Pengkhotbah

Perikop
Yohanes 19:1-15

Ringkasan Khotbah

“Lihatlah manusia itu”. Kalimat ini diucapkan oleh Pilatus ketika Yesus ditangkap dan diadili. Pilatus adalah seorang Romawi yang ditugaskan menjadi kepala daerah di daerah Yudea. Dia sekaligus menjadi seorang hakim yang begitu teliti dan tegas. Pilatus sendiri berkata bahwa dia tidak mendapati kesalahan pada Yesus, namun Yesus tetap disalibkan. Mengapa Yesus “harus” disalibkan? Menurut tradisi Yahudi, setiap tahun hewan korban harus dipersembahkan untuk menebus orang berdosa. Kitab Ibrani 10:1-3 mengingatkan bahwa pengorbanan yang dilakukan berulang-ulang tersebut bukanlah hakekat keselamatan. Mempersembahkan korban tidak mempunyai nilai keselamatan yang sebenarnya. Korban-korban itu mengingatkan orang-orang Yahudi akan dosa-dosa mereka. Ke-Kristen-an tidak dibangun di atas korban-korban hewan tersebut, tetapi dibangun atas dasar karya Kristus. Keselamatan dari Allah merupakan hal yang begitu penting bagi anak-anak Allah. Yohanes Pembaptis menegaskan dalam Yohanes 1:29 “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia”. Kalimat ini merangkum semua nubuatan para nabi dalam Perjanjian Lama mengenai karya Yesus Kristus, Anak Allah, yang datang untuk menebus orang-orang pilihan Allah. Kembali kepada kalimat “lihatlah manusia itu”, kata manusia di sini mempunyai beberapa makna: ❶ Yesus yang dihinakan (ay. 1-3). Yesus disesah (dicambuk). Orang banyak berteriak supaya Yesus disalibkan walaupun Pilatus tidak mendapati kesalahan pada Yesus. Namun akhirnya Pilatus kalah dan mengikuti kemauan orang banyak. Yesus diserahkan kepada orang banyak untuk diperlakukan semau mereka. Yesus dihukum menurut tata cara Romawi. Dalam tradisi Romawi, ada 3 jenis pencambukan, yaitu (1) Fustigation (hukuman ringan, berupa kata-kata yang dianggap sebagai cambukan); (2) Flagellation (pencambukan brutal yang diberikan kepada pelanggar hukum yang lebih berat); serta; (3) Verberatio (pelanggar hukum diikat dan dicambuk dengan cambuk yang dipasangkan logam besi untuk mengoyak dagingnya. Yesus mengalami penyiksaan verberatio ini). Karena begitu beratnya siksaan dan penderitaan yang dialami Yesus, Yesus tidak kuat lagi memikul salibNya ke Golgota. Penderitaan yang dialami Yesus merupakan penghinaan yang begitu besar. Selain dicambuk, Yesus juga dipasangi mahkota duri. Duri identik dengan simbol kutukan (Kejadian 3:17-18). Yesus juga dipasangi jubah ungu dimana warna ungu identik dengan pakaian kerajaan. Para prajurit memasang jubah ungu kepada Yesus untuk mengolok-olok Yesus. Mereka bahkan menampar Yesus. Ironinya, penderitaan Yesus ini merupakan konspirasi dari orang-orang yang menyebut diri mereka pemimpin agama Yahudi. Mereka marah karena Yesus berkata bahwa Dia adalah Anak Allah. Para pemimpin agama Yahudi menggunakan tangan pemimpin Romawi untuk membunuh Tuhan Yesus. Para pemimpin agama Yahudi ini adalah orang-orang yang katanya saleh dan taat beribadah. Tetapi, gedung pengadilan Pilatus telah mereka kotori dengan kemunafikan mereka. Mereka ingin terlihat bersih, supaya layak merayakan Paskah. Tuhan sangat membenci kemunafikan. Sebagai orang Kristen, kita harus berhati-hati akan kemunafikan. ❷ Yesus yang difitnah (ay. 4 dan 6). Yesus adalah suci dan benar. Yesus tidak berbuat dosa. Dan Pilatus sendiri juga telah menyatakan bahwa dia tidak mendapati kesalahan apapun pada Yesus. Kalimat ini diungkapkan sendiri dengan penuh kesungguhan oleh Pilatus. Pilatus merupakan pribadi yang kasar, keras kepala, pendendam, melakukan suap, dan penuh kedengkian. Banyak orang takut pada Pilatus. Tiga kali Pilatus mengungkapkan bahwa Yesus tidak ada kesalahan. Inilah bukti bahwa Tuhan kita memang kudus, tanpa cela dan kesalahan, inilah pernyataan Pilatus, seorang hakim yang jahat. Tetapi Pilatus lebih mencintai kehormatan dan pujian manusia daripada menghormati Allah. Akhirnya, Pilatus menyerahkan Yesus untuk disalibkan. Salah satu teriakan dari orang banyak adalah apabila Yesus dibebaskan, maka Pilatus bukanlah sahabat kaisar. Pada masa itu, kaisar yang memerintah Romawi adalah Kaisar Tiberius. Kaisar ini terkenal sangat kejam dan mencurigai siapapun, termasuk istri dan anaknya sendiri. Pilatus sendiri takut kepada Kaisar Tiberius. Baik Pilatus maupun Tiberius bukanlah orang-orang yang takut akan Tuhan. Seseorang yang takut akan Tuhan mempunyai hati nurani yang bersih dan jujur di hadapan Allah, mengasihi Allah dan berkeinginan menyenangkan hati Allah, bukan mengejar kehormatan dan pujian dari manusia. ❸ Yesus yang rela mati (ay. 10-11). Pilatus sempat bertanya mengenai asal-usul Yesus, tetapi Yesus diam. Sikap diam Yesus ini merupakan bentuk kesabaran sehingga firman Allah dalam Yesaya 53:7 digenapi: “Seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya”. Yesus bukan tidak berdaya apa-apa, tapi Yesus menyerahkan segala sesuatu kepada kehendak Allah Bapa. Semakin bertumbuh iman orang percaya, semakin kuat orang tersebut menghadapi penderitaan. Dalam ayat 10, Pilatus mengatakan bahwa dia mempunyai kuasa untuk melepaskan atau menyalibkan Yesus, namun Yesus menjawab di ayat 11 bahwa Pilatus tidak mempunyai kuasa apa-apa atas Yesus. Yesus tidak memanfaatkan kesempatan dialog dengan Pilatus sebagai sarana untuk membebaskan diri. Kata-kata dan tindakan Yesus telah membuktikan bahwa Yesus secara sukarela memilih menderita menurut kehendakNya demi menyelamatkan umat manusia yang berdosa. Sadarkah Bapak, Ibu, Saudara/i akan dosa-dosa pribadi dan membutuhkan Yesus Kristus sebagai Juruselamat?