Pengkhotbah

Perikop
Filipi 4:1-7

Ringkasan Khotbah

Semua orang pernah mengalami khawatir. Khawatir merupakan perasaan takut, gelisah, dan cemas terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti. Ironisnya, banyak hal yang manusia khawatirkan tidak pernah terjadi. Orang Kristen sendiri tidaklah kebal terhadap rasa khawatir, tapi sadar atau tidak, kekhawatiran seringkali membuat kabur kesadaran kita akan kehadiran dan keberadaan Allah. Manusia pada umumnya sering mengkhawatirkan sandang, pangan, dan papan. Namun Tuhan Yesus malah berkata bahwa kita tidak perlu mengkhawatirkan sandang dan pangan karena semua hal ini dicari oleh mereka yang tidak mengenal Allah. Bapa Sorgawi tahu bahwa anak-anakNya memerlukan semuanya itu. Apa maksud dari pernyataan Tuhan Yesus ini? Apakah kita hidup tenang-tenang saja, tidak perlu bekerja, dan menunggu berkat dari atas turun? Rasul Paulus dengan tegas berkata bahwa jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Setiap orang harus bekerja sebaik-baiknya dengan bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (2 Tesalonika 3:10-11). Paulus mengirimkan surat kepada jemaat Filipi ketika berada dalam penjara dan menunggu eksekusi hukuman mati. Di tengah ketidakpastian berapa lama lagi hidup, Paulus menasehati jemaat Filipi untuk tidak khawatir tentang apapun juga dan berserah kepada Allah. Ungkapan jangan khawatir bukan berarti kita menjadi santai-santai. Paulus ingin kita bertanya dan mengkoreksi diri: “Apa prioritas kita di dalam di dunia ini?” Paulus menekankan kepada setiap orang yang dilayaninya untuk meletakkan hal-hal yang rohani di atas hasrat duniawi. Rasa khawatir akan hal-hal duniawi akan merusak tujuan sorgawi Allah menciptakan dan menyelamatkan kita. Semua materi dalam dunia ini bersifat sementara, namun orang Kristen harus bertanggung jawab menggunakan semuanya itu untuk mencapai hal-hal yang bernilai kekal. Kita bisa menggunakan uang yang bernilai sementara untuk mendukung pelayanan misi, pemberitaan Injil, dan pemuridan untuk membawa jiwa-jiwa kembali kepada Kristus.

Daripada khawatir, Paulus menasehatkan kita untuk menaikkan doa dan permohonan kepada Allah (ayat 6). Doa bukanlah sebuah kegiatan rohani untuk menarik perhatian Allah. Apa yang kita utarakan kepada Allah di dalam doa-doa kita? Apakah kita mendesak Allah mengikuti keinginan kita, bahkan marah apabila Allah tidak mengabulkan keinginan kita? Doa bukanlah sederetan kata-kata rohani yang keluar dari tekanan jiwa yang besar untuk mendesak Allah. Mungkin ada orang-orang yang meninggalkan Tuhan karena merasa doanya tidak dijawab-jawab oleh Tuhan. Doa sejatinya merupakan perwujudan relasi kita dengan Allah. Melalui doalah, kita membangun relasi yang intim dengan Allah sehingga kita semakin mengenal Allah dan kehendak-kehendakNya untuk kita kerjakan di dunia. Di dalam doalah kita mengungkapkan dengan penuh kejujuran dan keterbukaan isi hati yang terdalam kepada Allah. Tuhan Yesus Kristus menunjukkan teladan kepada kita dengan senantiasa berdoa dan kita yang mengaku sebagai murid-muridNya seharusnya meneladani Tuhan Yesus Kristus.

Doa yang sungguh-sungguh sesuai kehendak Allah akan melahirkan damai sejahtera yang sejati, bukan damai sejahtera palsu. Ada dua macam damai sejahtera: Damai sejahtera yang timbul setelah manusia bertobat sebagai hasil perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus (kelahiran baru) dan Damai sejahtera yang melampaui segala akal, yaitu damai sejahtera yang hadir ketika kita bertumbuh dalam iman kekristenan kita. Damai sejahtera sejati hanya berasal daripada Allah dan hanya Allah yang dapat memberikannya.

Sejalan dengan doa, kita juga mengenal Allah dan kehendakNya melalui firmanNya. Apakah kita sudah menempatkan firman Tuhan sebagai dasar kehidupan kita? Bagaimana mungkin kita mengaku sebagai pengikut Kristus tapi jarang atau malas membaca firman Tuhan? Mungkin kita sudah belasan bahkan puluhan tahun menjadi orang Kristen, bagaimana apabila di akhir hidup kita Allah berkata: “Siapa kamu? Aku tidak mengenalmu. Enyahlah!” Melalui firman Allah seperti yang kita baca hari ini kita diingatkan bahwa Allah memelihara hati dan pikiran kita dalam Yesus Kristus (ayat 7). Kata memelihara dalam bahasa aslinya adalah phoureo, sebuah istilah militer yang berarti menjaga atau membentengi. Kita memandang pemeliharaan Allah bukan dengan melihat bagaimana kita jauh dari sakit-penyakit, kita kuat secara finansial, ataupun hidup kita tenang dan lancar. Sekali lagi, ini semua dicari oleh mereka yang tidak mengenal Allah. Ketika kita mengetahui, memikirkan, merenungkan, dan memegang janji Allah bahwa rambut kepala kita sehelai saja pun tidak akan terjatuh tanpa sepengetahuan Allah, maka dalam kondisi apa pun yang kita hadapi, kita akan mendapatkan penghiburan. Tekunlah berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan, dan peganglah firman Tuhan, maka kita akan dipenuhi oleh damai sejahtera yang hanya berasal dari Allah! Amin.