Posted by Yanes Dewangga

Yohanes menuliskan adanya orang-orang yang belum merdeka. Kalau kita melihat adanya orang Kristen yang berbicara tentang banyak hal yang menjadi halangan dalam kehidupan mereka seperti Ibadah yang hanya menghabiskan uang mereka karena terlalu banyak kantung persembaan di Gereja dll, ciri orang seperti ini menggambarkan orang yang belum dimerdekakan. Mengapa Yohanes mencatat banyak orang percaya, tetapi Yesus berkata bahwa mereka kurang percaya. Kita tidak perlu terlalu curiga waktu di ayat 30 ini dikatakan ‘banyak orang yang percaya’, karena memang Alkitab mengatakan demikian. Tapi kemudian ada kualifikasi; di ayat berikutnya (31) Yesus mengatakan kepada orang-orang Yahudi yang percaya –berarti orang yang sama—“Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku,  kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Jadi tampaknya ada perbedaan antara orang yang percaya dengan murid. Banyak sekali orang yang percaya Tuhan. Tapi di ayat 31, Yesus bikin kualifikasi yang lain akan hal ini. Dia berkata kepada yang percaya kepada-Nya –bukan kepada yang tidak percaya, bukan kepada yang menolak– “jikalau kamu tetap dalam firman-Ku”. Dalam pembacaan sederhana, ini berarti ada orang yang percaya, namun tidak tinggal tetap di dalam firman-Nya.

Yohanes dalam suratnya mengatakan tentang orang yang percaya (NFV=faith), orang yang percaya sejak dahulu dan juga sekarang serta berkelanjutan. Firman Tuhan membuka kebenaran bahwa orang Kristen pada saat itu hanya tahu Firman Tuhan tetapi tidak memaknai dengan benar dan tidak menghidupi Firman itu. Kebenaran berasal dari Tuhan Yesus Kristus (ay. 33). Kami adalah keturunan Abraham yang memiliki arti jasmani, sehingga Tuhan mengerti bahwa pengertian dan pemahaman mereka sangat dangkal. Orang Israel tidak berpikir bahwa mereka dulunya adalah hamba selama waktu yang lama yang terus dalam perlindungan dan penyertaan Tuhan. Sayangnya mereka tidak mewarisi rohani dari Abraham.

Kemerdekaan yang dimaksud disini juga berarti merdeka dari hamba dosa (ay. 34). Dalam realitanya hamba tidak tinggal dengan tuannya, karena tuannya hanya tinggal dengan anak. Hal ini berarti, hamba tidak bisa berusaha dengan kemampuan mereka sendiri untuk datang kepada Tuhan. Hanya Yesus yang bebas dari perhambaan dosa, sehingga hanya melalui Yesus sajalah kita dapat dibebaskan dari perhambaan dosa. Ayat 36 Yesus sendiri mengatakan, “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” Yesus bukan asal bicara sementara Dia sendiri juga terpaksa taat kepada Bapa. Yesus memberi diri-Nya sendiri sebagai Sang Anak yang menikmati artinya kemerdekaan. Dia adalah Firman itu sendiri, Dia adalah Logos. Dia mengatakan “Anak itu memerdekakan kamu”, karena yang merdeka adalah anak, yang bisa tetap tinggal di dalam rumah adalah anak. Dan sekarang Yesus, Anak ini, memerdekakan kita, dan Dia sendiri menyatakan dalam diri-Nya apa artinya hidup di dalam kemerdekaan –“kamu pun benar-benar merdeka”. Kata ‘merdeka’ ini apa pengertiannya? Yaitu merdeka untuk tetap tinggal di dalam rumah –tinggal di dalam firman.

Waktu Yesus, Firman itu, memerdekakan kita, kita benar-benar merdeka. Kekristenan tidak pernah jadi agama yang sifatnya fenomenal belaka, yang cuma melihat orang secara fenomenal. Tuhan tidak tertarik melihat itu. Kalau melihat orang secara fenomenal, dalam perumpamaan anak yang terhilang, si anak bungsu fenomenanya betul-betul tidak di dalam rumah, dia jelas terhilang, sedangkan si anak sulung fenomenanya ada di dalam rumah. Tapi waktu Tuhan melihat, si anak sulung ini tidak betul-betul di rumah, dia di ladang, dia tidak mau masuk. Terakhirnya dia dibujuk oleh bapanya, tapi apakah lalu masuk? Tidak juga, dia tetap tinggal di ladang;  dan ceritanya berhenti di situ. Itu menggambarkan orang-orang Farisi; apakah mereka ini akhirnya masuk di dalam table fellowship bersama dengan Yesus? Tidak tahu, ceritanya berhenti di sana. Kita tidak tahu orang-orang ini akhirnya masuk atau tidak, tapi cerita perumpamaan tadi berakhir dengan gambaran anak sulung itu ada di ladang sampai bapanya pergi membujuk untuk masuk. Apa artinya benar-benar merdeka? Pasti bukan dalam pengertian fenomenal, melainkan sikap hati sebenarnya yang dilihat Tuhan sampai ke dalam. Dan cuma Tuhan yang bisa melihat seperti itu. Kiranya Tuhan menolong kita untuk bisa mengenal diri kita, dan bertekun tetap tinggal di dalam Dia dan merasa bebas untuk menikmati kehadiran Tuhan dan merasakan kemerdekaan yang Tuhan berikan kepada kita secara cuma-cuma.