Pengkhotbah

Perikop
Matius 26:1-13

Ringkasan Khotbah

Minggu ini adalah minggu palem, atau minggu zaitun karena di minggu ini kita mengingat Yesus dielu-elukan di Yerusalem dengan daun palem. Minggu ini juga disebut minggu sengsara. Kita mengingat Yesus ditangkap dan diadili tiga kali, diludahi, dicambuk, memikul salib dan disalibkan lalu mati di bukit Golgota. Kita mengingat semua kejadian ini pada minggu ini sehingga mungkin membuat kita sedih dan berat hati. Tapi ada satu kejadian yang seolah seperti terang di tengah kegelapan yaitu peristiwa Yesus diurapi.


Persekongkolan untuk menyerahkan Yesus (ayat 2-3)

Orang-orang yang mau menangkap Yesus adalah orang-orang yang ketakutan kehilangan kedudukan mereka secara politik maupun sosial. Sebenarnya mereka tidak mau menangkap waktu perayaan, tapi Yesus malah mengatakan dua hari lagi hari perayaan dan saat itulah Yesus akan ditangkap untuk disalibkan. Jadi bukan manusia yang menentukan kapan Yesus ditangkap, tapi Yesus sendiri. Manusia tidak bisa menentukan kapan kematian diri sendiri, tapi Yesus bisa menentukan. Orang-orang menangkap Yesus adalah Sanhedrin, orang-orang berkuasa di atas seluruh aspek kehidupan orang-orang Israel masa itu, tapi mereka tidak berdaya menentukan kapan dan bagaimana menangkap Yesus. Meski mereka kelihatan merencanakan, sebenarnya semua ada di dalam waktu rencana dan ketentuan Yesus sendiri. Yesus bukannya dibunuh, Yesus hidupnya memang menuju ke salib, dan menyerahkan hidupNya untuk mati di kayu salib.

 

Yesus diurapi (ayat 6).

Matius tidak menyebutkan siapa wanita yang mengurapinya sementara Injil Yohanes menyatakan ini Maria, saudara Marta dan Lazarus. Malah Matius menyebut tempat kejadian ini yaitu rumah Simon si kusta. Inilah yang ingin ditekankan Matius, bukannya Maria. Kemungkinan besar Simon ini sudah disembuhkan karena dia ada di rumahnya. Tapi tentunya sudah sembuh pun masih ada perlakuan tidak baik dari orang sekitar. Meski dua hari lagi disalibkan pun Yesus masih bergaul dengan orang-orang yang dikucilkan. Minyak alabaster hanya bisa dibuat dari tanaman yang tumbuh di pegunungan Himalaya, dari pohon yang sangat langka, karena itu sangat mahal. Mengenai itu Yudas mengkritik mengatakan minyak semahal itu lebih baik dijual untuk menolong orang miskin. Sedemikian mahal dan berharganya minyak yang digunakan untuk mengurapi Yesus.

 

Maria dituliskan dalam Injil sebagai seorang yang suka mendengar perkataan Yesus. Waktu ia mendengar dua hari lagi Yesus akan diserahkan, mungkin responnya sebagai pernyataan kasihnya kepada Yesus, Maria mengurapi Yesus dengan minyak yang mahal itu. Murid-murid lain mengatakan itu pemborosan. Tapi Yesus berkata bahwa itu adalah persiapan untuk kematian-Nya. Tapi Yesus masih hidup, jadi tidak mungkin Maria secara sadar berpikir itu untuk kematian Yesus. Tapi Yesuslah yang mengatakannya. Ayat 13 betul-betul terjadi seperti juga hari ini. Dan ini disebut untuk mengingat Maria. Bahkan untuk murid-murid Yesus yang paling dekat pun tidak pernah dipuji seperti ini, contohnya waktu 70 murid kembali dari pelayanan yang sukses, dan setelah Petrus mengakui Yesus sebagai Mesias. Yesus mendidik murid-murid dan tidak memuji supaya mereka tidak sombong. Yesus memuji perbuatan Maria karena ini adalah pengorbanan yang sangat besar yang diberikan Maria. Dalam 1 Yoh 3:16, Yohanes yang sudah melihat perbuatan Yesus menyerahkan nyawa-Nya, dan juga perbuatan Maria yang berkorban begitu besar untuk Yesus. Sebagaimana Yesus menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, kita pun wajib menyerahkan nyawa kita. Paulus pun dalam Roma 12:1 mengajarkan kita untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai korban yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Perbuatan Maria diingat sebagai teladan buat kita yaitu kasih yang berkorban.