Ringkasan Khotbah

Apa sebenarnya alasan kita tidak perlu takut, apakah karena peristiwa kebangkitan Yesus? Ketakutan yang sangat besar dan pertama terjadi di dunia disebabkan oleh dosa. Kejadian 3:8- 10 “Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: ‘Dimanakah engkau?’ Ia menjawab: ‘Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Hal ini, terus berkembang hingga manusia semakin sulit bergantung kepada Tuhan melainkan berpusat pada diri sendiri, contohnya: Raja Saul. Semakin ia mengabaikan Firman Tuhan, ia semakin takut dilawan oleh Daud. Sedangkan Daud, ia menyadari kekuatannya yang sangat besar yaitu dekat dengan Tuhan. Ia berkata: “TUHAN di pihakku, Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Mazmur 118:6). Semakin dekat dengan Allah, semakin diberi pengharapan baru. Hanya Allah sendiri yang dapat menyelesaikannya. Itu yang telah dilakukan oleh Yesus di atas Kalvari.

Situasi ketakutan terjadi pada saat kebangkitan Yesus dapat kita lihat saat Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus serta Salome yang pergi ke kubur Yesus untuk meminyaki-Nya. Mereka takut tentang ”Siapa yang menggulingkan batu dari pintu kubur” (ayat 3). Takut ketika melihat bahwa pintu kubur Yesus telah terbuka (ayat 5). Takut setelah mendengar kebangkitan Yesus (ayat 8). Di tengah fakta inilah, malaikat Tuhan berbicara kepada mereka: Jangan takut! Inilah fakta kehidupan manusia. Baik sebelum atau sesudah menyaksikan kebangkitan, selalu ada rasa takut. Matius 28:8, ”Mereka segera pergi dari kubur dengan takut dan dengan sukacita yang besar.” Mengapa dalam sukacita mereka masih ada rasa takut? “Berita kebangkitan dari malaikat membuat mereka menjadi sukacita, dan seandainya iman mereka kuat, maka mereka tidak akan takut sama sekali. Tetapi faktanya, mereka masih takut menunjukkan bahwa mereka belum sepenuhnya bersandar pada kesaksian dari malaikat itu. Dan karena itu, Kristus lalu menunjukkan belas kasihanNya, dengan menemui mereka pada waktu mereka masih ragu-ragu, untuk membuang semua keraguan yang tersisa.”

Apa yang absolut di tengah pluralitas/kemajemukan dunia? Ada 4 hal yang absolut, yaitu: kejahatan, keadilan, kasih dan pengampunan. Lalu kapan kita menemukan basis pengampunan itu? Hanya ada disatu tempat dimana 4 hal ini semua disatukan yaitu di Kalvari/Gunung Golgota. Kejahatan: Yesus disalibkan; keadilan: Allah menghukum anakNya karena dosa; kasih: melalui tindakan Allah yang memberi AnakNya; pengampunan: ketika Yesus berkata: “Bapa, ampunilah mereka.” Dengan demikian, sangat nyata dasar iman kita: “Oleh kematian-Nya terhapuslah dosa kita, dan musnahlah kematian. Dan oleh kebangkitan-Nya pulihlah kebenaran dan tegaklah kembali kehidupan.” Betapa penting fakta dan karya Kristus yang mati di atas salib serta bangkit dari kematian. “Kristus telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.”

Ada 2 Mujizat terbesar yang Tuhan kerjakan: (a) Menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada (penciptaan); (b) Mengubah yang dari mati menjadi hidup. Itulah kebangkitan. Apakah manfaat dari kebangkitan Kristus bagi kita? (i) Dengan kebangkitan-Nya, Ia telah mengalahkan kematian agar Ia bisa menjadikan kita orang-orang yang mengambil bagian di dalam kebenaran yang telah Ia dapatkan bagi kita dengan kematian-Nya. (ii) Kita juga dibangkitkan oleh kuasa-Nya kepada hidup yang baru. (iii) Kebangkitan Kristus adalah jaminan yang pasti untuk kebangkitan kita yang terberkati. Bagaimana respon kita terhadap karya yang sangat besar ini? Paulus menulis di dalam kitab Kolose 3:1-4. Kata “dibangkitkan” ini, sebenarnya diartikan “telah dibangkitkan” (Yun: sunegeeiro/aorist, pasif). Sebelumnya Paulus berkata di pasal 2:20 “mati bersama Kristus.” Jadi, mati bersama Kristus dan bangkit bersama Kristus. Atas dasar pengertian tersebut, maka kita bisa artikan panggilan kita adalah: ❶ Carilah perkara yang di atas (ayat 1). “Jika kita benar-benar ingin menemukan Dia, kita dapat menemukan Dia di tempat Dia ditemukan yaitu di dalam Firman-Nya, di dalam doa kita, di dalam ibadah kita dan ketaatan kita”. Setelah kita menjadi anggota kerajaan Allah, hendaklah pencarian kita selalu terarah kepada Dia. Seluruh aktivitas kita bertujuan untuk mencari Dia. “Mari kita menjadikan sorga sebagai sasaran dan tujuan kita. Kita juga harus mencari perkenanan dari Allah yang ada di sorga, memelihara persekutuan kita dengan sorga melalui iman, pengharapan, dan kasih kudus.” Sekalipun kita masih tinggal di dunia, tetapi kita perlu berperang untuk mengalahkan segala hal yang duniawi. ❷ Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi (ayat 2). Siapa yang dapat mengetahui seluruh rahasia sorga selain Dia yang datang dari sorga? Sejak manusia jatuh dalam dosa, mereka terus menerus terikat kepada hal duniawi. Hanya Kristus lah satu-satunya yang tidak pernah kalah terhadap dosa. Karena itu, jika ingin menang terhadap dosa, tunduklah kepada Kristus. Pikirkanlah segala hal yang Ia firmankan. Mengapa ditulis: “Pikirkanlah?” lihat Matius 6:21, “Di mana hartamu berada, di situlah hatimu berada”. Karena harta kita telah disediakan di sorga oleh kebangkitan dan kemenangan Kristus, marilah kita memikirkan perkara tersebut. Segala sesuatu menjadi berhala kalau hal itu menjauhkan kita dari Allah. Kristus tidak dihargai sama sekali kecuali Ia dihargai di atas semua.” ❸ Hidup bersama Kristus (ayat 3). “Perkataan Kristus telah membawa mata kita untuk tidak boleh lagi melihat kepada dosa, tetapi mata kita harus melihat kepada Kristus yang telah menebus dosa-dosa kita.” Kita harus berjalan semakin dekat lagi dengan Allah di dalam setiap bentuk ketaatan terhadap Injil. Bila Kristus telah bangkit bagi kita, marilah kita berjuang hidup seperti yang ditulis oleh Paulus dalam Galatia 2:20 “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan yang menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Kristus telah bangkit dan telah menang terhadap kuasa dosa maka orang percaya tidak menjadi takut lagi. Bahkan ditengah hidup di dunia ini, kita tidak perlu dikuasai ketakutan lagi. Ingatlah, kita hidup ditangan Tuhan yang berkuasa mengalahkan kematian, terlebih lagi pergumulan hidup kita! Orientasi kehidupan kita bukan lagi kepada dunia ini melainkan kepada kerajaan Allah.