Pengkhotbah

Perikop
Roma 8:12-14

Ringkasan Khotbah

Kita sedang membahas secara berseri kitab Roma 8. Tubuh kita yang lemah, yang penuh sakit, kebusukan, yang bisa diserang dosa, sudah mati, tapi sudah dibangkitkan kembali oleh Allah. Itu dikerjakan Allah melalui Tuhan Yesus Kristus. Kita sudah mati bersama dengan Kristus, dan bersama Kristus juga kita dibangkitkan. Hidup kita sekarang adalah hidup berhutang kepada Allah, artinya kita hidup bertanggung jawab, tidak bermain-main lagi. Waktu dalam hidup kita tidak berlalu dengan begitu saja. Renungan hari ini fokus pada ayat 14: “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Ayat 14 ini bukan sebuah perintah, namun menyampaikan sebuah fakta. Bukan semua orang disebut sebagai anak Allah. Menurut prinsip humanisme, semua manusia adalah sama, sama-sama ciptaan Tuhan.

Di Jepang dikenal ada filosofi humanisme berbunyi “jinrui mina kyoudai” (semua orang adalah saudara). Bahkan ada juga kelompok Kristen yang menganut ajaran bahwa “semua orang adalah anak-anak Allah karena Yesus sudah mati bagi semua orang”. Orang Kristen sejati tidak lagi hidup menuruti keinginan daging, tapi keinginan Roh. Orang Kristen sejati dosanya diampuni, hidupnya dibenarkan dan memiliki status atau posisi baru, yaitu sebagai anak Allah. Dalam sebuah keluarga, terkadang anak-anak punya sifat yang membuat orangtuanya pusing. Orang Kristen sebagai anak-anak Allah tidak boleh puas atau merasa sudah cukup karena sudah diampuni dosanya. Rasul Paulus dalam beberapa suratnya menggunakan kata budak. Budak tetaplah budak walaupun mungkin mempunyai majikan yang begitu baik. Sangat jarang atau bahkan tidak ada peristiwa dimana budak diangkat menjadi anak oleh majikannya. Namun Tuhan sudah mengangkat kita menjadi anakNya. Daud menyadari dan mengakui bahwa dalam kesalahan dia diperanakkan, dalam dosa dia dikandung ibunya (Mazmur 51:5). Orang-orang saleh menyadari keberdosaannya.

Menyadari keberdosaan menjadi sebuah penghantar untuk bisa datang kepada Tuhan. Efesus 1:5 berkata: “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya…”. Anak-anak Allah adalah orang-orang yang hidup dalam Kristus. Orang yang hidup dalam Kristus sudah diberikan status baru dan hidupnya dipimpin oleh Roh. Dalam Perjanjian Lama, Allah memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian. Orang Israel dipimpin oleh Roh Allah melalui padang gurun. Hidup di padang gurun begitu sulit, banyak binatang berbisa dan air juga sangat sedikit. Hidup yang kita jalani sekarang sebagai orang Kristen juga dipimpin dalam padang gurun rohani. Hidup kita dipimpin oleh Roh Kudus. Allah memimpin bangsa Israel dengan menggunakan awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari. Orang Kristen zaman sekarang tidak diberikan awan dan tiang api. Tapi orang Kristen sudah diberikan Alkitab, firman Tuhan, sebagai penuntun (Mazmur 119:105 “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku”). Hidup menurut Roh berarti kita memikirkan dan menginginkan hal-hal yang sifatnya rohani. Roh Kudus bisa berbicara dan membujuk kita untuk hidup menuruti kehendak Tuhan.

Jadi Roh Kudus memimpin bisa berarti bahwa Roh Kudus membujuk. Roh Kudus memimpin kita bisa juga dengan cara memberi nasehat (Yesaya 30:21). Hidup Kristen adalah hidup yang dibujuk, diarahkan, dipimpin oleh Roh Kudus. Maka anak-anak Allah adalah mereka yang memiliki kecondongan hati untuk menyenangkan Allah. Kita memang tidak sempurna, kita orang yang sering gagal, banyak kelemahan, tapi ingatlah bahwa ada Roh Kudus yang memimpin hidup kita. Relasi antara Allah sebagai Bapa kita dengan kita sebagai anak-anakNya bisa digambarkan bagaikan relasi seorang ayah dan anak. ① Seorang anak mirip ayahnya. Anak akan mengikuti teladan dari ayahnya. Kita juga bisa bayangkan bagaimana anak-anak bebek meniru semua gerak-gerik induk bebek. Kristus sudah memberikan teladan kepada semua orang percaya. Rasul Paulus berkata bahwa dia memiliki pikiran Kristus (1 Korintus 2:16) dan kita dinasehatkan juga untuk menjadi penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih (Efesus 5:1). ② Seorang ayah pasti mengasihi anaknya. Kita sebagai anak-anak Allah, dikehendaki untuk hidup berbahagia dalam Tuhan. Kita diajarkan oleh Kristus untuk tidak khawatir karena rambut kepala kita sendiri pun terhitung semuanya (Matius 10:30). ③ Seorang ayah mempunyai rencana baik untuk anaknya. Allah mendidik kita anak-anakNya demi kebaikan kita supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya (Ibrani 12:9-10). ④ Seorang ayah memelihara, melindungi, dan memenuhi kebutuhan anaknya, demikian juga Bapa kita yang di sorga. Bagaimana kita bisa tetap beribadah dengan tekun? Itu karena Tuhan yang memelihara kita. Kenapa Musa bersama bangsa Israel bisa berjalan di padang gurun? Karena mereka bersandar pada lengan Allah yang kuat (Ulangan 33:27). ⑤ Seorang ayah nendengar anaknya. Demikian Bapa di sorga mendengar doa keluh kesah, pergumulan, dan apapun curahan hati kita kepadaNya. Kita bisa dengan bebas datang kepada Allah dengan hormat dan kasih kepadaNya.