Posted by Yanes Dewangga

Dalam ke-Kristenan kita bertemu dengan sesuatu yang paling agung yaitu relasi dan keharmonisan. Ketika menggumuli sebuah relasi dan keharmonisan, ini bukan tanggung jawab satu pihak saja. Kita semua perlu menggumulinya. Tanggung jawab adalah panggilan, sama seperti panggilan untuk percaya. Kita bertanggung jawab kepada pemberi panggilan itu, yaitu Tuhan.

Abram adalah orang pilihan Allah dan bapa orang percaya. Tanggung jawabnya tidak gampang. Sisi kelemahan Abram banyak sekali. Tapi mari kita lihat dari sisi lain. Yak 4:1 berbicara mengenai hawa nafsu. Kata hawa nafsu dalam kata aslinya adalah kata Yunani Hedonon dan diadopsi ke Bahasa Indonesia menjadi Hedonis. Ini bukan hanya orang muda, tetapi telah mempengaruhi semua kalangan. Orang masa ini seharusnya tampil seperti Abram. Meskipun zaman Sodom dan Gomora sudah seperti zaman Hedonis, tetapi Abram yang hidup zaman itu tetap berkomitmen menyenangkan hati Tuhan.

Dalam Luk 8:14 Yesus sudah memperingatkan, yang membuat orang tak bisa berbuah adalah kenikmatan hidup. Kata yang dipakai juga adalah hedonon. Kalau kita sebagai orang beriman, tapi juga memuaskan nafsu, firman itu tidak akan berbuah, matang.

Waktu itu Abram dipaggil oleh Tuhan, keluar dari kenikmatan hidup. Abram lahir di lingkungan yang mewah. Saat dia keluar pun banyak harta. Tapi begitu panggilan Allah nyata, dia taat. Tapi apa yang dialami setelah dia taat? Dia mengalami kelaparan, konflik dengan keponakan, peperangan dengan para raja di Timur, pertemuan dengan  Melkisedek. Sebenarnya ikut Tuhan tidak selamanya lancar. Tapi Tuhan menjamin penyertaannya ada saat kita taat.

Persoalan hidup orang percaya sudah dialami oleh Abram, tapi dia bisa membuktikan, dia bisa melewati karena pertolongan Tuhan. Pada waktu dia dipanggil oleh Tuhan dia berumur 75 tahun. Waktu Ismail lahir, dia 86 tahun. Baru di usia 100 tahun dia mendapatkan Ishak. Jadi bisa dikatakan selama 25 tahun dia belum mendapatkan yang dijanjikan. Abram tidak berlari kepada pemuasan, tapi dia tetap bergantung pada Tuhan.

Apa yang dilakukan Abram: ① Dia bertanya. Selain menerima penghiburan dia mengungkapkan kehidupannya. Abram gelisah, bergumul, tapi dia terbuka pada Tuhan. Yang bisa kita pelajari: berkomunikasilah dengan Tuhan; ② Pertemuan dengan Tuhan sudah berlangsung lama (ayat 2) tapi dia tetap beriman. Saat dipanggil Tuhan, mungkin saat itu Sarai juga berontak. Dan mungkin Sarai banyak bertanya. Pasti banyak tekanan dari Sarai dan terpojok; ③ Abram berperan mempengaruhi Sarai untuk terus taat. Dan dia bisa membimbing istrinya. ④ Tuhan tidak pernah membiarkan keraguan Abram dan Sarai itu terus menekan. Sehingga mereka bisa melwati pergumulan-pergumulan.

Kehidupan rumah tanga adalah suatu proses mempengaruhi dan mewujudnyatakan dukungan, bukan tekanan. Proses untuk meyakinkan pasangan itu proses yang panjang. Meskipun Abram melihat fakta secara biologis, tapi imannya tidak menjadi lemah. Buah dari iman Abram tidak sia-sia, karena Allah tidak pernah lalai menepati janjinya.

Bagi para bapak, mari menunjukan teladan seperti Abram yang menjadikan Allah sebagi tempat dia bergantung dan berharap. Bagi para ibu seperti Sarai yang mendukung Abram untuk berharap kepada Tuhan.  Bagi pemuda/i belajar dari Abram dalam hal menentukan pilihan hidup. Menjadikan Allah sebagai tempat menyatakan segala keinginan.

Abram terus menekankan ibadah sebagi aktivitas kerohanian yang utama bagi keluarga, bagi dia, bagi anak-anaknya. Dan itu teruji di pasal 22, pengorbanan Ishak. Seorang penulis berkata: peran keluarga dalam mempersiapkan setiap individu keluarganya sebagai generasi yang siap pakai di era persaingain global ini sangat ini penting. Lantas bagaimana cara membangun generasi yang takut akan Tuhan? Ini tidak datang dengan tiba-tiba. Tapi ada proses,  beribadah, bersekutu, berdoa.

Abraham mati dalam damai sejahtera. Allah sumber damai sejahtera, memenuhi hati Abraham. Allah selalu beserta dengan Abram sampai akhir hayatnya. Mari kita belajar tiap hari menjadi orang yang bersandar kepada Tuhan.