Ringkasan Khotbah

Sebagai konselor terapis masalah keluarga, kami banyak bekerja memulihkan relasi keluarga. Terapi kuno justru datang dari Filipi 2. Yang menarik, teks ini ditulis oleh Paulus dari dalam penjara. Dia menghadapi banyak kesulitan dan tekanan. Dia pasti stress dan depresi karena:

  1. Paulus merasa sedih (3:18), melihat banyak orang hidup secara duniawi, egois, dan sibuk bekerja. Sementara orang-orang yang beragama dan beriman, justru beragama secara lahiriah.
  2. Beberapa orang memojokkan dirinya, dan mengambil keuntungan dari Injil (1:15-18)
  3. Paulus sempat memikirkan kematian (1:21) tapi hatinya memilih berbuah melayani. Dia sama seperti Ayub, Elia yang mengalami tekanan. Tetapi Paulus sangat cepat untuk menenangkan diri.
  4. Ia sadar Tuhan mengaruniakan karunia menderita bagi Kristus (1:29)
  5. Temannya Eunike dan Sintikhe terlibat konflik tidak sehat (4:2), dan ini dapat mengganggu kesaksian orang Kristen yang jumlahnya sedikit saat itu.

Situasi kita lebih kurang sama. Kita mengalami konflik, terutama dengan keluarga atau di tempat kerja, disebabkan: ①Kita sibuk mencari panggung pribadi, penghargaan, ②Sikap egois dan duniawi, ③Mengabaikan relasi dengan keluarga. Sebagai konselor, saya mengamati banyak keluarga konflik hingga bercerai, karena masing2 egois mementingkan diri sendiri. Dan juga pekabaran injil terhambat karena pemimpin gereja sibuk membesarkan jemaat. Gereja berkompetisi membesarkan jemaat, dan gedung. Karena sibuk dengan banyak program, keluarga jemaat tidak terpelihara.

Untuk itu ada 3 poin penting yang perlu kita pelajari

  1. Bersatu dan saling peduli.

Inilah ciri utama orang Kristen. Dalam ayat 1 dan 2, dalam Kristus ada 5 faktor yang sangat penting: ada nasihat, penghiburan kasih, persekutuan Roh, kasih mesra dan  belas kasihan. Tetapi pada kenyataannya, hal ini jarang terpenuhi. Kebutuhan untuk ngobrol, bermain, makan bersama keluarga kita gantikan dengan gadget, internet, game. Kita tidak bisa menikmatinya kalau kita tidak menyediakan waktu yang khusus untuk keluarga.

  1. Pentingnya berkorban

Hidup sebagian kita sudah tidak ideal seperti dalam ayat 1 dan 2. Karena hidup yang egois dan mementingkan diri sendiri banyak keluarga konflik, tercerai berai dan berpisah secara emosi. Pernikahan-pernikahan banyak yang sudah mati secara emosi. Hubungan antar keluarga hanya digerakkan oleh kebutuhan makan dan pendidikan. Untuk bisa kembali mencapai persatuan dan membangun ulang bonding atau ikatan batin maka diperlukan dua sifat seperti dalam ayat 3-4, yaitu tidak egois, dan fokus pada kelebihan pasangan dan mengutamakan pasangan.

  1. Inkarnasi Kristus dan pemulihan relasi

Ayat 5-8 memberikan inspirasi bagaimana memulihkan hubungan yang buruk dengan istri, suami, anak, yaitu hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Paulus menggambarkan proses inkarnasi secara singkat (6-8), di mana Allah menjadi manusia, rela menjadi hamba, dan berkorban mati di kayu salib. Ini adalah 3 proses yang dapat kita teladani dan pelajari untuk rekonsiliasi. Merendahkan diri, melayani, dan berkorban.

Harga sebuah rekonsiliasi tidak bisa digantikan dengan uang. Lukas 15 menceritakan tentang anak yang hilang. Sementara di Jakarta banyak ayah-ayah yang hilang. Dalam kisah anak yang hilang pada Lukas 15, kita belajar tentang cinta kreatif seorang Ayah pada anaknya:

  1. Jika Cinta manipulatif hanya sanggup mencintai saat baik, sebaliknya “Cinta kreatif” mampu menyayangi di saat kondisi paling buruk sekalipun.
  2. Cinta kreatif selalu berINISIATIF, bukan pasif.
  3. Ia mengenal dengan baik “bahasa cinta” anaknya, penerimaan tanpa syarat. Cinta kreatif cakap memikul kelemahan anaknya.

4.Cinta kreatif itu sabar, dan tidak menyimpan kesalahan anaknya.

Tidak ada pemulihan relasi tanpa pengorbanan. Tidak ada jalan pemulihan kecuali kembali kepada Kristus, dan melekat kepada Kristus. Dan pemulihan relasi dengan sesama dimulai dengan pertobatan.