Ringkasan Khotbah

Sekuler (bahasa Latin“saeculum”: berhubungan dengan ruang dan waktu) artinya adalah hal2 yang sama sekali tidak berhubungan dengan agama (bersifat duniawi). Sekularisme adalah paham yang berpandangan bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pada ajaran agama, dan manusia tidak memerlukan Tuhan. Sekularitas berarti perilaku yang mau memisahkan diri dan melawan agama (Sang Ilahi) dengan menggunakan rasionalisme.

Henry Nouwen (pastor Katolik, dosen di Harvard dan Yale) menyampaikan pandangannya mengenai sekularitas yang  terjadi di Belanda: “Dunia sekuler di sekeliling kita berseru dengan suara keras: “Kita dapat mengurus diri kita sendiri. Kita tidak butuh Allah, gereja atau pelayannya. Kita dapat menguasai keadaan. Dan seandainya tidak, lalu kita harus bekerja lebih keras untuk dapat menguasainya. Masalahnya bukanlah kurang iman, tetapi kompetensi. Allah, gereja dan pelayannya selama berabad-abad berperan untuk menutup lubang tidak adanya kompetensi. Sekarang lubang itu sudah ditutup dengan cara lain, dan kita tidak butuh lagi jawaban rohani terhadap soal-soal praktis”.

Nabi Mikha hidup di tengah sekularitas di jamannya (tahun 8 SM, sebelum orang Israel mengalami pembuangan).

Israel sedang dalam kemajuan di bawah pemerintahan Raja Yerobeam dan Raja Ahab. Tetapi, akhlak orang Israel begitu bobrok. Perekonomian relatif maju, tetapi kerohanian begitu mundur. Para hakim pun bisa disuap. Agama orang Kanaan sangat berpengaruh sehingga Nabi Mikha harus mengingatkan bangsa Israel tentang dosa penyembahan berhala. Bahkan orang yang mengaku percaya kepada Allah pun mempunyai pemahaman yang salah akan Allah. Dalam rumah tangga sendiri pun, anak-anak tidak lagi menaati orangtua. Semua lapisan masyarakat sudah sedemikian berdosa dan tidak ada seorang pun yang bisa dipercaya (ayat 2-6).

Meski berbeda kira-kira 29 abad, sekularitas di jaman kita sekarang tidak jauh berbeda dengan di jaman Nabi Mikha sehingga Firman Tuhan hari ini tetap relevan dengan kehidupan kita. Di jaman sekarang banyak koruptor, hakim bisa disuap, agama pun diselewengkan, bahkan yang mengaku mengenal Allah pun mempunyai pemahaman yang salah akan Allah, kenakalan anak-anak juga terjadi. Karena kebobrokan akhlak itu, Nabi Mikha menyampaikan hukuman Tuhan bagi orang Israel. Namun di saat yang bersamaan, juga disampaikan pengharapan (ayat 7-13). Ada beberapa hal penting yang bisa kita teladani dari Nabi Mikha ketika hidup di tengah jaman sekuler:

  1.  Tinggal dalam Tuhan dan menikmati hadirat-Nya (ayat 7)
    Nabi Mikha “menunggu-nunggu Tuhan” (kata Ibrani, “tsapah”, dalam bentuk qal (bentuk kata dasar) berarti “to watch”, dalam bentuk piel (bersifat aktif, menyatakan proses dari tindakan menjadi suatu status keberadaan)  berarti “to watch closely”). Di tengah sekularitas, Nabi Mikha ingin menikmati kedekatan dengan Tuhan. Hal inilah yang hilang dalam kehidupan orang Israel. Orang Israel melihat Tuhan begitu jauh. Kita pun perlu untuk senantiasa menikmati kedekatan dengan Tuhan di tengah sekularitas, sehingga kita bisa melihat bagaimana dosa-dosa kita dinyatakan, dan melalui pengakuan, kita akan diperbaharui ke arah yang Tuhan kehendaki; kita mengalami proses pengudusan (santifikasi). Ini juga undangan yang disampaikan oleh Nabi Mikha kepada orang-orang Israel.
  2. Menyadari keterbatasannya sebagai manusia berdosa dan bahwa hanya Tuhan yang bisa menggembalakan dirinya untuk bisa berjalan dalam kebenaran di tengah sekularitas, Nabi Mikha menyampaikan permohonan kepada Allah dalam ayat 14-20 yang sejalan dengan Mazmur Raja Daud dalam Mazmur 23. Tongkat Sang Gembala Agung berperan untuk mendidik dan mendisplinkan kita, karena sebagai domba kita begitu mudah melenceng, ingin mengambil jalan kita sendiri. Dalam Mazmur 23, memang disebutkan bahwa ada gada Sang Gembala Agung yang melindungi kita dari musuh, tapi kita juga harus mengingat bahwa kita memerlukan tongkat Sang Gembala Agung untuk memukul/menghajar kita dan menarik kita kembali dalam jalan kebenaran ketika kita melenceng.

Di sepanjang sejarah, banyak orang yang tidak mengakui keberadaan Allah. Tokoh eksistensialisme (aliran filsafat; manusia individu bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah) Jean-Paul Sartre berkata: “lepas dari Allah, saya bertanggung jawab penuh akan diri saya”. Berlawanan dengan itu, C. S. Lewis berkata: ”Jika saya memiliki kerinduan yang tidak dapat dipuaskan oleh pengalaman apa pun di dunia ini, maka penjelasan yang paling mungkin adalah: saya diciptakan dari dunia lain”. Hanya Allah yang dapat memuaskan kerinduan kita karena memang kita diciptakan oleh Dia, bagi Dia, dan untuk Dia.

Dalam Mazmurnya, Asaf berkata: “Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa; Kau binasakan semua orang, yang berzinah dengan meninggalkan Engkau. Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya (Mzm 73:27-28). Kiranya kerinduan dekat dengan Allah senantiasa kita miliki dan kiranya Allah yang senantiasa menuntun kita untuk menjalani hidup di tengah sekularitas.