Posted by Yanes Dewangga

Tuhan berfirman kepada Elia untuk pergi ke Sarfat dan menginap di rumah seorang janda yang akan memberinya makan ditengah kemarau. Elia pergi dan menemui seorang janda yang sedang mengumpulkan kayu di pintu gerbang kota Sarfat dan meminta makan darinya. Kisah ini menjelaskan bagaimana Tuhan membuktikan pemeliharaan-Nya bagi semua orang yang percaya termasuk hamba-Nya. Mungkin ada pertanyaan mengapa Tuhan mengizinkan orang percaya mengalami kekurangan makanan? Mungkin ada diantara kita bertanya mengapa Tuhan tidak pernah mencukupkan hidup kita walaupun kita rajin berdoa agar Tuhan mencukupkan hidup kita?

Dalam Ulangan 11:14-17, bangsa Israel mengutamakan Allah lain. Berkat dan pemeliharan-Nya jauh dari mereka. Ketika kita meninggalkan Tuhan dan beralih kepada Allah lain atau berhala, maka kita sebenarnya meninggalkan Tuhan yang mencukupkan kebutuhan kita sehari-hari. Berhala kini dapat berupa benda, tempat, hal, pikiran dan apapun yang kita jadikan pengharapan dan sandaran hidup kita diluar Tuhan. Dalam Ulangan 8:1-3 ada ujian dari Tuhan. Hati / pribadi kita dibentuk oleh Tuhan untuk bisa mengerti kehendak Tuhan. Paulus pernah berkata kepada jemaat Korintus (2 Kor 1:6,9), bahwa penderitaan yang ia alami hanya agar ia dapat menaruh pengharapannya kepada Allah semata. Iman tumbuh melalui pengalaman bersama Tuhan. Ada banyak orang frustrasi karena fokus pada kesulitan dan penderitaan serta mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi tidak melihat tangan Tuhan yang menyertai.

Apakah maksudnya Tuhan menyuruh Elia ke janda yang kekurangan untuk mendapatkan makanan? Yaitu karena kita hanya punya satu sumber, yaitu Tuhan. Apa yang di luar Tuhan, merupakan alat semata. Si janda adalah alat Tuhan, sang sumber yang memeliharakan hidup Elia dan kita semua. Pada Mzm 104:10-18, Tuhanlah sumber segala-galanya bagi kita. Kita tidak boleh bergantung pada alat yang Tuhan pakai untuk memelihara hidup kita. Baik itu pekerjaan, uang, ataupun relasi dengan sesama. Karena dengan demikian kita menjadikan alat tersebut berhala / allah lain. Rasanya sulit untuk dimengerti perintah Tuhan kepada Elia, namun Elia dapat menaati firman Tuhan karena ia telah mengalami kuasa dan pemeliharaan Tuhan. Tuhan akan menggunakan apapun untuk memelihara hidup kita dan mencapai tujuan yang Ia kehendaki bagi kita, karena ia Maha Kuasa. Namun ketika kita menganggap alat yang Tuhan beri menjadi sumber satu-satunya, maka alat itu menjadi berhala kita.

Elia taat kepada firman Tuhan dan segera pergi ke Sarfat, dan ia dicukupkan kebutuhannya oleh Tuhan. Banyak orang tidak mau taat tapi mau kebutuhannya dicukupkan. Seringkali ketaatan dianggap sebagai pilihan, padahal ketaatan adalah keharusan bagi orang percaya. Janda itu menjawab Elia secara jujur akan kondisinya yang begitu kekurangan, namun Elia tetap memintanya untuk memberikan makan kepada Elia dahulu lalu si janda dan anaknya. Kenapa demikian? Kita dapat belajar bahwa ketika Tuhan ingin melakukan sesuatu bagi kita, Tuhan terlebih dahulu ingin kita melakukan sesuatu bagi-Nya. Tuhan ingin kita percaya dan berserah sepenuhnya kepada-Nya, sekalipun kita diminta untuk melakukan hal yang sulit kita mengerti sekalipun. Ketaatan dan kepercayaan kita kepada perintah Tuhan itulah yang Tuhan inginkan dab ini adalah prinsip Alkitab (Ams 11:24-25, Ul 24:19, Luk 6:38). Tuhan menginginkan respon iman dalam hal apapun. Janganlah takut! Si janda ditolong oleh Elia untuk dapat melihat apa yang tidak mampu dilhatnya. Ia membiarkan imannya menguasai perasaan dan pikirannya dan melakukan apa yang dikatakan Elia, maka terjadilah pemeliharaan Tuhan atas hidupnya.

Jangan pernah menuntut Tuhan untuk melakukan sesuatu dalam kehidupan kita, jika kita tidak pernah menjadikan Tuhan sebagai sumber hidup satu-satunya. Kita tidak akan melihat tangan Tuhan sampai ada tindakan iman. Memberi dalam kekurangan tidak pernah membuat orang kekurangan, justru akan dicukupkan. Kalau Tuhan sumber satu-satunya, maka kita tidak akan takut kehilangan apapun. Karena Ia akan mencukupkan orang yang bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Soli Deo Gloria.