Pengkhotbah

Perikop
Yohanes 15:1-8

Ringkasan Khotbah

Khotbah Minggu ini mengingatkan kita akan relasi jemaat Kristen dan Tuhan Yesus, dengan memakai kebun pohon anggur di tengah padang gurun sebagai perumpamaannya.

Bacaan hari ini menekankan, bahwa kita adalah ranting-ranting dari pokok anggur yang benar, yaitu Yesus. Ini adalah bagian dari pengajaran terakhir dari Yesus kepada murid-muridnya sebelum memasuki masa penderitaan.

Jemaat Kristus, sebagai ranting-ranting diharapkan dapat menghasilkan buah. Kata buah di dalam Alkitab banyak digunakan sebagai kiasan yang melambangkan hasil dari pekerjaan. Sedangkan kebun anggur biasa melukiskan umat pilihan Tuhan. Di zaman PL, ini menunjuk kepada bangsa Israel. Melalui PB, ini menunjuk kepada seluruh umat yang percaya dan menerima Injil dan Yesus. Kata padang gurun disini merujuk kepada dunia dan seluruh manusia yang masih hidup dalam dosa.

Dalam perumpamaan ini, Tuhan juga adalah pengusaha kebun anggurnya. Dimana ada ranting yang tidak berbuah atau berbuah asam, akan dipotong-Nya. Pohon anggur adalah pohon yang memiliki ciri khas beranting banyak hanya dari 1 pokok saja, akan tetapi perlu dipotong ranting yang mati sehingga gizi yang ada tidak terbuang sia-sia.

Dalam pasal ini, kata tinggal dipakai 11 kali dan ditulis dalam bahasa aslinya dengan 2 tenses, yakni past tense (aorist) dan present tense. Kata tinggal yang memakai past tense terdapat pada ayat 4 and 7, dimana hanya perlu terjadi sekali di masa lampau dan sudah cukup untuk selama-lamanya. Sedangkan present tense seperti pada ayat 5 diartikan sebagai suatu keadaan yang terus-menerus / berulang. Karya Tuhan cukup terjadi sekali untuk kita, tetapi kita harus terus tinggal bersama dengan Tuhan untuk dapat berbuah.

Kita dipilih oleh Tuhan sebagai umat-Nya, dan kita dipanggil untuk menjadi berkat dimanapun kita berada. Kita juga diminta untuk tinggal di dalam Tuhan agar kita juga dapat bertumbuh. Sukacita kita adalah saat kita dapat merasakan kebersamaan dengan Tuhan. Berkat (buah) yang kita dapat dari kebersamaan dengan Tuhan inilah yang menjadi bekal untuk kita dapat bagikan ke sekitar kita (berbuah). Marilah kita terus menjaga persekutuan yang intim dengan Tuhan dan membagikannya ke tempat dimana kita berada.