Pengkhotbah

Perikop
Mazmur 128:1-6

Ringkasan Khotbah

Mazmur 128:2 menunjukkan hasil pekerjaan sang suami. Ini menggambarkan suami yang tidak bergantung pada orang lain, dan tidak berhutang. Keluarga menjadi stabil, istri dan anak tenang. Secara nyata, banyak masalah keluarga yang timbul karena masalah ekonomi. Di sini tidak jelas disebutkan apa pekerjaan sang suami, karena memang firman Tuhan sering tidak menyinggung hal-hal yang praktis. Tapi dari ayat ini kita bisa belajar bahwa apabila seorang pria belum mandiri secara mental, rohani dan ekonomi, sebaiknya jangan menikah dulu.

Ayat 3 adalah gambaran tentang sang istri. Subur berarti banyak menghasilkan banyak buah. Seorang ibu pekerjaannya banyak. Ayah memang banyak kerja di kantor, tapi tidak sebanyak pekerjaan ibu: memasak, mencuci, memberi makan anak, membina anak, dll. Pekerjaan rumah tangga begitu banyak. Tetapi semua bisa membuahkan hasil nyata karena diatur dengan baik. Di Jepang segala sesuatu dihitung dengan uang, bahkan dihitung per jam. Kalau hendak dihitung-hitung, gaji ibu lebih banyak dari suami. Tetapi seringkali ibu tidak dihargai oleh suami dan anak, dan malah sering diomeli. Di jaman sekarang ini banyak juga wanita yang tidak menganggap pentingnya pekerjaan rumah tangga ini dan sebaliknya mencari pekerjaan lain yang menghasilkan uang sehingga menelantarkan hal ini. Karena itu kita perlu lebih menghargai jerih lelah ibu atau isteri kita yang melakukan pekerjaan rumah tangga ini.

Dalam ayat 3 ini ada juga penjelasan tentang anak-anak. Mereka diumpamakan seperti tunas pohon zaitun. Kalau melihat pohon zaitun, kita akan sangat kagum. Warna daunnya hijau tapi berbeda dgn hijau biasa. Sangat menyegarkan mata. Ini  menggambarkan anak-anak yang bertumbuh baik, segar, dan disukai oleh orang lain. Jaman sekarang, seorang anak dari kecil sudah disibukkan dengan bermacam-macam kursus, demi pengembangan bakat atau supaya lulus ujian, sehingga mereka tidak segar lagi. Dari masa kecil mereka sudah diberikan beban lebih. Mengenai pendidikan anak, hal ini bukan hanya di sekolah, tapi dimulai dari disiplin dalam keluarga. Satu kunci bagi kita dalam ayat 3 adalah kata “sekeliling meja”. Artinya bersama di meja makan, bercanda, berbicara. Saat ini hal itu sudah sangat sulit. Bahkan di meja makan pun semua sibuk dengan kegiatan masing-masing: kirim email, main game, browsing internet, dll. Karena itu, orangtua perlu mengatur dengan baik supaya ada waktu untuk makan bersama, ngobrol, belajar, baca firman. Seorang anak biasanya suka cerita tentang sekolah, teman, atau perasaannya. Tapi kalau orangtuanya tidak mau mendengar, maka ia akan lari ke game, menyendiri atau ke teman-temannya. Tapi hal berdoa dan membaca firman tidak boleh dipaksa melainkan harus dengan senang hati dari diri anak sendiri. Anak juga dapat belajar dengan diberikan tanggung jawab dalam hal ibadah dalam rumah tangga.

Kunci keluarga yang bahagia dan berkelimpahan adalah di ayat 1, yaitu:

  1. Takut akan Tuhan. Percaya pada Tuhan. Banyak orang Kristen mencari Tuhan saat butuh bantuan saja.. Akhirnya Tuhan dijadikan seperti pembantu. Perlu percaya sungguh, mengutamakan Tuhan.
  2. Hidup berdasarkan perintah-Nya. Menuruti firman Tuhan. Bukan menuruti jalan yang enak yang disukai saja. Keluarga yang menerapkan ini dari kecil akan berbahagia. Yang utama adalah takut Tuhan, baru kemudian orang tua.

Dalam Alkitab banyak contoh keluarga yang tidak baik, bahkan sampai kena kutuk. Misalnya keluarga imam Eli. Dia memelihara Samuel. Tapi dia punya 3 anak laki-laki yang senang mencemarkan nama Tuhan. Mereka akhirnya dibunuh oleh Tuhan. Itu karena Eli tidak menegur anak-anak. Sehingga mereka menjadi sedemikian jahat. Seperti keluarga Ishak juga. Ishak suka Esau, Ribka suka Yakub. Jadi ada ketidakseimbangan dari kasih orang tua. Di Perjanjian Lama banyak contoh keluarga yang bermasalah.

Tapi di Perjanjian Baru banyak contoh yang baik. Misalnya Zakharia dan Elisabet, istrinya yang mandul. Meski mandul, Elizabet tetap pengertian dan menolong, dan saat Zakharia menjadi bisu, Elisabet juga tetap menghormatinya (Lukas 1). Seperti Yusuf dan Maria juga, Yusuf menerima dan menghormati Maria meskipun Maria hamil di luar pernikahan karena Roh Kudus. Yusuf berusaha untuk menceraikan Maria untuk melindungi dia, walaupun kemudian Tuhan melarangnya. Dan Yusuf cepat mengambil keputusan membawa lari Maria ke Mesir karena ada Herodes saat itu yang berniat buruk. Yusuf adalah teladan suami yang baik yang mengutamakan suara Tuhan. Maria juga luar biasa karena dia tetap menghomati dan mengutamakan suaminya. Waktu Yesus hilang di Yerusalem, perkataan Maria kepada Yesus cuma satu kalimat, dan tidak marah. Dan dia juga tidak menyalahkan suami. Mengutamakan suami dalam bahasa Jepangnya ご主人を建てる。Dalam keadaan apapun mengutamakan Tuhan dan suami. Contoh yang berikutnya adalah Akwila (Inggris: Aquila) dan Priskila (Inggris: Priscilla). Mereka bekerja sama dengan Paulus dan mereka juga mengajar. Dalam Alkitab 6 kali disebut. Akwila dan Priskila 3 kali, dan Priskila dan Akwila 3 kali.

Bagi orang yang belum berkeluarga juga firman Tuhan yang di atas adalah sangat penting, yang terutama yaitu takut akan Tuhan.