Ringkasan Khotbah

Tuhan Yesus sudah berjanji akan memberikan kuasa melalui Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:8), dan ini terwujud pada hari Pentakosta. Andaikata tidak ada Natal, maka tidak ada Juruselamat, andaikata tidak ada Paskah maka tidak ada pengharapan, dan andaikata tidak ada Pentakosta tidak ada gereja. Yang ada hanya jemaat di Yerusalem. Jadi makna kejadian hari Pentakosta sangat penting dan ada hubungan erat dengan kita. Tapi dalam gereja Kristen, ada perbedaan dalam merayakan hari Pentakosta. Ada gereja yang merayakannya sebagai tanda peringatan saja. Ada juga gereja yang sangat menekankan Pentakosta, sehingga tiap Minggu dianggap hari Pentakosta. Ini terjadi karena ada tafsiran yang berbeda tentang Firman Tuhan, tentang misi. Kita harus tetap memiliki pengertian yang benar tentang Firman Tuhan.

Pada hari Pentakosta, murid-murid yang sungguh percaya, sungguh mengikuti Yesus, pengikut yang setia berkumpul. Sebelumnya, Yesus masuk ke tempat murid-murid berkumpul, menyampaikan salam damai sejahtera, dan menghembus Roh Kudus (Yohanes 20:21-22). Ada tafsiran yang berkata bahwa Tuhan Yesus membuat demikian sebagai lambang pada Roh Kudus akan datang. Tetapi hal ini tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Jika memang menunjukkan hal di masa depan, seharusnya kata “terimalah” ditulis dengan future tense. Tetapi pada kenyataannya, bukan dengan future tense, tapi dengan auristo tense (hanya ada dalam bahasa Yunani), yaitu bentuk masa lampau. Sehingga artinya sudah terjadi satu kali. Jadi murid-murid sudah menerima Roh Kudus. Kemudian mereka berkumpul dan berdoa. Tapi hanya satu yang belum terjadi. Yaitu mereka belum bisa bersaksi, memperhatikan orang lain, memberitakan Injil. Maka Tuhan Yesus berkata, tunggulah kuasa yang akan diutus. Karena itulah perlu kepenuhan Roh Kudus, secara khusus, supaya mereka bisa bersaksi.

Dalam Yohanes 7:37 Roh Kudus dilambangkan sebagai air yang mengalir. Di Yerusalem ada danau terbesar, yaitu danau Galilea. Di selatannya ada mengalir sungai Yordan, mengalir terus ke Laut Mati. Laut Mati ini, terus menerus menerima air, tapi tidak mengalirkan lagi, sehingga kadar garamnya 7 kali dari air laut biasa, sehingga tidak ada ikan yang hidup. Tipe orang Kristen yang hanya menerima saja, mendengar khotbah saja, tapi tidak mengalirkan sama seperti laut mati ini. Kita perlu melayani jangan hanya menerima saja. Seperti Danau Toba di pulau Sumatera, sumbernya adalah dari dalam tanah, dan digunakan sebagai sumber untuk bendungan Asahan, yang nantinya digunakan untuk pembangkit tenaga listrik. Memperkaya wilayah di sekitarnya. Kita pun haruslah seperti ini, bisa memperkaya yang lain.

Istilah kepenuhan dalam kepenuhan Roh Kudus perlu dimengerti secara jelas. Kata ini banyak digunakan dalam Alkitab. Ada untuk hal jasmasni, seperti saat Tuhan Yesus memberi makan 5000 orang dari roti dan ikan, mereka penuh. Tapi ada juga dalam makna emosi, seperti di Efesus, karena pelayanan rasul Paulus, banyak orang meninggalkan berhala, dan mereka penuh dengan emosi marah. Tetapi yang sangat penting bagi kita, kepenuhan Roh Kudus artinya adalah Roh Kudus menguasai, mempengaruhi, menggerakkan kita. Seperti Stefanus, murid yang mati martir, adalah orang yang dipenuhi Roh Kudus. Jemaat pertama di Yerusalem memerlukan diaken, dan ada 7 orang yang dipilih, yaitu orang yang beriman dan dipenuhi Roh Kudus. Bagaimana cara kita bersaksi:

  1. Melalui keberadaan (Kisah Para Rasul 2:42-47). Memiliki pengaruh keluar, karena ada sukacita, ada pujian. Inilah kesaksian pertama.
  2. Melalui perbuatan kasih: Petrus yang penuh Roh Kudus, saat melihat orang lumpuh di Bait Allah, merasa iba, dan menyembuhkan.
  3. Melalui kata-kata: seperti Petrus yang langsung bersaksi dengan kata-kata. Anggota jemaat pada mulanya semua dipenuhi Roh Kudus, sehingga yang berkata-kata bukan Petrus saja (Kisah Para Rasul 4:29).

Jadi kapan kepenuhan Roh Kudus terjadi, kepada siapa, dan mengapa?

Kapan: berulang-ulang, seperti pada waktu gereja mula-mula, terjadi baik secara pribadi maupun kelompok.

Kepada siapa: di Samaria kepada orang kafir, Kornelius yang belum percaya, bisa kepada siapa saja. Barangsiapa merendahkan diri, membaca Firman, ada kuasa Roh Kudus.

Mengapa: kita tidak bisa mengkotak-kotakkan bahwa kepenuhan Roh Kudus akan terjadi kalau begini atau begitu. Kita tidak boleh membatasi pergerakan Roh Kudus. Kalangan Karismatik menekankan mengenai Roh Kudus, tetapi ada ekstrim yang berkata kalau kepenuhan Roh Kudus harus diikuti bahasa lidah, bahasa roh. Akan tetapi yang penting bukanlah tanda-tanda, tetapi isinya.

Kita sudah bertobat, percaya Tuhan, suka melayani, itu bagus, tetapi mari kita selangkah lebih lagi, mari kita bersaksi. Kita ada banyak pikiran, masalah, tapi mari kita berdoa agar kita dipenuhi Roh Kudus sehingga bisa kuat dalam menghadapi semuanya. Mari kita berdoa agar hidup kita bisa dipakai oleh Tuhan untuk melaksanakan amanat Agung, baik di dalam keluarga, pekerjaan, dan bidang lainnya.