Pengkhotbah

Perikop
Yohanes 7:25-36

Ringkasan Khotbah

Orang-orang Yahudi saling berdiskusi bahwa mereka mengenal siapa itu Yesus, tapi apakah mereka mengerti siapa Yesus? Yesus sebenarnya keberatan. Lihat ayat 27. Kata tahu di sana berbeda dengan kata tahu dan kenal di ayat 28. Kata tahu di ayat 27 memakai kata Ginosko, artinya sangat dekat, sangat kenal, sama dengan kata bersuami di Luk 1:34. Jadi sama seperti saling mengenal antara suami istri, ada relasi yang dekat. Yesus akhirnya berseru di ayat 28. Yesus marah. Kata kenal di ayat 28 menggunakan kata Eido, yang artinya tahu, sekedar mengetahui tanpa ada relasi yang dalam. Jadi Yesus menurunkan level kata.

Konteks kejadian ini adalah Yesus tiba di Yerusalem karena perayaan Pondok Daun. Di ayat 15 orang-orang bertanya-tanya bagaimana orang ini tahu sedemikian tanpa belajar! Menurut seorang penulis, ada 2 tempat kekuatan ilmu pengetahuan yang sangat disanjung pada saat itu. Yaitu Yerusalem dan Athena. Kalau berasal dari Yerusalem, orang akan menilai dia orang saleh. Kalau berasal dari Athena, orang akan menilai dia orang yang berpengetahuan. Tetapi Yesus berasal dari Galilea. Apa yang terkenal dari Galilea? Tempat pemancingan ikan. Mereka sulit menerima Yesus. Tetapi Yesus dapat mengajar di Bait Allah sehingga orang-orang bingung. Seorang reformator gereja berkata: “Di sini semakin tampak betapa hebatnya kebutaan manusia ketika mereka menilai tentang Tuhan. Penilaian dan pengakuan mereka ini menjadi penghalang mereka unuk mengetahui kebenaran.” Di sinilah kita belajar bahwa ada kebutaan di dunia yang membuat orang tidak mengenal Juru Selamatnya. Yesus menegur kekerasan hati orang-orang Yahudi pada saat itu. Di Mikha 5:1 sudah ada nubuatan tentang Juruselamat, mereka tahu itu, tapi mereka tidak mau menerimanya. Mari kita refleksi diri kita. Jika Tuhan Yesus datang pada masa kini, mungkinkah kita menerima Yesus, atau malah menolak seperti orang-orang Farisi. Tuhan sering menggerakkan orang-orang sederhana untuk menyatakan pekerjaan Allah. Berita sorgawi tidak tergantung pada pengetahuan manusia.

Melihat respon orang Yahudi pada waktu itu, ❶ Yesus diutus oleh yang tidak dikenal orang orang Yahudi (ayat 28). Agama Yahudi adalah pusat agama terbesar pada masa itu. Mereka mengaku menyembah kepada Tuhan tetapi tidak menyembah Yesus. Yesus mencela mereka yang mengaku bahwa orang Yahudi mengetahui segala sesuatu namun tidak mengetahui dari mana Yesus berasal. Yesus memberi jalan bagi setiap orang percaya untuk mengerti kebenaran dan kebenaran tersebut akan memerdekakan. Pada zaman Yesus, pernah dipertanyakan tentang apa itu kebenaran (Yoh 18:38a). Tantangan kita pada masa ini: Bagaimana kita menggabungkan kebenaran dengan kehidupan kita? Yesus datang kedunia bukan untuk mencari-cari kesalahan dan menghukum. Sama seperti wasit tujuannya bukan untuk menghukum pemain yang salah, tapi supaya menjaga agar permainan berjalan baik. Prinsip hidup adalah mengerti kebenaran, dan percaya bahwa Yesus diutus oleh Bapa. ❷ Yesus diutus oleh Bapa (ayat 29). Waktu Yesus datang ke dalam dunia, Dia menghendaki setiap orang kembali kepada kebenaran Allah. Manusia bermusuhan dengan iblis, dan iblis akan berusaha untuk menjauhkan manusia dari Allah. Yesus datang bukan untuk memperbaiki relasi antara si jahat dan manusia, melainkan relasi antara manusia dengan Allah.

Beberapa bukti Yesus diutus oleh Bapa: a) Pada saat kelahiranNya, Ia datang untuk menyelamatkan umat-Nya (Mat 1:21). b) Pada usia 12 tahun, Ia sudah mengetahui bahwa Ia harus berasda di dalam perkara-perkara Bapa-Nya (Luk 2:49). c) Pada saat pembaptisan-Nya, Ia menerima tanda dan meterai Ilahi bagi panggilan-Nya (Luk 3:21). d) Yesus sendiri berkata bahwa “Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku (Yoh 7:29)”. H. Bavinck berkata: “Persekutuan dengan Allah telah dirusak sehingga ada gap antara Allah dan kita, antara Taurat-Nya dan keadaan kita”. Tujuan Yesus adalah supaya yang kita lakukan berkenan pada Allah. Allah menggenapi seluruh nubuat tentang Kristus di PL, melalui kedatangan Yesus.

Yesus mengerjakan kehendak Bapa dengan suka rela. Dia datang, dan juga kembali dengan sukarela. Kita juga hendaknya demikian. Orang Yahudi mengaku mengenal dan mengetahui Yesus tetapi tidak pernah mengerti makna kedatangan serta karyaNya. Ketika kita telah dipanggil dan mengaku percaya kepada Dia, marilah kita wujudnyatakan pengenalan kita kepada Dia dengan hidup bagi Dia dan memuliakan-Nya.