Ringkasan Khotbah

Pada kotbah sebelumnya, kita sudah merenungkan kehidupan Akwila dan Priskila. Akwila dan Priskila adalah sepasang suami-istri Kristen yang memiliki kedewasaan rohani. Dengan rendah hati mereka menegur Apolos yang berkotbah dengan berapi-api namun dengan pemahaman teologi yang belum lengkap. Akwila dan Priskila juga setia dalam mendukung pelayanan Paulus. Selain itu, mereka juga mengundang dan mempersilahkan orang-orang untuk beribadah di hadapan Tuhan di kediaman mereka, entah di Roma maupun di Asia Kecil.

Akwila dan Priskila selalu melayani bersama-sama. Kemanapun mereka, selalu bersama-sama. Keadaan pelayanan Akwila dan Priskila memang adalah kondisi ideal, tapi kita bisa meneladani dari mereka apa yang mungkin bisa kita kerjakan dalam pelayanan kita. Kita sudah tahu bahwa Akwila dan Priskila tidak ada disebutkan mempunyai keturunan. Namun, mereka tetap setia satu sama lain. Kita boleh belajar dari Akwila dan Priskila agar kita tetap setia satu sama lain terhadap pasangan kita. Akwila dan Priskila bekerja bersama-sama sebagai satu tim (teamwork). Mereka melakukan pekerjaan sebagai tukang kemah. Selain itu, mereka juga bisa bekerja bersama dengan orang lain, yaitu mereka bekerja bersama dengan Paulus sebagai tukang kemah. Kita perhatikan kata “bersama-sama”. Mereka tidak membiarkan rekan sepelayanan yang lain bekerja atau melayani sendiri, tapi mereka sendiri terlibat secara aktif. Bahkan dalam jemaat di rumah mereka pun, mereka melayani bersama-sama dengan jemaat. Akwila dan Priskila menyediakan fasilitas yang baik kepada jemaat-jemaat.

Apabila kita perhatikan, tentu Akwila dan Priskila membutuhkan komunikasi dengan rekan-rekan sepelayanan mereka. Sebagai suami istri pun, mereka tentu membutuhkan komunikasi, baik secara verbal (kata-kata, sharing of life, diskusi, perdebatan, ataupun marah sekalipun) dan non verbal (tidak dengan kata-kata, melainkan berupa pandangan, senyuman, sentuhan, ciuman, dan hubungan intim).

Kita menyadari betapa pentingnya komunikasi dalam sebuah pelayanan, pekerjaan, dan keluarga. Seorang teolog berkata ada dua jenis komunikasi, yaitu komunikasi kasih dari Allah dan komunikasi iblis. Mari kita memeriksa diri kita apakah kita ketika berkomunikasi dengan orang lain menggunakan komunikasi kasih dari Allah atau malah kita menggunakan komunikasi cara iblis.

Akwila dan Priskila mempunyai karakter suami-istri Kristen yang begitu baik yang menjadi berkat buat orang banyak. Dari perikop ini, kita bisa mempelajari karakter Akwila, yaitu seorang yang penuh kasih kepada Allah dan sesama, pekerja keras, setia (setia kepada istri, pekerjaan, dan pelayanan), dan bertanggung jawab (kepada Tuhan, keluarga, pekerjaan, dan pelayanan). Sebagai istri, Priskila juga menunjukkan karakter Kristen yang begitu baik. Priskila adalah seorang yang penuh kasih kepada Allah dan sesama, Priskila mendukung Akwila, suaminya, terutama dukungan secara moral, Priskila seorang yang setia dan juga rendah hati (selalu menghormati dan menghargai Akwila). Marilah kita belajar dari Akwila dan Priskila, baik kita yang sudah berkeluarga maupun yang berencana akan membentuk keluarga.

Mungkin ada di antara kaum ibu yang menikah dengan pasangan yang tidak seiman dan berpikir: “Bagaimana bisa mengasihi suami saya yang tidak mengenal Tuhan?” Rasul Petrus dalam suratnya (1 Petrus 3:1) menasehatkan para isteri untuk tunduk kepada suami sekalipun mereka belum mengasihi Tuhan. Kiranya Tuhan senantiasa dipermuliakan dalam kehidupan rumah tangga dan pribadi kita.