan baju” yang berarti “melepaskan”. Dalam perikop ini, “menanggalkan” dapat dipahami sebagai  “mematikan”: mematikan segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala (ayat 5) dan “membuang”: membuang marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulut (ayat 8).

Salah satu contoh manusia lama yang masih tinggal dalam jemaat Kolose yang juga masih banyak terdapat dalam orang Kristen zaman sekarang adalah sifat marah (ayat 8). Sebagai orang Kristen, bukan berarti kita tidak boleh marah. Allah sendiri juga marah atau murka. Yang menjadi masalah adalah bahwa marah kita berbeda dengan marah Allah. Marah Allah adalah marah yang kudus, sementara marah kita seringkali bersifat menyakiti sesama kita dan menghakimi berdasarkan pemandangan kita sendiri. Penghakiman itu adalah hak Allah, bukan hak kita. Apabila kita marah, janganlah sampai kita berbuat dosa (Efesus 4:26). Dalam jemaat Kolose, salah satu indikasi adanya sifat marah ini adalah munculnya perselisihan di antara jemaat.

Filsuf Friedrich Nietzsche berkata bahwa moral Kristiani adalah moral budak, sementara moral manusia seharusnya adalah moral tuan. Filosofi ini juga dianut oleh Adolf Hitler. Orang Kristen tidak mengikuti filosofi dunia (Roma 12:2). Kita harus tampil beda dengan meninggalkan pakaian lama kita. Dalam proses menanggalkan pakaian lama ini, ada proses metamorfosis, layaknya metamorfosis yang terjadi pada kepompong sebelum menjadi seekor kupu-kupu. Orang Kristen yang sudah meninggalkan manusia lama harus mengalami metamorfosis dimana hidup orang Kristen menjadi lebih indah dipandang orang lain. Kerohanian orang Kristen harus semakin baik dan karakter orang Kristen “disukai dan semakin disukai” orang lain.

Dalam perikop ini, dua kata kunci untuk menjadi manusia super adalah “menanggalkan” (ayat 9) dan “mengenakan” (ayat 10). Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Namun, gambar dan rupa Allah dalam diri kita telah dirusak dan dikotori oleh dosa. Sebagai orang-orang yang sudah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita harus diperbaharui terus-menerus agar gambar dan rupa Allah yang telah rusak pada diri kita diperbaiki dan pada akhirnya dalam tuntunan kasih karunia Allah, gambar dan rupa Allah dalam diri kita semakin jelas dan semakin jelas. Inilah proses “menanggalkan manusia lama” dan “mengenakan manusia baru” tersebut.  Dalam ayat 12-15, disebutkan beberapa “pakaian baru” yang orang percaya harus kenakan, yaitu: belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, pengampunan, kasih sebagai pengikat, dan senantiasa bersyukur.

Hanya Allah yang memampukan kita untuk bisa memakai pakaian baru ini. Untuk meninggalkan manusia lama, kita harus berjuang dengan pertolongan kasih karunia Tuhan. Untuk memiliki damai sejahtera, mari kita meninggalkan pakaian lama dan mengenakan pakaian baru. Salah satu langkah praktis dalam kehidupan berjemaat adalah dengan mengucapkan kata-kata yang menjadi berkat, mengucapkan kata-kata yang membangun, mengucapkan kata-kata yang penuh pujian dan mazmur,  yang penuh ucapan syukur kepada Allah. Marilah kita memakai pakaian baru untuk kemuliaan Tuhan.