Ringkasan Khotbah

Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia, sejati itu artinya utuh, asli, murni. Jadi keluarga sejati adalah yang keluarga yang secara esensi utuh, asli, original, tidak ada kepalsuan. Tiap anggota keluarga, masing-masing berfungsi sesuai dengan kehendak penciptanya. Untuk memahami keluarga, setidaknya ada 3 dimensi yang harus kita pelajari:

  1. Dimensi institusi: keluarga secara sejati adalah institusi Allah.
    • Keluarga dibentuk oleh Allah sendiri. Ada beberapa tipe keluarga. Keluarga yang dibentuk oleh Allah dan pemiliknya Allah; keluarga yang dibentuk Allah tetapi pemiliknya bukan Allah; dan ada juga keluarga yang tidak dibentuk oleh Allah, dan tentu saja pemiliknya bukan Allah. Teknis pembentukan keluarga oleh Allah diceritakan dlm Kejadian 2. Keluarga yang dibentuk Allah berawal dari 1 laki-laki dan 1 perempuan.
    • Allah adalah pemimpin tertinggi dalam keluarga. Ada keluarga yang pemimpin tertingginya adalah suami, atau istri, bahkan mertua. Jika mertua yang jadi pemimpin tertinggi, maka keluarga tidak akan bergerak sesuai fungsinya. Kasih suami terhadap istri, atau istri terhadap suami, harus lebih besar dibanding terhadap orang tua. Porsi kasih terspesial adalah pasangan, bukan orang tua atau anak. Kalau Allah adalah pemimpin tertinggi, maka tanggung jawab suami atau istri adalah kepada Allah. Dan saat orangtua bersama-sama membesarkan dan mendidik anak, tanggung jawabnya adalah kepada Tuhan.
    • Keluarga diikat oleh perjanjian yang kudus di hadapan Allah dan sifatnya kekal. Lihat Maleakhi 2:14-16. Menurut survei di Indonesia dan US, kebencian yang paling besar muncul adalah terhadap orang paling dekat yang menyakiti/mengkhianati. Di Indonesia, perceraian terjadi karena percekcokan dalam rumah tangga yang tidak terselesaikan. Jiwa anak-anak jadi tersobek, separuh kepada ayah, separuh kepada ibu. Kita perlu menjaga ikatan keluarga ini.
  2. Dimensi prokreasi: keluarga yang melakukan kehendak Allah. Dalam ayat 26 dan 27 tercantum kata “beranakcucu”. Ini mengandung makna:
    • makna multiplikasi: Dari kata “beranakcuculah dan bertambah banyak”, dunia ini harus diisi oleh orang-orang yang memiliki relasi yang indah dengan Allah.
    • makna evangelion/penginjilan: Saat manusia belum jatuh dari dosa, esensinya mendekati Allah, sementara setelah jatuh, esensinya adalah ingin menjauh dari Allah. Dunia ini harus dipenuhi orang-orang yang segambar dan serupa dengan Allah. Manusia diciptakan menurut gambar patronnya Kristus. Tetapi ada pandangan salah yang  mengatakan manusia itu diciptakan menurut gambar malaikat. Saat menerima Yesus, gambar yang rusak karena jatuh dalam dosa itu diperbaiki. Titik utama Injil diberitakan adalah di dalam keluarga. Manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah memiliki intelek, relasi yang spesial dengan Allah. Kata gambar dan serupa ini juga menunjuk pada moral. Manusia juga adalah penguasa alam semesta. Maka penting untuk manusia yang berdoa ini dikembalikan kepada gambar Allah. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, saat Allah mencari manusia, Adam pertama sekali menyalahkan Allah karena menciptakan perempuan. Saling menyalahkan. Kondisi ini harus dipulihkan melalui Yesus Kristus. Allah menginginkan kita sempurna, tapi ini bukan hal yang sekejap waktu, tapi ada prosesnya. Dan kesempurnaannya terjadi saat kita bertemu dengan Tuhan Yesus. Keluarga perlu melakukan dua fungsi:
      • lembaga pendidikan: mendidik anak dalam terang firman Tuhan, moral, disiplin. Ini adalah tugas orang tua.
      • lembaga mempertahankan mutu. Mutu Coca-cola di Indonesia ,di Jepang dan di US sama. Itu karena mereka mempertahankan standard/mutu. Jadi kalau manusia kehilangan standard Allah, dan hidup tidak jelas, maka hidup anak-anak akan lebih tidak jelas karena standard yang mereka lihat sudah salah.
  3. Dimensi rekreasi: Keluarga menjadi tempat untuk mengajarkan kasih, membuktikan kasih, melatih berbuat kasih. Orang tua perlu menjadi sahabat bagi anak-anak, suami jadi sahabat bagi istri, istri jadi sahabat bagi suami. Dengan ini keluarga dapat menjadi tempat yang sangat indah.

Untuk menciptakan keluarga yang sejati, kita perlu memikirkan semua yang tertulis di Filipi 4:8: “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”