Pengkhotbah

Perikop
Roma 8:17

Ringkasan Khotbah

Dalam ayat hari ini, Rasul Paulus ingin menambahkan status, identitas, dan hak dari orang percaya, yaitu sebagai ahli waris Allah. Tujuannya adalah untuk menguatkan iman orang Kristen yang baru percaya di Kota Roma. Kata “jika” sering dipakai dalam pasal 8, termasuk dalam ayat 17. Kata “jika” ini bukan berarti “kalau” atau if dalam bahasa Inggris, tetapi berarti “sejak atau sudah ada, maka terjadi demikian”. Misalnya di ayat 9, ada tertulis “jika memang Roh Allah diam di dalam kamu”. Kata jika di sini berarti “sejak Roh Allah sudah diam”. Kalimat dalam ay. 17 ini mengacu kepada sebuah hubungan sebab akibat. Kita sudah mendengar khotbah mengenai relasi bapa dan anak. Anak mirip bapanya. Bapa mengasihi anaknya, mempunyai rencana untuk anaknya, memelihara dan melindungi anaknya, memenuhi kebutuhan anaknya. Bapa mendengar dan menerima anaknya apa adanya. Rasul Paulus menyebut orang percaya sebagai ahli waris. Seorang anak adalah ahli waris dari bapanya. Dalam dunia, warisan bisa membuat sesama saudara berkelahi dan bahkan menyebabkan terjadinya pembunuhanan. Jadi, warisan dunia gambarannya tidak selalu positif. Orang-orang Kristen adalah anak-anak Allah, artinya ahli waris Allah. Ini berarti bahwa orang-orang Kristen berhak menerima janji-janji Allah. Allah tidak pernah mengingkari janjiNya. Alkitab kita berisi dua perjanjian: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Allah memberikan janji-janjiNya kepada Abraham, Ishak, Yakub, dan bangsa Israel, umat Allah. Karena kita juga adalah keturunan Abraham yang sudah ditebus oleh Kristus (Galatia 3:29 dan 4:4-7), maka kita pun mendapat bagian akan janji-janji Allah itu. Allah sudah memilih dan memberikan janji kepada anak-anakNya. Allah disebut Allah perjanjian. Firman disebut firman perjanjian. Yakobus 2:5 menekankan apa yang orang percaya peroleh apabila sungguh-sungguh beriman kepada Allah. Allah menghargai orang-orang yang menyadari bahwa dia adalah orang miskin: miskin rohani, miskin kebaikan, sadar diri orang berdosa. “Orang-orang miskin“ ini disebut berbahagia karena mereka akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah yang kekal. Kerajaan Allah berarti: kekuasaan, kedaulatan, keselamatan, kasih Allah yang dinyatakan oleh Mesias. Kerajaan Allah hadir melalui kehadiran orang-orang percaya/gereja. Kerajaan Allah inilah hal konkrit yang sebenarnya sudah diterima oleh orang-orang percaya. Warisan yang diberikan Allah kepada anak-anakNya adalah hidup yang kekal (Titus 3:7). Hidup yang kekal itu juga sebenarnya sudah dialami oleh orang-orang Kristen di dunia ini, yaitu hidup bersama-sama dengan Allah, bergaul dengan Allah, dan mengenal Allah. Hanya, kelaklah orang-orang Kristen bertemu muka dengan Tuhan dan mengenakan tubuh yang kekal. Semua manusia mengharapkan kehidupan yang kekal di dunia ini. Manusia sangat mendamba-dambakan umur panjang, awet muda. Tapi semua manusia akan meninggal. Dalam 2 Petrus 1:4 kata “mengambil” bisa diartikan “mewarisi”. Mengenai sifat, tidak ada satu manusia pun yang sempurna. Orang percaya sekalipun mempunyai banyak sifat yang tidak baik, sifat jahat dan bengkok. Namun, orang percaya yang menyadari siapa dirinya, merendahkan diri, dan hidup bersama-sama dengan Allah, akan ditolong oleh Allah untuk memiliki sifat-sifat Kristus. Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati anak-anakNya (Galatia 4:6). Tuhan Yesus berkata “siapa yang haus, datanglah kepadaKu”. Ini adalah janji Allah sebelum Roh Kudus datang. Tanpa Roh Kudus, kita tidak mungkin percaya kepada Tuhan Yesus. Roh Kudus adalah warisan paling sempurna yang diberikan Allah karena Roh Kuduslah yang menyempurnakan semua warisan-warisan yang telah disediakan oleh Allah. Roh Kudus itulah yang membuat kita bertobat, menginsyafkan kita akan dosa dan penghakiman, menggerakkan hati kita untuk kembali kepada Tuhan, dan memimpin hidup kita dalam segala kebenaran (bandingkan dengan Titus 2:12-13). Orang Kristen tidak ikut cara-cara dunia karena sudah sadar siapa dirinya sebagai anak Allah. Ahli waris sempurna dan sejati sebenarnya adalah Tuhan Yesus Kristus (Ibrani 1:2). Tapi kita bersyukur bahwa kita mempunyai bagian sebagai ahli waris seperti Kristus karena Bapa dari Yesus adalah Bapa dari kita orang-orang percaya (bandingkan Galatia 2:20, Efesus 2:6). Hal-hal inilah yang Rasul Paulus ingin sampaikan kepada orang-orang Kristen baru di Roma supaya mereka kokoh dalam iman. Kota Roma adalah pusat Kerajaan Romawi. Kitab Roma ditujukan untuk menyadarkan orang-orang Kristen supaya tidak terseret arus kehidupan Romawi. Kita pun sebagai orang percaya tidak lagi ikut terseret arus-arus dunia. Kita adalah anak-anak Allah. Tetapi kita bukan hanya mewarisi Kerajaan Allah dan Roh Kudus saja, tapi juga mewarisi penderitaan Kristus. Rasul Paulus sadar keadaan jemaat yang dilayaniNya di Roma, ada yang bertanya-tanya dengan kehidupannya yang malah dibenci dan tidak disukai oleh dunia. Yesus sendiri dibenci oleh dunia, maka wajarlah bahwa orang Kristen juga pun dibenci oleh dunia. Orang Kristen dipanggil bukan agar seluruh kehidupannya menjadi lancar dan enak-enak (bandingkan Yohanes 16:33 dan Filipi 2:8-10).