Pengkhotbah

Perikop
Keluaran 1:8-2:2

Ringkasan Khotbah

Berbicara tentang kitab Keluaran ini, di tengah kita hidup di dunia ini, apakah kita ma uterus hidup tersesat dalam dunia ini, anyak orang tidak tahu bagaimana mereka harus hidup. Jika kita melihat kembali tentang masa kegelapan yang terjadi atas bangsa Israel, kita bisa melihat bahwa: ❶ Kerja paksa – penindasan (Kel. 1:11), hal ini mengisahkan tentang bagaimana bangsa Israel berada dalam zaman penjajahan dan penindasan oleh bangsa Mesir di bawah pemerintahan Firaun. ❷ Kepahitan hidup (Kel. 1:14), raja Firaun berusaha menanamkan kepahitan dalam hidup orang Israel melalui tekanan fisik dan kerja rodi. ❸ Pembunuhan bayi laki-laki (Kel. 1:16), sebuah strategi raja Firaun untuk menghabiskan keturunan orang Israel dari tanah Mesir. Dengan keadaan di atas, kita sering menemukan kata keputusasaan yang keluar dari mulut bangsa Israel yaitu “How long, o Lord?” (berapa lama lagi ya Tuhan?), sebuah pernyataan yang sering juga keluar dari mulut orang Kristen disaat kita berada dalam ketidakpastian, tekanan hidup dan penderitaan.

Hidup manusia sendiri diawali dengan penciptaan (Kej. 1) dan kematian (Kej. 50), dikatakan dalam Mazmur 90:10 bahwa “masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” Dapat kita pahami bahwa sebenarnya hidup manusia itu penuh dengan kesukaran dan penderitaan, namun hal itu bukanlah sebuah halangan atau masalah, melainkan sebuah kebanggan kita sebagai orang Kristen bahwa ditengah kesukaran dan penderitaan itu, masih ada anugerah besar yang diberikan Tuhan kepada kita anak-anakNya.

Kita bisa melihat kembali kisah kehidupan umat pilihan Allah, seperti kisah Abraham, Ishak dan Yakub, begitu juga dengan kisah Musa yang ditekankan dalam Ibrani 11:23, dikatakan Karena iman maka Musa, setelah ia lahir, disembunyikan selama tiga bulan oleh orang tuanya, karena mereka melihat, bahwa anak itu elok rupanya dan mereka tidak takut akan perintah raja.” Dua kata yang menjadi kunci yaitu “karena iman” dan “mereka tidak takut”, dengan kata tersebut kita bisa belajar bagaimana iman dapat mengalahkan segala rasa ketakutan dan kekhawatiran yang ada dalam kehidupan umat Tuhan. Bagaimana dengan kehidupan kita, disaat kita berada dalam kondisi penuh dengan penderitaan dan masalah, apakah kita berani berkata dengan iman bahwa kita tidak takut dan tidak putus asa?

Kembali dalam Kel. 1:17-21, “Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup.” Bagaimana Tuhan begitu memelihara kehidupan para wanita orang Israel sehingga mereka dihalaukan dari tindakan kejam raja Firaun untuk membunuh para bayi laki-laki mereka, bukan sebuah kebetulan seperti yang disaksikan oleh para bidan-bidan Mesir itu, “Sebab perempuan Ibrani tidak sama dengan perempuan Mesir; melainkan mereka kuat: sebelum bidan datang, mereka telah bersalin.”  Bagaimana dengan kita, apakah kita mau hidup dengan selalu mensyukuri perlindungan Tuhan dalam hidup kita melalui hal-hal kecil dan besar yang Tuhan nyatakan dalam kehidupan kita?

Kita perlu menjadikan sejarah kehidupan kita sebagai sejarah dari God’s Story (kisahnya Tuhan). Jika saat memasuki “masa penderitaan” kita sering berkata “How long, o Lord?” (berapa lama lagi penderitaan ini akan berlalu ya Tuhan?), bagaimana dengan saat dimana kita berada dalam “masa kesenangan”, apakah masih ada ucapan syukur keluar dari mulut kita? Ingatlah bahwa kesenangan, kesuksesan bukanlah hasil dari kepintaran dan kehebatan kita tetapi karena anugerah Tuhan. Marilah disaat kita berada dalam masa diberkati, kita mau juga memberkati orang lain disekitar kita.