Pengkhotbah

Perikop
Maleakhi 2:10-17

Ringkasan Khotbah

Kitab Maleakhi ditulis pada 430-420SM, seangkatan dengan kitab Nehemia, ditulis setelah Israel pulang dari tempat perbudakan. Jadi saat kitab Maleakhi disampaikan, mereka sedang dalam keadaan aman. Karena situasi aman ini, banyak penyelewengan, bukan dalam keluarga saja tapi juga dalam penyelenggaraan ibadah. Firman Allah tegas berkata jagalah dirimu, jangan berkhianat. Manusia memiliki kecenderungan, saat ada pergumulan, kesusahan, rajin ibadah, serius di hadapan Tuhan, tetapi begitu doa sudah terjawab jadi lengah, lupa berdoa.

Ada orang yang menikah bukan untuk mencari kesenangan bersama, tetapi kesenangan pribadi. Ketika ini adalah motivasi, maka dalam menghidupinya akan ada bentrok kepentingan. Tuhan mendesign pernikahan untuk masa yang panjang, dan Tuhan membenci perceraian.

Dalam perikop kali ini ditekankan “Jangan berkhianat”, yang dalam berbagai terjemahan disebutkan:

–  NIV: Jagalah dirimu di dalam roh. Untuk membentuk keluarga yang takut dalam Tuhan, maka perlu hidup dalam roh.

–  Terjemahan lain :Jagalah hatimu, janganlah tidak setia terhadap istrimu.

–  King James: Jagalah dirimu di dalam Tuhan. Setiap pribadi kita perlu menjaga diri.

Prinsip paling penting dalam membina dengan pasangan adalah hidup dipimpin oleh Roh. Supaya setia kepada pasangan, hati perlu dikendalikan oleh Roh Kudus. Roh inilah yang memimpin seseorang, sehingga dia menjadi pasangan yang baik, setia. Masalah sering terjadi karena manusia tidak bergantung pada Roh tetapi bergantung pada pengalaman, pada kekuatan diri sendiri, pada kekayaan dunia. Ini salah. Semua ini bisa hilang, bisa berubah, tetapi orang yang dipimpin oleh Roh akan berdiri teguh.

Ada penulis di Amerika yang menulis bahwa kunci rumah tangga Kristen menuju kebahagiaan:

  1. Persatuan rohani. Suami istri perlu persatuan rohani, yakni sama-sama hidup takut akan Tuhan.
  2. Kepuasan seksual . Masing-masing berjuang untuk saling berjuang memuaskan pasangannya.
  3. Komunikasi yang lancar. Janganlah suami/istri ramah dengan orang lain, tetapi malah tegang dengan pasangan sendiri.

Kenapa Tuhan menekankan “Jangan berkhianat”  ini kepada bangsa Israel?

  1. Karena bangsa Israel sudah menajiskan perjanjian (ayat 10-11). Di sini kata ‘bapa’ merujuk kepada Abraham. Karena bapa Abraham dan keturunannya, termasuk gereja, diciptakan bukan secara fisik saja, tetapi ada kehidupan rohani. Tuhan berkata, “Engkau adalah kepunyaan-Ku”, tetapi mereka tidak setia kepada Tuhan. Mereka berkhianat satu sama lain. Jadi seorang yang menajiskan perjanjian Allah, dia melakukan pelanggaran yang sangat menyinggung perasaan Tuhan. Prinsip-prinsip kita salah kalau hubungan kita dengan Tuhan tidak beres
  2. Mereka tidak setia kepada pasangannya (ayat 13-14). Dituliskan bahwa bahkan saat mereka menangis Allah tidak mempedulikan. Alasannya karena di hati mereka ada kepura-puraan. Tuhan tidak peduli pada persembahan mereka. Jangan pernah berpura-pura kepada Tuhan. Suami dan istri adalah teman seperjanjian terhadap Tuhan. Dalam bahasa Inggris, perjanjian ini disebut covenant, bukan promise. Kalau kita berjanji kepada sesama, itu disebut promise, tapi kalau kepada Tuhan, adalah covenant. Itu adalah sesuatu yang kudus, yang sakral. Karena ini sesuatu yang sakral, jangan main-main, jangan coba-coba. Jangan anggap sepele. Perlu diperjuangkan. Rumah tangga Kristen adalah persembahan yang kudus kepada Tuhan. Mereka diciptakan untuk saling melayani. Mari kita koreksi hati kita. Tuhan membenci perceraian.
  3. Karena orang Israel menyusahkan Tuhan dengan perkataannya (ayat 17). Dalam terjemahan lain, “menyusahkan” ini artinya memuakkan, membosankan. Ini terjadi karena mereka berpura-pura. Mereka tidak menghormati-Nya. Mereka kawin campur. Mari kita koreksi, apakah Tuhan senang dengan perkataan kita. Semua yang keluar dari mulut kita, itu keluar dari perbendaharaan hati kita. Supaya kita mengeluarkan kata-kata yang tidak menyusahkan Allah, hidup kita perlu dipimpin oleh Allah.

Mari kita koreksi hidup kita, apakah kita sudah dipimpin oleh Roh atau belum. Hasilkanlah perkataan, prinsip, kehendak yang baik, yang bisa timbul hanya karena pimpinan Roh, karena takut akan Tuhan.