Posted by Yanes Dewangga

Dalam kehidupan kita sebagai orang kristen, Allah menginginkan kita untuk hidup sesuai dengan kebenaran Firman-Nya. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam aplikasi kehidupan sehari-hari, banyak hal yang terjadi yang menunjukkan sikap hidup yang tidak sesuai, sebagaimana orang kristen seharusnya hidup. Tak sedikit orang yang mengikut Tuhan pun, sebenarnya memiliki motivasi yang tidak benar.

1. Bagaimana dengan kita? Apakah ingin hidup seperti gandum ataukah lalang?

Lalang (zizania) dan gandum (sitos), memiliki bentuk yang mirip terutama pada bagian daunnya. Namun, keduanya terlihat sangat berbeda pada saat musim menuai. Akar lalang dan gandumpun saling melilit, sehingga ketika dicabut salah satu, maka keduanya akan tercabut. Oleh karena itu dalam perumpamaan tersebut disebutkan bahwa Tuan tidak mengijinkan hambanya untuk mencabut lalang sebelum musim tuai.

Seperti kehidupan orang kristen, keberadaan lalang ini sangat mudah mengecohkan, karena rupanya yang mirip dengan gandum. Ia dapat saja terlihat aktif ke gereja dan melayani, namun sebenarnya hidupnya jauh dari kehidupan orang kristen yang seharusnya. Yang seharusnya adalah kita hidup seperti gandum. Kita yang telah ditebus dan lahir baru seharusnya hidup sesuai kebenaran, meskipun berada ditengah-tengah lalang atau orang yang tidak mengenal Tuhan sekalipun.

Lalu mengapa lalang itu tidak dicabut? Allah membiarkan lalang itu tumbuh bersama-sama dengan gandum. Hal ini mengajarkan kita tentang arti sebuah “pengampunan”. Sudah seharusnya kita mengampuni, dan mendoakan dengan sungguh mereka yang hidup seperti lalang.

2. Dalam perumpamaan itu kita juga diajarkan untuk tidak main hakim sendiri.

Injil senantiasa menantang kita untuk menjadi serupa dengan Yesus. Dengan cara ini gandum mulai menguraikan akar dari lalang dan menunjukkan dirinya adalah gandum dan bukan lalang. Selain itu, hanya Yesus lah yang memiliki kewenangan dan kemampuan untuk mengetahui kedalaman hati manusia. Kita bukanlah orang yang tepat untuk menilai mana lalang dan mana gandum. Kita tidak dapat melihat sampai kedalaman hati manusia, sehingga sangat memungkinkan terjadi salah penilaian. Yang kita dapat lakukan hanya melihat hasil akhir, apakah akan menghasilkan seperti gandum ataukah tidak menghasilkan seperti lalang.

3. Allah sudah menetapkan bagaimana akhir dari gandum dan lalang. Akan ada penghakiman terakhir untuk kejahatan dan kebaikan yang telah hidup berdampingan. Hal ini mengajarkan kita untuk tetap hidup setia berjalan sesuai dengan kebenaran Allah. Tuhan Yesus menempatkan kita di tengah-tengah lalang, agar kita dapat menjadi gandum-gandum yang berkualitas.