Pengkhotbah

Perikop
Markus 6:45-52

Ringkasan Khotbah

Sering kita temui bahwa banyak orang Kristen yang kurang memiliki relasi yang baik dengan Tuhan sampai pada tahap sebuah relasi persahabatan. Apakah kita sendiri saat ini sudah membuat relasi yang baik dengan Tuhan seperti seorang sahabat? Istilah murid di dalam ayat bacaan hari ini menggambarkan seseorang yang mengikuti perintah gurunya. Sedangkan seorang sahabat memiliki sebuah hubungan kedekatan dan keterbukaan.

Saat kita tidak lagi serius kepada Tuhan maka ada beberapa dampak yang terjadi, diantaranya:

  1. Kita akan membuat sahabat kita sedih, terlebih kepada Tuhan.
  2. Kita akan mulai menyangkal Kristus.
  3. Kita mulai mengatur Tuhan.

Dalam kisah bacaan kita hari ini, Yesus menyuruh murid-muridnya untuk berangkat lebih dulu ke seberang, yaitu ke Betsaida. Pada malam hari murid-muridnya mengalami musibah dimana perahu mereka diterpa angin sakal. Yesus datang berjalan di atas air bukan untuk diriNya sendiri, melainkan untuk menolong murid-muridNya yang mengalami musibah. Seringkali terjadi di dunia ini, banyak orang yang datang menolong sesamanya hanya untuk menyombongkan dirinya sendiri, namun kita harus belajar dari teladan Kristus.

Ada beberapa hal yang ditunjukkan oleh Yesus sebagai teladan dari seorang sahabat bagi murid-muridNya, antara lain:

  1. Dia pergi berdoa. Yesus tidak langsung pergi menolong murid-muridNya, melainkan Dia mengutamakan datang kepada Bapa dengan berdoa. Dia lebih mengutamakan waktu Doa. Yesus memberikan contoh teladan akan hal yang seharusnya setiap orang Kristen miliki yaitu mengutamakan Tuhan dalam segala hal.
  2. Dia bertindak memberikan pertolongan kepada murid-muridNya.

Terkadang orang Kristen hanya terhenti pada satu hal di atas saja dan tidak melakukan keduanya.

Pada ay. 48 dikatakan ketika Ia melihat, kata melihat berasal dari kata aslinya “IDON” yang berarti tindakan yang sudah lampau dan efeknya masih ada sampai sekarang. Jarak antara Yesus dengan murid-muridnya sangatlah jauh sekitar 2-3 mil atau sekitar 4,8 km, jarak tersebut tidak bisa terlihat jelas dengan mata manusia secara umum apalagi pada malam hari. Namun ada arti khusus dari kata “melihat” ini, kata melihat yang terdapat dalam ay. 48 mengartikan bahwa ada kemahatahuan Allah yang tidak dipengaruhi oleh keadaan. Dia sanggung fokus untuk melihat keadaan kita dalam situasi apapun. Hal ini memberikan jaminan bahwa Kristus senantiasa menyertai kita.

Fokus Yesus saat Ia berjalan di atas air bukanlah pada badai atau angin sakal, melainkan kepada murid-muridNya yang membutuhkan pertolongan. Bagaimana fokus kita saat ini, apakah kita masih berfokus pada masalah yang kita hadapi atau pada keadaan kita sehingga kita tidak fokus akan Tuhan? Di dalam situasi tersebut para murid-muridNya berkata bahwa Tuhan terlihat seperti hantu karena mereka tidak mengenai Dia. Situasi yang sama sering terjadi pada kehidupan kita, disaat kita mendoakan dan menolong orang-orang di sekitar kita, seringkali mereka tidak menghiraukan akan tindakan baik yang sudah kita lakukan, bahkan mereka sampai mengejek kebaikan kita. Masih maukah kita fokus pada mereka dan terus mendoakan dan menolong mereka?

Marilah kita memiliki sifat keterbukaan seperti seorang sahabat. Bagaimanakah hubungan kita dengan Tuhan, sudahkah kita memiliki keterbukaan dengan Allah dalam doa kita setiap hari. Allah akan dengan senang hati mendengarkan dan menjawab doa anak-anakNya yang dengan tekun datang berdoa kepada Allah dan terbuka akan segala hal.