Ringkasan Khotbah

Kita sudah merenungan Firman Tuhan mengenai pribadi-pribadi yang setia melakukan berbagai kebajikan bulan Januari hingga April 2013. Dari Mei hingga Agustus, kita sudah dan akan merenungkan mengenai keluarga yang setia dalam berbagai kebajikan. Lalu, dari September hingga Desember, kita akan belajar mengenai jemaat yang setia dalam berbagai kebajikan.

Perikop hari ini menceritakan tentang sepasang suami-istri yang setia dalam melakukan berbagai kebajikan, yaitu Akwila dan Priskila. Akwila (artinya: “elang”) adalah seorang berkebangsaan Yahudi yang menikah dengan Priskila (Priskila kemungkinan berasal dari keturunan bangsawan). Akwila dan Priskila tinggal di Roma. Kita tidak tahu pasti siapa yang melayani mereka sehingga menjadi percaya kepada Kristus. Akwila berasal dari Pontus. Ada kemungkinan bahwa Akwila dan Priskila menjadi orang percaya pada hari Pentakosta (di ayat 9 dalam Kisah Para Rasul 2:1-13, ada disebutkan mengenai penduduk Pontus). Ada beberapa keteladanan yang bisa kita catat dan pelajari dari Akwila dan Priskila.

  1. Akwila dan Priskila memiliki kedewasaan rohani. Kita bisa melihat contoh kedewasaan rohani mereka dalam Kisah Para Rasul 18:24-28. Akwila dan Priskila mempunyai pemahaman akan Firman Tuhan yang baik dimana kita bisa melihat bagaimana mereka menjelaskan dengan teliti kepada Apolos mengenai Jalan Allah. Pemahaman akan Firman Tuhan yang baik ini ada karena mereka mempunyai kerinduan untuk terus belajar. Mereka juga mempunyai kedewasaan rohani yang baik. Ketika mereka mendengar Apolos berkotbah dengan berapi-api namun Apolos masih hanya mengetahui baptisan Yohanes, mereka membawa Apolos ke rumah mereka untuk mengajarkan Firman yang benar. Walaupun mereka tahu banyak akan Firman Tuhan, tapi mereka tidak arogan dan menghakimi Apolos. Mereka tidak sombong. Dengan rendah hati mereka mengundang Apolos ke rumah mereka untuk memberikan pengajaran yang benar kepada Apolos. Bukankah ada banyak orang yang sombong secara rohani? Baru tahu sedikit tapi malah sengaja menjatuhkan dan menyerang orang lain dan ajarannya untuk menunjukkan kehebatan mereka? Akwila dan Priskila tidaklah seperti itu. Karena kedewasaan rohani mereka juga, mereka bisa bertahan dalam pergumulan. Dalam Alkitab, tidak disebutkan adanya nama anak Akwila dan Priskila, sehingga ada tafsiran yang menyebutkan bahwa mereka tidak mempunyai keturunan. Tentu saja sebagai sepasang suami-istri, mereka mempunyai kerinduan untuk memiliki anak, tapi lebih daripada itu, mereka percaya kepada Tuhan yang mempunyai otoritas akan kehidupan mereka.
  2. Akwila dan Priskila setia mendukung pekerjaan Tuhan, baik secara mendukung individu maupun kelompok/jemaat. Akwila dan Priskila begitu rendah hati dan terlibat dalam pelayanan dimana mereka mendukung pekerjaan misi Paulus. Dalam perikop hari ini kita melihat bagaimana mereka menyediakan tempat tinggal dan keperluan Paulus selama di Korintus. Mereka bekerja bersama-sama karena mereka mempunyai profesi yang sama, yaitu tukang kemah. Mereka tidak hanya mendukung Paulus secara materi, tapi juga secara moril. Mereka ikut pergi melayani bersama-sama dengan Paulus (Kis 18:18). Akwila dan Priskila ikut membela Paulus dan mempertaruhkan nyawa mereka ketika Paulus diancam untuk dibunuh (Roma 16:4). Mereka juga terlibat aktif dalam pelayanan kepada jemaat (Roma 16:5). Disebutkan bahwa Akwila dan Priskila mempunyai rumah di beberapa tempat, yang mengindikasikan bhw kemungkinan besar mereka adalah orang berada. Namun, mereka begitu rendah hati dan bersedia membuka pintu rumah mereka untuk menampung jemaat untuk bersekutu dan tinggal (bandingkan 1 Kor 16:19). Kiranya kita dapat meneladani kehidupan Akwila dan Priskila.