Pengkhotbah

Perikop
Efesus 5:22-28,32

Ringkasan Khotbah

Ayat 22-28 adalah penjabaran dari perintah di ayat 18 yaitu hidup penuh dengan Roh Kudus. Hidup penuh dengan Roh Kudus bukan hanya berbicara hal spektakuler (keajaiban, dsb) tapi juga hal sehari-hari. Bukan hanya mengenai kehidupan bergereja tapi juga dalam keluarga. Hal kerohanian harus menjangkau setiap sisi kehidupan kita. Ada 2 perintah mengenai suami isteri.

A. Istri tunduk kepada suami

Suami ditempatkan sebagai kepala dan istri sebagai tubuh, karena itu istri perlu tunduk kepada suami dalam segala sesuatu (ayat 24), sebagai tanda tunduk kepada Tuhan. Para pemudi perlu menjadikan ini sebagai pertimbangan/kriteria calon pasangan, bukan hanya ketampanan, penuh perhatian, dll, tetapi terutama apakah bisa tunduk kepada dia dalam segala sesuatu. Untuk itu perlu mencari tahu pola pikir, pandangan, kebiasaan, permintaan, dst dari si calon, adakah yang kita tidak bisa tunduk. Kalau ada, apalagi berhubungan dengan hal rohani, sebaiknya jangan menikah. Kriteria iman adalah hal yang khususnya harus diutamakan, bukan hanya status Kristen, tapi sungguh-sungguh beriman atau tidak. Jangan sampai kesulitan atau menderita karena ternyata setelah menikah bahwa suaminya tidak sungguh-sungguh beriman dan timbul hal-hal dimana tidak bisa tunduk kepada suaminya. Tunduk kepada suami adalah hal yang sulit. Ayat 33 memperhalus kata tunduk menjadi kata hormat, tetapi untuk hormat dalam segala hal pun tidak mudah. Penyebabnya adalah kekuatiran bahwa suami akan menjadi sewenang-wenang kalau isteri tunduk. Satu hasil penyelidikan menyatakan bahwa sebagian besar suami cenderung lebih membutuhkan dihormati daripada dikasihi.

Dalam buku ‘Love and Respect’ (Dr. Emerson Eggerichs) dijelaskan 6 hal yang perlu diperjuangkan isteri dalam menghormati/tunduk kepada suami:

1. Belajar untuk setuju dan mendukung penuh dalam pekerjaan dan usaha suami. Ungkapkan bahwa anda menghargai pekerjaan dan profesi suami. Sebisa mungkin jangan mengkritik profesi suami.

2. Biasakan mengungkapkan terima kasih telah menghidupi keluarga. Minimal waktu gajian bilang terima kasih.

3. Jadikan suami pemimpin, dalam arti pemilik otoritas tertinggi dalam keluarga. Pada waktu mendengar keputusan suami, kita tunduk, jangan kritik dan kalau bisa puji. Jangan merendahkan martabat suami di depan orang lain terutama anak-anak.

4. Hargai nasehat/jalan keluar yang diberikan suami. Bila merasa kurang baik pun jangan langsung dipotong tapi pikirkanlah dan hargailah.

5. Jadilah teman dalam melakukan hal-hal yang disenangi suami bersama-sama.

6. Sebisa mungkin penuhi keinginan suami untuk berhubungan seks. Meski sedang tidak ‘mood’ kalau masih bisa sebaiknya dipenuhi.

B. Suami mengasihi istri

Suami yang dipenuhi oleh Roh Kudus adalah suami yang mengasihi istri, yang menjadi kepala seperti Kristus terhadap gereja. Untuk itu suami harus meneladani dan tunduk kepada Kristus. Kristus mengasihi jemaat dengan menyerahkan diri bagi jemaat, begitu pula suami harus berkorban, mengalah dan bahkan berani mati untuk isterinya. Suami juga harus mengusahakan agar isterinya menjadi kudus, cemerlang, tanpa cacat. Mengasihi isteri seperti diri sendiri berarti harus mengasuh dan merawat isteri, baik fisik maupun hati. Kebalikan dari suami, bagi isteri kasih jauh lebih dibutuhkan daripada hormat.

6 hal yang perlu diperjuangkan suami dalam mengasihi isteri menurut buku ‘Love and Respect’:

1. Mengusahakan berada dekat dengan isteri dan ada waktu berbicara dengan isteri akan membuat isteri yakin dia masih dicintai suami. Sebisa mungkin jangan menolak ketika isteri minta waktu berbicara.

2. Biasakan untuk menceritakan pikiran, pendapat dan perasaan kita. Suami yang tidak biasa membicarakannya akan menimbulkan kecurigaan dalam hati isteri sehingga bertanya-tanya atau bahkan berusaha jadi detektif.

3. Mendengarkan cerita isteri. Isteri memiliki kebutuhan untuk didengarkan. Walaupun ada hal-hal yang kita tidak setuju, jangan langsung dipotong. Jangan cepat berusaha memberikan pemecahan dari masalah yang diceritakan, karena seringkali isteri hanya ingin didengarkan, bukan diberikan solusi. Sebaiknya suami bertanya dulu apakah isteri ingin diberikan solusi atau hanya ingin didengarkan.

4. Membicarakan satu masalah sampai tuntas. Seringkali suami merasa pembicaraan satu masalah sudah selesai tetapi isteri belum. Bila isteri masih mengungkit-ungkit masalah lalu, ada kemungkinan masalah tersebut belum tuntas dibicarakan.

5. Mencari cara untuk memberitahu bahwa kita masih setia kepada isteri, bahwa isteri kita adalah satu-satunya wanita yang kita kasihi. Dapat dikatakan bahwa kebutuhan terdalam isteri adalah untuk mengetahui kesetiaan suami. Itulah sebabnya isteri terkadang bertanya apakah suami masih mencintainya atau tidak.

6. Buatlah isteri menyadari bahwa anda sangat menghargai dan menganggap penting isteri anda.

Ay 33 adalah intisari kedua perintah ini. Kedua hal ini saling berhubungan, apabila suami mengasihi istri maka istri akan menghormati suami. Apabila istri menghormati suami maka suami akan mengasihi istri. Bila suami tidak mengasihi istri, istri pun tidak menghormati suami, dan itu mengakibatkan suami makin tidak mengasihi istri, dan seterusnya (Crazy Cycle) yang mengakibatkan keluarga yang makin tidak harmonis. Suami jangan tunggu dihormati istri dulu baru mengasihi, istri jangan tunggu dikasihi suami dulu baru menghormati. Suami harus sadar bahwa kalau istri marah-marah melawan suami, itu adalah jeritan hati istri ingin dikasihi. Dan kalau suami sikapnya kasar atau kebalikannya dingin dan diam saja, itu adalah jeritan hati ingin dihormati. Karena itu marilah terlebih dahulu mengambil inisiatif untuk mengasihi dan menghormati sehingga yang terjadi adalah ‘Energizing Cycle’, dimana suami mengasihi istri, istri pun menghormati suami, dan karena itu suami pun makin mengasihi istri dan seterusnya, sehingga keluarga semakin lama semakin harmonis dan bahagia.