Ringkasan Khotbah

Renungan kita mengenai hidup bersama dilanjutkan dengan peraturan mengenai Allah dan pemuka.

1.    Jangan mengutuki Allah (ay. 28a). Makna luas :
–    Menghujat Allah (Imamat 24:11,16). Mengatakan hal-hal yang kotor, kasar, kurang ajar, ataupun tidak benar mengenai Tuhan Allah. Contoh mengatakan hal-hal yang tidak benar: waktu kita dalam kesulitan kita berteriak Tuhan jahat, tidak adil. Ini sudah termasuk menghujat Allah.

–    Memandang rendah Allah. Termasuk mengabaikan peraturan dan ancaman Tuhan. Di bagian sebelumnya tertulis bahwa Tuhan benci orang yang menindas orang lemah. Ketika kita menindas orang lemah artinya kita juga memandang rendah Tuhan dengan mengabaikan ancaman-Nya.
Kita dapat membiasakan diri bernyanyi memuji Tuhan ataupun mendengarkan lagu rohani ketika senang ataupun susah supaya tidak jatuh dalam dosa mengutuki Tuhan.

2.    Jangan Menyumpahi Pemuka (ay. 28b). Kita harus menjaga untuk tidak mengeluarkan kata-kata kasar, kurang ajar atau memandang rendah pemimpin bangsa. Di Israel jaman itu, pemimpin bangsa sekaligus pemimpin agama (Kis 23:5) dan sosial (Roma 13:1). kita pun harus menghormati pemimpin agama dan sosial. Walaupun pemimpin kita tidak baik, kita tetap harus menjaga untuk tidak menyumpahi pemimpin. Sebaliknya mari kita doakan pemimpin-pemimpin bangsa, rohani dan sosial di sekitar kita dan juga pembesar-pembesar di bawahnya (1 Timotius 2:1-3).

3.    Mempersembahkan Hasil (ay. 29-30). Persembahan buah sulung (Imamat 23:10). Bagi bangsa Israel ada 4 manfaat persembahan buah sulung: 1) mengingatkan akan keselamatan dari Tuhan yang telah mengeluarkan mereka dari di Mesir (Ulangan 26:2-10); 2) keberhasilan mereka mengembangkan harta milik mereka adalah berkat Tuhan dan mereka bisa bersyukur. (Ulangan 16:12); 3) Ada janji berkat Tuhan yang berlimpah bagi yang mau memberi persembahan buah sulung (Amsal 3:9-10); 4) Ini adalah cara Tuhan memelihara orang-orang yang tidak punya tanah dan tidak bisa menghasilkan panen (orang-orang Lewi, orang asing, janda dan anak yatim) di antara masyarakat Israel.

Kata “lalai” (Keluaran 22:29) mengandung arti menahan-nahan atau berlambat-lambat. Kalau orang Israel lambat memberikan persembahan buah sulung maka orang-orang di atas akan kekurangan. Karena itu kita perlu buat prioritas yang benar atas semua penghasilan yang kita terima yaitu yang pertama adalah memberikan persembahan kepada Tuhan dan yang kedua adalah kebutuhan hidup.

4.    Menjadi orang kudus bagi Allah (ay. 31). Kudus artinya terpisah, dikhususkan, dibedakan untuk Tuhan. Kita harus berani untuk jadi orang yang berbeda dengan orang dunia yang tidak percaya kepada Yesus. Kalau hidup kita sama persis dengan orang-orang dunia yang tidak percaya, berarti kita belum menjadi orang kudus. Orang yang kudus bagi Tuhan datang tiap minggu beribadah di gereja, berjuang untuk memberi persembahan. Ay. 31b: Banyak ahli menafsirkan waktu ternak dibunuh binatang buas, darahnya tidak dicurahkan ke tanah sesuai peraturan yang berlaku di antara orang Israel. Ini juga cara Tuhan melindungi bangsa Israel karena binatang buas mungkin memiliki kuman penyakit.

Tapi ada arti yang lebih mendalam yang ingin diajarkan (ay. 31a) yaitu kita perlu hidup kudus juga dalam kegiatan sehari-hari (seperti makan, dsb), bukan hanya waktu beribadah di gereja saja. Orang tidak percaya Tuhan belajar untuk dapat pekerjaan baik, tetapi orang Kristen belajar untuk menimba ilmu supaya bisa dipakai Tuhan di ladang pekerjaan. Orang non-Kristen bekerja untuk mencari nafkah, tapi orang Kristen bekerja mengerjakan tugas yang sudah Tuhan berikan dan menjadikan- nya kemuliaan Tuhan.

(JW/12/10)