Ringkasan Khotbah

Kita sering melakukan sesuatu taat tapi sambil menggerutu, atau taat karena takut pada pimpinan. Kita taat tapi tidak tahu dasarnya apa. Melalui Abraham kita belajar kasih sebagai dasar ketaatan.

Abraham tinggal di Haran sampai berumur 74 tahun dan kemudian Tuhan memanggilnya untuk meninggalkan Haran ke tempat yang tidak diketahuinya. Kemudian pada umur 100 tahun, Tuhan memberikan anak yang dijanjikan Tuhan yaitu Ishak. Pada perikop ini kemungkinan umur Ishak belasan tahun, Tuhan datang kepada Abraham dan meminta Abraham untuk menyerahkan anaknya yang dikasihi (ayat 2).

Sepertinya sikap Abraham biasa saja, tapi mari kita coba kita lihat dari sisi manusia yang mempunyai emosi dan akal budi. Apakah Allah pencemburu? Karena Abraham mulai condong kepada anaknya dibanding Allah. Padahal Ishak adalah anak yang dijanjikan Allah dan Allah sendiri yang memberikan. Ini adalah salah satu ujian yang berat.Pada usia 115-an tahun mungkin Abraham sudah mencapai kemapanan、budak dan ternak yang memadai. Tetapi Allah tidak membiarkan Abraham dalam kenyamanan tanpa menguji imannya. Mungkin malam itu Abraham tidak dapat tidur tenang dan pagi-pagi benar dia bangun (ayat 3) dan berangkat ke Moria. Lama perjalanan ke sana adalah 3 hari. Mungkin ini adalah perjalanan yang berat selama hidupnya karena bersama dengan Ishak anak yang akan dipersembahkan dan disembelih.

Mungkin di perjalanan Abraham melihat ke belakang ke kemahnya dan hendak pulang tetapi ketika melihat ke Gunung, Abraham menyadari tidak ada yang lebih dikasihinya selain Allah sehingga Abraham taat. Dalam mengiring Tuhan dalam ketaatan tidak selalu mulus. Mungkin kita lebih memilih kembali ke ‘tenda’ tertawa (kesenangan dunia) daripada menjalani jalan ketaatan yang berat.Tapi bila disuruh memilih,mari kita meneladani Abraham.

Meskipun Abraham belum mengerti mengapa harus mengikuti jalan yang berat tapi tetap taat. Ini merupakan gambaran Tuhan Yesus datang ke dunia. Tuhan Yesus sudah tahu dia akan menjalani jalan yang berat tetapi tetap taat. Meskipun Abraham sudah berusia lanjut tapi Tuhan mau memurnikan iman Abraham supaya dia benar menjadi Bapa orang percaya. Abraham tetap melalui jalan yang berat meskipun tidak mengerti dan tidak menemukan jawabannya tetapi dia mau taat.

Akhirnya Abraham dan Ishak berdua pergi ke atas gunung. Dalam perjalanan akhirnya Ishak bertanya dimana korban sembelihannya (ayat 7). Mungkin hati Abraham hancur tapi dengan pernyataan Iman Abraham mengatakan Allah yang akan menyediakan (ayat 8). Biasanya Abraham menyembelih kambing domba tapi sekarang dia akan menyembelih anaknya sendiri. Bagaimana caranya Abraham mengikat Ishak? Mungkin Ishak akan bertanya kenapa mengikat saya? Apakah saya yang akan dipersembahkan? Mungkin Ishak akan menangis. Tetapi Ishak pun taat untuk diikat. Abraham belum melihat Allah bahkan ketika Ishak sudah di atas mezbah. Ketika Abraham mengangkat pisau, ketika itulah Abraham mendengar suara Allah (ayat 12). Abraham pasti senang dan berkata inilah Jehova Jireh itu, Allah yang menyediakan tepat pada waktunya dan rencanaNya untuk kemuliaanNya. Disinilah Ishak melihat Iman Abraham, bapaknya dan meneruskan imannya menjadi berkat bagi banyak bangsa.

Abraham tetap taat menjalani jalan yang berat karena Abraham mengenal Allah dan percaya kepadaNya. Ishak adalah anak yang dikasihinya tetapi dia lebih mengasihi Allah. Bagaimana dengan kita. Siapa yang lebih kita kasihi? Suami, Istri, Anak, hal yang Tuhan beri atau Tuhan itu sendiri. Abraham melihat Ishak dikaruniakan oleh Tuhan tapi dia lebih mengutamakan Si Pemberi. Mari kita belajar dari Abraham. Buah dari ketaatan Abraham kita lihat di ayat 17-19, Abraham diberkati Allah. Mari kita juga taat meskipun berat karena di atas gunung Tuhan akan menyediakan dan biarlah kasih menjadi dasar ketaatan kita.