Ringkasan Khotbah

Dalam pasal ini, Paulus ingin mengarahkan orang-orang percaya bahwa kehidupan saat ini tidak hanya berakhir sampai saat ini, tapi ada kehidupan yang kekal dan panjang setelah kematian nanti. Demikian juga dengan ibadah yang kita lakukan saat ini, tidak berhenti ketika kita meninggalkan dunia, tapi di sorga nanti pun kita akan tetap beribadah kepada Tuhan. Dalam Yohanes 6:40,54 misalnya disebutkan tentang adanya kebangkitan orang mati. Selama Yesus di dunia, Yesus berbicara mengenai kebangkitan dan akhir zaman, misalnya dalam 1 Korintus 6:14, 15:12-13, 40-54. Dalam pengakuan Iman Rasuli, kita juga mengakui “kebangkitan orang mati dan hidup yang kekal”. Bapak-bapak gereja bergumul untuk merumuskan konsep iman Kristen dimana pada masa itu banyak bidat yang menyerang kekristenan. Pada masa bapak-bapak gereja, ada juga muncul filosofi-filosofi, misalnya filosofi Plato yang mengatakan bahwa jiwa terpenjara dalam tubuh. Ajaran ini bertentangan dengan Alkitab yang menyebutkan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Melalui hal ini kita melihat perlu adanya pengakuan iman yang sungguh-sungguh yang didasarkan pada kebenaran Alkitab.

Bagi orang beriman, kebangkitan adalah sebuah transisi ke dalam kemuliaan dimana tubuh kita akan menjadi seperti tubuh Kristus setelah bangkit (Filipi 3:21). Ketika Yesus bangkit, Yesus mengenakan tubuh lama sehingga masih ada bekas paku dan tombak, tapi Yesus sudah tidak diikat lagi oleh ruang dan waktu. Kekristenan mempunyai keyakinan bahwa jiwa terus hidup setelah kematian yang disebut “immortality of the soul” (Westminster Confession of Faith Bab 32 no. 1). Setelah kematian, akan hanya ada dua tempat bagi jiwa, yaitu sorga atau neraka.

Mengapakah Paulus menyinggung masalah kebangkitan di Gereja Korintus?

  1. Karena adanya fakta kebangkitan Yesus
  2. Di antara jemaat ada yang tidak mengenal Allah (ay. 34)
  3. Ada yang bertanya-tanya tentang kebangkitan ini (ay. 35)

Untuk tubuh kebangkitan, ada tiga istilah yang digunakan untuk menggambarkannya, yaitu:

  1. Mulia (ayat 40, 43) –> ciri tubuh sorgawi adalah tubuh mulia (glory). Bandingkan dengan Efesus 6:24 “… kasih yang tidak binasa”.
  2. Kekal (ayat 42) –> dalam bahasa Yunani ditulis dengan “aphtharsia” yang artinya “immortality” = “kekekalan”. Kata “aphtharsia” muncul 7 kali dalam Perjanjian Baru. Louis Berkhof menyebutkan bahwa “immortality hanya mengacu kepada pribadi Allah saja”. 1 Timotius 6:16 (KJV) –> “who only hath immortality”. Dan sifat immortality ini juga diberikan oleh Yesus kepada orang-orang percaya.
  3. Kuat (ayat 43). Kata kuat ini menunjukkan bahwa tubuh rohani berbeda dengan tubuh duniawi yang sering kali mengalami kelelahan. Dalam Wahyu 7:15 dan 22:5, tubuh ini disebutkan tidak akan mengalami kelelahan lagi, tidak memerlukan istirahat.

1 Tesalonika 4:13-18 juga menekankan mengenai berkumpulnya orang-orang percaya pada saat kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Peran dan tanggung jawab kita dalam menantikan kedatangan Tuhan:

(1) Jangan berbuat dosa lagi (ay. 34); (2) Berdirilah teguh dan jangan goyah (ay. 58)

Ay. 19 –> “dalam segala sesuatu kita harus mengarahkan pengharapan pada Kristus”.

Ay. 58 –> walau segala tantangan, penderitaan, sakit-penyakit muncul, arahkanlah pandangan pada Kristus. “Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan” (NIV: always give yourselves fully to the work of the Lord, NLT: always work enthusiastically for the Lord). Dari ujung kaki sampai ujung rambut, kita harus giat bekerja untuk Tuhan, antusias untuk Tuhan.

Orang Kristen harus giat, harus bergairah, harus mati-matian untuk Tuhan, mengejar mahkota abadi yang Tuhan peruntukkan untuk kita. Seperti seorang atlit yang menguasai diri dalam pertandingan, itu jugalah yang melandasi iman kita. Kita harus menguasai diri dalam segala sesuatu.