Ringkasan Khotbah

Perubahan yang diberikan Kristus kepada seorang pribadi manusia, tidak hanya berdampak kepada manusia itu sendiri, namun juga kepada keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Selama paling tidak 1500 tahun, negara-negara barat memegang prinsip-prinsip kehidupan yang didasarkan pada kebenaran Firman Tuhan. Namun, sekitar abad 18, prinsip-prinsip ke-Kristen-an dicemari oleh filosofi-filosofi dunia (Immanuel Kant: mengagungkan rasio; Karl Max: mengaitkan kekuatan-kekuatan manusia dengan produk daripada ekonomi; Sigmund Freud: memandang rendah agama sebagai suatu kekanak-kanakan mental dan delusi massal manusia, dll). Di zaman sekarang, muncul paham relativisme (tidak ada kebenaran mutlak dan tiap pribadi berhak memiliki kebenaran berdasarkan pandangannya sendiri) dan juga paham materialisme (bekerja segiat-giatnya dan menghasilkan uang sebanyak-banyaknya) yang menjadi prinsip yang dipegang oleh manusia. Pada akhirnya paham-paham seperti ini melahirkan paham individualisme (mementingkan diri sendiri dan merasa tidak memerlukan orang lain). Yang menyedihkan, bahkan di dalam gereja sendiri, paham individualisme ini juga terjadi. Ada jemaat yang merasa kebutuhannya tidak terpenuhi di sebuah gereja, pada akhirnya memutuskan untuk pindah ke gereja lain. Betapa tiap orang menginginkan agar kebutuhannya terpenuhi. Tapi orang Kristen harus menggunakan filter untuk menyaring semua filosofi atau pengajaran yang berkembang yang menjadi tantangan kehidupan orang Kristen. Salah satu contoh yang dapat kita lihat adalah banyaknya kawin-cerai karena orang-orang menganggap bahwa pernikahan bukan lagi sebuah hal yang sakral. Anak-anak juga tidak lagi mau dididik di dalam keluarga. Semua tantangan bagi kehidupan orang Kristen ini telah diwaspadai oleh Rasul Paulus seperti yang dinasihatkannya kepada jemaat di Kolose dalam perikop hari ini. Rasul Paulus menasihatkan agar tiap anggota keluarga menjalankan setiap peran dan tanggung jawab masing-masing.

Ayat 18: istri-istri dinasihatkan untuk tunduk kepada suami, seperti halnya istri-istri tunduk kepada Tuhan. Dengan tunduk kepada Tuhan dan suami, istri-istri akan dapat menjalankan peranannya sebagai orang Kristen. Lalu bagaimana apabila sang suami tidaklah seorang yang takut akan Tuhan? Istri-istri tetap harus tunduk kepada suami. Namun, apabila itu sudah berkenaan dengan hal-hal yang prinsipil yang berhubungan dengan relasi dengan Tuhan, maka istri-istri harus lebih taat dan tunduk kepada Tuhan daripada kepada suami (Kisah Para Rasul 5:29).

Ayat 19: suami-suami dinasihatkan untuk mengasihi istri. Dalam ayat ini, kasih yang dimaksud adalah kasih agape. Mungkin, di awal terbentuknya relasi suami dan istri (berpacaran, bertunangan, dan menikah), relasi tersebut dimulai dengan kasih eros. Namun kasih eros ini harus dikembangkan terus-menerus untuk menjadi kasih agape, kasih yang penuh pengorbanan, kasih tanpa syarat. Suami-suami harus tetap mengasihi istri bagaimanapun keberadaan istri, sekalipun mereka tidak tunduk atau taat. Suami-suami harus terus belajar untuk memiliki kasih seperti yang disebutkan dalam 1 Korintus 13:4-7. Suami-suami tidak boleh memperlakukan istri-istri dengan kasar. Dan apabila ini dijalankan, maka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat dihindarkan. Berdasarkan survei tahun 2010, salah satu penyebab perceraian di Indonesia adalah hilangnya keharmonisan dalam rumah tangga. Apabila ada kasih dalam rumah tangga, maka keharmonisan suami-istri akan tetap terjaga dan menjadi keluarga yang berbahagia di dalam Tuhan.

Ayat 20: anak-anak dinasihatkan untuk mentaati orang tua dalam segala hal. Konteks “dalam segala hal” menunjukkan ketaatan secara penuh kepada Tuhan. Bagaimana apabila ada orang tua yang tidak takut akan Tuhan? Kembali lagi kepada prinsip bahwa kita harus lebih taat kepada Tuhan daripada kepada manusia. Apabila anak-anak taat kepada orang tua, artinya dia taat kepada otoritas yang lebih tinggi dari dia, maka di luar pun anak-anak tersebut akan taat kepada guru, kepada hukum, dan kepada otoritas lain yang lebih tinggi dari dia selain orang tua. Dan terutama, anak-anak yang taat kepada orang tua, akan mudah untuk diajar taat kepada otoritas Firman Tuhan.

Ayat 21: orang tua dinasihatkan untuk mendidik anak-anak. Kata bapa-bapa dalam perikop ini menggunakan kata yang sama dengan dengan kata orang tua dalam Ibrani 11:23. Ini berarti tanggung jawab mendidik anak-anak adalah tanggung jawab kedua orang tua, bukan hanya tanggung jawab ayah.

Ayat 22: hamba-hamba dinasihatkan untuk taat kepada tuan-tuannya di dalam segala hal.

Ayat 1: tuan-tuan dinasihatkan untuk berlaku adil dan jujur kepada hamba-hambanya karena tuan-tuan juga mempunyai Tuan di sorga. Tuan-tuan harus memberikan apa yang menjadi hak daripada hamba-hambanya, misalnya memberi upah pada waktu yang tepat dan dalam jumlah yang sesuai.

Ayat 2-4: keluarga Kristen harus bertekun di dalam persekutuan, di dalam doa. Semua anggota keluarga harus diajak ikut bersekutu di dalam doa, baik anak-anak maupun hamba-hamba. Dimana seluruh anggota keluarga sungguh-sungguh menundukkan diri di hadapan Allah bersama-sama, di situ anugerah Allah tercurah bagi keluarga tersebut. Keluarga-keluarga Kristen juga dinasihatkan untuk mendoakan para hamba Tuhan (gembala gereja, misionaris, dll.). Jemaat juga harus mendukung para gembala gereja di dalam doa, terkhusus dalam pemberitaan Firman Tuhan, agar Allah berkenan membukakan rahasia-rahasia yang tersimpan dalam Firman Tuhan untuk disampaikan kepada jemaat, termasuk di dalam pemberitaan Injil.

Ayat 5: orang-orang Kristen dinasihatkan untuk hidup menjadi berkat bagi orang-orang lain. Salah satu langkah praktisnya adalah dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak hambar. Kata-kata yang dikeluarkan oleh orang Kristen haruslah kata-kata yang penuh berkat, yang memiliki rasa, sama seperti garam yang memberikan rasa kepada masakan.