Pengkhotbah

Perikop
Yosua 24:14-31

Ringkasan Khotbah

Kita sering merayakan hari penting misalnya ulang tahun, Natal, dan sebagainya. Di Alkitab pun dicatat banyak perayaan. Pertama-tama pada zaman Nuh dimana Nuh mendirikan mezbah untuk menyembah Tuhan dan mengingat pekerjaan-Nya. Dalam PL juga saat Abraham akan mempersembahkan Ishak tapi dibatalkan oleh Tuhan dan sebagai ucapan syukur ia membuat mezbah sebagai perayaan. Yakub saat melarikan diri dari Esau setelah bangun dari mimpi bertemu Tuhan, ia mendirikan mezbah sebagai peringatan. Demikian juga dengan bangsa Israel di bawah Musa setelah menyebrangi Laut Merah. Mengapa hari peringatan dirayakan? Dan bahkan diulang?

Alasan pertama karena sifat manusia yang mudah lupa. Bahkan Tuhan sendiri yang memerintahkan untuk melakukan peringatan. Dalam perikop ini ada satu perayaan besar. Pemimpin bangsa Israel saat itu Yosua mengumpulkan segenap bangsa Israel dan pemimpin suku lalu ia berpidato (ayat 1-15). Isi pidatonya adalah betapa besar kasih Tuhan yang sudah dikerjakan bagi bangsa Israel mulai dari 400-500 tahun sebelumnya, Tuhan memanggil Abraham hingga saat bangsa Israel di Mesir diperbudak selama 40 tahun lalu oleh Musa dan Harun dibawa keluar dengan melakukan berbagai mukjizat dari Tuhan hingga akhirnya sampai di tanah perjanjian, dimana Tuhan berjanji kepada Abraham bahwa bangsa Israel akan menjadi berkat bagi seluruh bangsa.. Sebagai peringatan Yosua mengambil batu untuk mengingat perbuatan Tuhan (ayat 27). Bagaimana dengan kita, seberapa sering kita mengingat kembali perbuatan Tuhan atas diri kita, keluarga, bahkan gereja secara keseluruhan? Banyak yang saat datang ke Jepang dengan pergumulan dan melalui perjalanan panjang sebelum memutuskan ke Jepang hingga akhirnya menetap di Jepang dan bisa beribadah di gereja ini. Itu semua pasti ada penyertaan Tuhan maka kita perlu senantiasa mengingat akan kebaikan Tuhan.

Alasan kedua adalah setelah mengingat kembali maka bisa mengambil komitmen untuk kembali mengikuti Tuhan. Setelah tinggal di tanah perjanjian, Yosua menantang bangsa Israel untuk memulai kembali bersama Tuhan. Secara fisik mereka tidak lagi berjalan tapi secara rohani terus akan berjalan bersama Tuhan hingga akhirnya bisa memenuhi tujuan menjadi berkat bagi bangsa sekitar dan seluruh dunia. Yosua menanyakan kembali komitmen bangsa Israel melalui 3x tanya jawab. Jawaban bangsa Israel selalu sama yakni kami akan beribadah kepada Tuhan. Kata beribadah / melayani ini juga dipakai dalam Kej 2:5 pada kata mengusahakan tanah. Beribadah berarti seluruh perbuatan yang dikerjakan bersama Tuhan baik itu belajar, bekerja, ataupun membesarkan anak.  Memang manusia seringkali membagi perbuatan yang sifatnya religius dan sehari-hari (duniawi). Contohnya orang Kristen “hari Minggu” dimana pada hari biasa ia bekerja keras semata-mata untuk diri sendiri dan hal duniawi lalu setelah istirahat di hari Sabtu, maka mindset diubah saat hari Minggu dan pergi beribadah. Alkitab menolak hal tersebut karena yang diinginkan adalah hari biasa pun kita kerjakan untuk dan bersama Tuhan. Itulah ibadah yang sejati. Hasil dari perayaan yang diadakan Yosua adalah orang Israel hidup mengikut Tuhan di sepanjang zaman Yosua dan zaman para pemimpin yang hidup lebih lama dari Yosua. Melalui kejadian ini kita bisa ingat betapa penting mengingat kebaikan Tuhan dan menyatakan komitmen kita kembali termasuk pada HUT GIII ke-26 ini biarlah gereja kita berkomitmen lagi untuk mengikut dan beribadah kepada Tuhan.

Yosua mendirikan batu besar sebagai saksi. Untuk siapa? Inilah alasan ketiga melakukan perayaan. Dengan melihat batu tersebut mereka bisa mengingat kebaikan Tuhan dan menjelaskannya bagi orang disekitar dan juga generasi berikutnya. Ada 1 sifat manusia yang sama terlepas dari budaya yaitu mudah lupa akan hal baik yang diterima tapi ingat terus akan hal yang buruk. Selain itu juga ingat akan hal yang baik yang dilakukan bagi orang lain. Hal ini menyebabkan hubungan dengan orang lain termasuk di dalam gereja menjadi rusak. Meskipun kita berusaha untuk melupakan hal yang buruk yang dialami tetapi bukannya lupa malah semakin ingat. Walau demikian, Tuhan Yesus telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita dan tidak ada lagi hal lain yang lebih besar maka saat kita menerima kasih-Nya dan perbuatan besar-Nya, kita akan dapat melupakan hal buruk tersebut dan berhubungan baik dengan Tuhan sehingga hubungan dalam gereja bahkan secara negara pun bisa dipengaruhi. Kiranya ibadah HUT ini bukan untuk mengingat kehebatan diri karena pertumbuhan gereja sekarang, melainkan untuk memandang Tuhan dan mengingat kebaikannya lalu berkomitmen mengikut Tuhan. Dan itu semuanya boleh dinyatakan kepada orang disekitar dan diteruskan pada generasi berikutnya.