Pengkhotbah

Perikop
Lukas 18:9-14

Ringkasan Khotbah

Istilah perumpamaan dikhususkan untuk cerita-cerita atau lukisan-lukisan yang digunakan Tuhan. Ada 3 kategori kata perumpamaan, yaitu kisah nyata, cerita, dan ilustrasi. Di ayat 10 dalam perikop kali ini dikatakan ada 2 orang pergi ke bait Allah. Perumpamaan ini termasuk dalam perumpamaan jenis ilustrasi. Orang Farisi dan pemungut cukai sama-sama berdoa. Mari kita melihat doa kedua orang tersebut.

Pertama adalah doa orang Farisi. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya (Lukas 18:11). Dalam naskah Yunani kata pros heauton memiliki pengertian “berdiri terpisah dari yang lain dan berdoa” atau “berdiri dan berdoa kepada dirinya sendiri”. Dalam doanya pun yang ditekankan adalah kata aku. Dia tidak merasa perlu mengaku dosa karena semua sudah dilakukan. Dia menganggap dirinya benar dan memandang rendah orang lain. Dia menyebutkan dua hal istimewa yang dilakukannya dalam memuji diri sendiri yaitu dia berpuasa dua kali seminggu dan dia memberikan persepuluhan. Kita tidak boleh menghakimi orang lain. Apakah diri kita lebih baik dari pada orang lain? Jika kita dapat aktif dalam ibadah dan pelayanan itu tidak jadi alasan kita untuk menjadi sombong, karena apa yang kita dapat lakukan semua karena anugerah Tuhan. Kita perlu waspada dengan apa yang disebut kesombongan.

Kedua adalah doa pemungut cukai. Dia menunjukkan kondisi yang sangat bertentangan dengan orang Farisi. Pemungut cukai berdiri jauh, tidak berani memandang ke langit. Ia menyadari keadaannya yang tidak suci dan merasa bahwa ia termasuk ke dalam golongan tersebut akibat perbuatannya sendiri. Ia berani mempercayai bahwa Allah akan berbelas kasihan kepadanya.

Mengapa orang Farisi ditegur oleh Tuhan Yesus? Karena hatinya tidak benar, motifnya salah dalam berdoa, di mana dalam doanya dia mengungkapkan pendapatnya sendiri yang keliru tentang orang lain, tentang Allah, dan mengenai keselamatan. Mengapa pemungut cukai dipuji? Ia dipuji bukan karena dosa-dosanya, tetapi ia dipuji karena pertobatannya, karena ia bersedia mengakui dosa-dosanya dan meninggalkannya

Tidak ada dosa yang begitu gelap sehingga Allah tidak sanggup mengampuni. Tak ada orang yang begitu baik sehingga tidak membutuhkan pengampunan Allah. Tidak ada pertobatan yang dapat menyelamatkan orang yang hatinya tidak benar. Ketika hati seseorang benar, perbuatan baik akan mengikutinya, karena perbuatan baik adalah buah dan bukan akar keselamatan.