Pengkhotbah

Perikop
Daniel 6:1-15

Ringkasan Khotbah

Gaya hidup bagaimana yang harus kita tunjukkan kepada dunia agar benar-benar nyata bahwa kita orang beriman yang sungguh-sungguh memancarkan kemuliaan Tuhan melalui kehidupan kita? Jawabannya adalah gaya hidup yang berintegritas. Secara umum integritas berarti keutuhan. Alkitab berbicara banyak mengenai integritas dan banyak sekali ditemukan dalam Alkitab walau memang dalam terjemahan bahasa Indonesia tidak selalu diterjemahkan menjadi integritas. Contohnya kata ketulusan dalam Mazmur 25:21, kata jujur dalam Amsal 11:3, kata bersih kelakuan dalam Amsal 10:9 dan sebagainya. Jadi integritas dapat dikatakan sebagai satu sikap yang dekat dengan orang percaya, jadi ia adalah orang yang tulus, jujur, dan bersih kelakuannya. Integritas orang Kristen bisa dibentuk dan dibangun dengan didasari kebenaran Firman Tuhan. Tidak semua orang di dunia berintegritas, oleh sebab itu Allah sudah memberikan prinsip hidup melalui Alkitab sebagai alat peperangan rohani kita. Ketika Yesus datang ke dunia ini, Ia juga telah memberikan teladan hidup berintegritas. Ia mengutip Firman untuk mengalahkan serangan iblis dan lebih daripada itu Ia berdiri teguh dalam kebenaran Firman.

Eric Liddell seorang pelari yang memenangkan beberapa medali di Olimpiade tahun 1924 memilih untuk tidak mengikuti satu perlombaan yang diadakan pada hari Minggu. Ia mempertahankan integritasnya sebagai orang percaya daripada mengejar kesuksesan. Demikian pula dalam hidup kita begitu banyak tantangan untuk mempertahankan integritas kita di hadapan Allah. Kita dapat belajar dari seorang Daniel di Perjanjian Lama yang hidup dengan penuh integritas dan sungguh-sungguh mengasihi Allah. Dalam setiap keputusan yang ia buat, ia selalu mempertanyakan apakah keputusan yang diambil dan hal yang dibuat sesuai dengan kehendak Tuhan. Oleh anugerah Allah, ia mendapatkan karir yang baik dan menjadi orang yang berpengaruh dalam kerajaan Babel. Di lingkungan yang jauh dari penyembahan kepada Allah, mereka justru semakin mencintai Allah dan hari lepas hari mereka dapat melihat pertolongan Tuhan dalam hidup mereka.

Menurut penafsir, saat Daniel dibuang ke gua singa pada pasal 6 ini dia sudah menjadi pejabat senior atau sudah tinggal lama di Babel. Latar belakangnya sebagai penyembah Allah Yahwe menimbulkan kebencian orang-orang di Babel tetapi ia tetap dikenal sebagai orang yang jujur. Ia menunjukkan sebagai orang yang percaya kepada Allah Yahwe, ia juga setia dalam pekerjaannya sehingga tidak dapat ditemukan kesalahan pada dirinya. Kita sebagai orang Kristen dalam profesi serendah apapun, harus menjadi pekerja terbaik dengan penuh integritas karena kita terikat pada sebuah nama yang agung yaitu Yesus Kristus. Bahkan di dalam semua lini kehidupan, kita melakukan apapun juga seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Melalui Daniel, kita dapat melihat bagaimana integritas dapat menimbulkan penderitaan. Hal ini terjadi karena kita berhadapan dengan dunia yang telah jatuh dalam dosa yang justru membenci prinsip hidup berintegritas. Daniel bukan belajar berintegritas karena menghadapi penderitaan melainkan ia sudah hidup berintegritas dari masa mudanya sehingga dikarunian Tuhan dengan segala kelimpahan berkat termasuk intelektualnya. Disitulah ia menanggung penderitaan dan ujian dari rekan-rekan sekerjanya oleh karena gaya hidupnya yang menyaksikan akan kemuliaan Tuhan dalam segala aspek kehidupan. Strategi jahat dirancang untuk menjatuhkan Daniel dengan membuat undang-undang yang seolah menyenangkan raja. Mereka bahkan sampai tahu kapan Daniel berdoa. Ini menjadi pelajaran untuk kita bahwa orang-orang mungkin mengetahui tentang kita dan kebiasaan kita sebagai orang percaya maka kita perlu terus mempertahankan integritas kita. Kita bahkan tidak perlu iri hati seperti orang-orang yang iri terhadap Daniel.

Walau sepertinya Tuhan tutup mata dengan membiarkan Daniel masuk ke gua singa, pada ayat 17 dan 23 kita menyaksikan pertolongan Tuhan kepada Daniel dengan menutup mulut singa tersebut. Maka saat kita masuk dalam penderitaan yang berat sekalipun, kita harus ingat bahwa Tuhan tidak pernah tutup mata dan akan membela orang yang sungguh mengasihi-Nya seperti yang Ia lakukan kepada Daniel. Dan seperti pengakuan Daniel pada ayat 23 bahwa ia taat kepada Tuhan dan raja, kita belajar semakin seseorang mengasihi Allah ia semakin mengasihi hukum / prinsip hidup yang benar. Dan juga semakin rindu beribadah dan berdoa kepada Tuhan di tengah kesibukan yang ada (ayat 6). Orang percaya harus menyaksikan imannya yang berintegritas untuk mempengaruhi dunia yang penuh persaingan walaupun harus menderita sekalipun. Dan seperti kesaksian Petrus di pengadilan agama, kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia (Kis 5:29), maka kiranya kita senantiasa hidup berintegritas dan mengutamakan Tuhan.