Pengkhotbah

Perikop
Mazmur 26:1-12

Ringkasan Khotbah

Hari ayah, hari yang didedikasikan untuk menghargai usaha para ayah di dunia untuk keluarganya, meskipun tidak sempurna adanya. Para ayah selalu berjuang untuk menyejahterakan keluarganya, dengan harapan agar keadaan lebih baik daripada apa yang dialaminya. Melalui momen hari ayah ini, kita belajar salah satu karakter yang patut dimiliki oleh semua orang percaya–terutama para ayah–yaitu kesalehan. Dalam perenungan kita kali ini, kita belajar melalui kisah tokoh Alkitab yaitu Daud. Ada 3 poin yang dapat kita pelajari tentang kesalehan Daud dalam bacaan Mazmur 26:

1) Percaya kepada Tuhan dengan segenap hati (ayat 1). Dalam hidupnya, Daud banyak dipandang remeh/rendah oleh orang-orang di sekitarnya. Dalam kisah hidupnya seperti yang tertulis di dalam 1 Samuel, Daud dianggap rendah bukan hanya dari orang lain (Saul, Goliat) tetapi dari keluarganya sendiri (ayahnya, saudara-saudaranya). Meskipun demikian, ia tidak pernah putus percaya pada Tuhan, malahan dalam semuanya itu ia semakin pasrah dan berserah kepada Tuhan. Ia yakin bahwa nilai dirinya, bukanlah apa yang ditetapkan oleh orang-orang disekitarnya tetapi oleh Tuhan, yang telah memilih dan mengangkatnya. Inilah perbedaan antara iman yang sejati dan palsu; dalam menghadapi keraguan dan pergumulan, iman sejati akan selalu menang karena Tuhan yang berperkara dan membela.

2) Cinta pada rumah kediaman Tuhan (ayat 8). Terkadang dalam kehidupan di dunia, kita sering melihat bahwa orang yang tidak percaya lebih sukses ketimbang orang percaya. Mengapa demikian? Apakah Tuhan tidak adil dalam penyertaannya? Hal yang sama juga menjadi pergumulan seorang pemazmur, seperti yang tertulis dalam Mzm 73:27-28. Pemazmur merenungkan “ketidakadilan” hidup di dunia ini, dan pada akhirnya ia mencapai suatu kesimpulan: orang percaya, harus percaya pada jaminan keselamatan yang dikaruniakan Tuhan, dan tidak memandang hanya pada apa yang ada sekarang di dunia tetapi akan apa yang akan diperoleh pada kelak nanti. Oleh karena itu, selama kita berada di dunia, kita harus tetap menjaga persekutuan kita dengan Tuhan, salah satunya adalah melalui persekutuan di rumah kediaman Tuhan (gereja). Persekutuan dengan Tuhan dalam rumah Tuhan/gereja adalah inisiatif dari Tuhan, sebagai tempat untuk persekutuan dengan sesama jemaat, persekutuan dengan Tuhan, dan tempat kemuliaan Tuhan dinyatakan.

3) Hidup dalam ketulusan=integrity (ayat 1, 11). Dalam seluruh segi kehidupan Daud, hati nuraninya sendiri bersaksi bahwa hidupnya ada dalam kemurnian. Mengutip seorang tokoh gereja, “Kebenaran (sejati) itu harus mempengaruhi kehendak, keinginan, ambisi, bahkan seluruh kepribadian orang percaya”. Iman dan ibadah dalam rumah Tuhan hanya dapat dibuktikan melalui integritas; seorang yang memiliki ketaatan dan kesetiaan kepada Allah dalam segenap perilakunya akan memiliki sikap dan perilaku yang sama saat di dalam maupun di luar gereja karena hidupnya merupakan ibadahnya.

Firman hari ini diawali dan diakhiri dengan bahasan tentang integritas Daud, secara simbolis menunjukkan keseluruhan pengakuan dan sikap Daud terhadap Tuhan.

Kesalehan, adalah warisan yang tidak akan hilang dari seorang ayah untuk anak-anaknya. Ayah yang saleh adalah kunci dari keluarga yang harmonis, dan merupakan bagian dari tanggung jawabnya sebagai perwakilan Tuhan dalam keluarga. Kiranya kita dapat belajar untuk hidup saleh dan berkenan kepada Tuhan.