Pengkhotbah

Perikop
Keluaran 21:1-32

Ringkasan Khotbah

Keluaran 21-23 membahas peraturan Tuhan, yang berbeda dari firman, perintah, atau titah yang dibahas di pasal sebelumnya. Peraturan ini adalah peraturan dalam hidup bermasyarakat yang berlaku bagi orang Israel pada waktu itu, tapi kita dapat merenungkan esensi dan penerapannya di masa kini.

1.    Tentang perbudakan (ayat 1-11, 20-21, 26-27). Alkitab mengatur tentang perbudakan. Namun, kalau kita memperhatikan apa yang ditulis Alkitab dengan baik, kita akan menemukan bahwa apa yang diatur Alkitab sangat berbeda dengan yang diatur di dunia ini.

–    Perbudakan di dunia memberikan kuasa penuh kepada sang tuan, sehingga dapat melakukan apa saja terhadap sang budak, termasuk nyawa budak tersebut. Kondisi ini terus berlangsung selama berabad-abad dan di berbagai tempat.

–    Perbudakan di Alkitab tidak seumur hidup, tetapi hanya 6 tahun. Setelah itu, budak itu bebas (dengan keluarganya) tanpa membayar apapun. Untuk budak perempuan yang diambil sebagai istri tidak boleh dibuang sembarangan, tetap harus diberi makan, pakaian dan persetubuhan. Kalau tidak mau, harus mengijinkan dia ditebus oleh orang lain yang bukan orang asing. Kalau dijadikan istri anaknya, harus dianggap sebagai anak perempuan. Tuan yang memukul budak sampai mati harus dihukum. Kalau sang tuan melakukan sesuatu yang merusak mata/gigi (yang berharga dan tidak berharga), sang budak boleh bebas. Di sini terlihat perbedaan prinsip yang sangat mendasar antara Firman Tuhan dengan dunia ini. Walau Alkitab berbicara mengenai perbudakan tetapi Alkitab tidak menyetujui perbudakan di dunia ini, di mana yang dilindungi secara hukum adalah tuannya saja. Peraturan Allah mengatur apa batasan tuan terhadap budaknya.

–    Esensi dan penerapan. Manusia di dunia ini cenderung berlaku semena-mena terhadap orang yang lebih lemah. Namun Alkitab mengajarkan kita untuk tidak menjadi sama dengan dunia ini. Alkitab tidak menghapus perbudakan tetapi budak di Israel mempunyai kehidupan yang berbeda. Jika kita menjadi orang yang lebih kuat, mari kita menjadi orang yang berbeda dan memperlakukan orang yang lebih lemah dengan baik dan tidak semena-mena.

2.    Tentang hukuman:
–    Hukuman mati (ayat 12-17) bagi orang memukul orang lain hingga mati secara sengaja, memukul ayah dan ibu, menculik manusia, mengutuki ayah dan ibunya. Ayat 15 dan 17 mengatur tentang hubungan dengan orang tua, yang terkait dengan titah ke-5. Banyak orang yang stres karena punya masalah dalam hubungan anak-orang tua atau bawahan-atasan. Ketidakcocokan dengan orang tua atau atasan adalah sesuatu yang wajar karena ada perbedaan umur dan pengalaman. Yang perlu dilakukan adalah mencoba memahami/menghargai dan mempunyai hubungan yang baik dengan mereka. Bagaimanapun juga kita tidak boleh menyimpan akar pahit terhadap orang tua dan atasan. Mari kita menghormati orang tua kita bagaimanapun kondisi mereka.

–    Hukuman ganti rugi (ayat 18-32) untuk tindakan yang membuat orang sakit/tidak dapat bekerja berupa biaya pengobatan sampai sembuh (ayat 18-19), dalam hubungan tuan dan budak (ayat 20-21), karena keguguran kandungan/lahir prematur (ayat 22-23; kata keguguran bahasa aslinya ’keluar dari kandungan’), untuk kematian/kerugian karena binatang peliharaan (ayat 28-32).

–    Esensi dan penerapan. Peraturan mengenai hukuman ini memberitahukan bahwa Tuhan sangat menghargai nyawa manusia. Peraturan mengenai hukuman ini membahas mengenai batasan maksimal hukuman. Tuhan Yesus menjelaskan mengenai hal tersebut dalam Matius 5:38-39. Banyak orang salah menafsirkan sebagai standar untuk menghukum/balas dendam termasuk ahli taurat / orang Farisi. Lebih jauh lagi, sebenarnya Tuhan ingin agar kita meng- ampuni dan jangan mem- balas. Mari kita terapkan prinsip aturan ini.

(ML/09/10)