Pengkhotbah

Perikop
Mazmur 3:1-9

Ringkasan Khotbah

Tema renungan hari ini adalah “lebih dari pemenang”, yang dapat diartikan sebagai yang “terhebat di antara yang hebat”, “yang paling mahir di antara yang mahir”, “yang sudah lulus dengan nilai terbaik”. Tapi, definisi ini adalah definisi menurut sudut pandang dunia. Menurut firman Allah, pemenang bukanlah yang terhebat, termahir, tersukses, tetapi seorang pemenang adalah karena Tuhan sendiri yang memilih dalam kedaulatan dan anugerahNya. Hari ini kita belajar dari teladan Daud dalam menghadapi peristiwa ketika dia dikejar-kejar oleh anak kandungnya sendiri, Absalom, untuk dibunuh (ayat 1). Mengapa Daud lari dari Absalom padahal Daud adalah seorang raja yang begitu hebat? Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari yang mendorong Daud untuk lari.

Absalom adalah anak kandung Daud dan dikasihi oleh Daud. Daud memilih untuk mengalah dan lari daripada berperang dengan anak kandungnya sendiri. Daripada bertengkar dengan anaknya sendiri, Daud lebih merelakan jabatannya diambil oleh anaknya.

Pelarian Daud ini adalah sebagai perwujudan daripada konsekuensi atau hukuman dari Allah kepada Daud karena Daud telah membunuh Uria dan mengambil Batsyeba, istri Uria (2 Samuel 11:1-27). Daud sadar bahwa inilah koreksi atau konsekuensi daripada Tuhan kepada Daud seperti yang telah dinubuatkan oleh Nabi Natan. Nabi Natan menubuatkan bahwa semua pedang tidak akan menyingkir dari keturunan Daud sampai selamanya dan malapetaka akan Tuhan timpakan ke atas Daud yang datang dari kaum keluarga Daud sendiri (2 Samuel 12:10-11).

Daud memikirkan keselamatan orang lain. Daripada banyak yang meninggal, Daud memilih untuk lari. Daud menyadari pelariannya ini adalah akibat daripada dosanya dan Daud tidak ingin banyak orang-orang lain yang tidak berhubungan meninggal karena dosa-dosanya.

Yerusalem adalah tempat bait Allah. Daud tidak ingin lingkungan bait Allah rusak akibat perang dengan anaknya sendiri, makanya Daud memilih untuk lari.

Apabila dihubungkan dengan kondisi gereja-gereja maupun orang-orang Kristen di masa sekarang, pemikiran-pemikiran Daud ini sangat berbanding terbalik. Di masa sekarang, banyak gereja dan orang Kristen berselisih demi kepentingan pribadinya daripada memikirkan kepentingan orang lain maupun sekitarnya.

Di balik kesadaran Daud bahwa yang dialaminya ini adalah konsekuensi daripada dosa-dosanya sendiri, Daud tidaklah menjauh dari Tuhan. Daud tetap mau terbuka dan mencurahkan segala isi hatinya kepada Tuhan. Ketika dalam pelarian dari Absalom, Daud menerima cacian dan hinaan dari Simei (salah seorang pengikut setia Raja Saul, raja Israel pertama). Simei mengutuki Daud dan mengatakan bahwa pelariannya ini adalah pembalasan dari Tuhan atas darah keluarga Saul dan Tuhan telah menyerahkan kedudukan raja kepada Absalom (2 Samuel 16:8). Anak buah Daud bertanya kepada Daud untuk membunuh Simei, namun Daud tidak mengizinkan. Daud menyerahkan perkaranya ini kepada Tuhan. Daud memutuskan untuk berpihak kepada Allah walaupun dia sendiri sadar bahwa pelariannya adalah konsekuensi daripada dosanya. Berpihak kepada Tuhan berarti Tuhanlah yang menjadi pemimpin di depan, bukan Daud. Kita jangan meminta Tuhan berpihak kepada kita, tapi kitalah yang harus berpihak kepada Tuhan. Salah seorang mendiang presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, pernah berkata: “Yang saya khawatirkan bukanlah apakah Tuhan ada di pihak kita, tapi apakah kita ada di pihak Tuhan karena Tuhan selalu benar”.

Daud tetap beriman kepada Tuhan. Di tengah segala permasalahan yang dihadapi Daud sebagai konsekuensi daripada dosanya sendiri, Daud tetap menaruh iman percayanya kepada Tuhan. Daud tidak mau menghakimi anak kandungnya sendiri dengan merancangkan pembalasan maupun pembunuhan, tapi Daud menyerahkan segala keluh kesahnya, masalahnya, dan pergumulannya kepada Tuhan. Ketika pada akhirnya Absalom meninggal, Daud bukannya senang, tapi malah sangat bersedih dengan duka yang begitu yang dalam. Daud telah memberikan teladan kepada kita ciri-ciri seseorang yang lebih dari pemenang, yaitu terbuka, percaya, dan bersandar kepada Tuhan. Di masa sekarang, banyak orang mencari kemenangan dengan mencari kelemahan-kelemahan orang lain dan menonjolkan kelebihan-kelebihannya, tapi sebagai orang Kristen, kita bukanlah demikian. Kita masih ada sampai sekarang karena anugerah Tuhan. Marilah kita mengisi hidup kita ini dengan bersandar penuh kepada Tuhan pemilik kehidupan kita. Amin.