Ringkasan Khotbah

Pada ayat 12-16 kita dapat melihat bahwa para rasul mengadakan banyak mukjizat, kehadiran mereka di bait Allah begitu diharapkan oleh banyak orang. Sekalipun dibenci, mereka dihormati dan diharapkan oleh orang Yahudi karena Allah bekerja di tengah mereka dan hati mereka meluap dengan sukacita dan syukur sehingga berita Injil tidak pernah berhenti diberitakan. Petrus terus memberitakan mengenai Injil yang memberi hidup itu (ayat 31), mengapa Yesus harus mati, disalibkan yaitu supaya setiap orang yang percaya mendapatkan kehidupan yang kekal. Demikian pula dengan kita yang ada disini, kita dapat bersekutu dengan Allah karena Kristus telah membangun jembatan pengampunan dosa, yaitu salib di Kalvari. Para rasul terus memberitakan kebenaran ini dengan penuh keberanian walaupun tidak mudah dan banyak tantangan harus yang dihadapi. Mereka harus menghadapi Imam Besar yang mempunyai jabatan tertinggi dalam agama Yahudi (ayat 17-18), punya pengaruh yang besar dan yang mewakili umat Israel menghadap Allah dan juga mewakili Allah bagi bangsa Israel. Selain itu juga pengikut Imam Besar dari kelompok Saduki yang menentang Injil. Mereka berbeda dengan orang Farisi karena walau memegang Taurat tetapi mereka kompromi terhadap kebudayaan luar Yahudi seperti Romawi, sehingga mereka yang diangkat menjadi Imam Besar oleh kerajaan Romawi. Orang Saduki tidak percaya kebangkitan orang mati, kekekalan jiwa, akan adanya roh dan malaikat, dan terhadap kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia. Maka mereka sangat menolak ajaran Yesus dan para rasul. Orang Saduki iri hati terhadap para rasul. Iri hati mempunyai dua arti: semangat dan cemburu. Orang Saduki begitu semangat menentang pengajaran para rasul sekaligus cemburu pada popularitas para rasul. Iri hati juga dapat dialami oleh orang Kristen sekalipun dan membawa dampak yang buruk karena persaudaraan sekalipun bisa rusak oleh karena iri hati. Contoh: Kain dan Habel, Yusuf dan saudara-saudaranya. Namun bila kita sungguh percaya dan beriman pada Yesus sang sumber damai sejati, maka kita tidak akan iri hati pada apapun.

Injil yang memberi hidup itu adalah Injil yang berkuasa (ayat 19-20). Orang Kristen mungkin tidak berdaya tetapi Tuhan bekerja dengan kuasa-Nya. Malaikat Tuhan membuka pintu penjara dan menolong para rasul. Tuhan tidak hanya menolong para rasul tetapi juga menunjukkan kepada orang Saduki bahwa malaikat itu ada, dan bahwa kebenaran sejati berasal dari surga / Allah, bukan dari dunia. Hal yang sama dicatat pada Kis 13:6-12 dan Mzm 34:8. Tujuan Tuhan menolong para rasul adalah agar para rasul memberitakan Injil (ayat 20) yang membawa keselamatan pada banyak orang. Pergumulan yang kita alami kiranya membuat kita semakin mengenal Tuhan dan dapat memberitakan Injil melaluinya dan bukan mencari keamanan semata. Seperti para murid taat kepada perintah Tuhan ke bait Allah (ayat 21) yang notabene adalah tempat berbahaya karena banyak orang Yahudi yang membenci mereka. Dan yang terjadi adalah memang mereka kembali ditangkap (ayat 26) tapi tanpa dianiaya karena Tuhan berkuasa menimbulkan kegentaran pada orang Yahudi yang ingin menangkap mereka.

Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia (ayat 29). Hal ini tercatat pula pada 1 Yoh 1:1-3. Prinsip penginjilan adalah untuk menyenangkan hati Allah. Manusia tidak dapat memuaskan hati semua manusia karena itu penginjil mutlak mengutamakan untuk menyenangkan hati Allah. Orang Kristen semakin dekat dengan Tuhan harus semakin taat kepada Tuhan, tanpa itu bila semua pengajaran dari alkitab hanya disimpan di otak saja sebatas pengetahuan maka semua sia-sia belaka. Kesempatan kita hidup ini kita harus lebih taat kepada Allah daripada manusia (Kis 4:19-20). Taat berarti tunduk kepada otoritas tertinggi yaitu Tuhan. Mengapa para rasul bisa taat demikian rupa? Memang mereka diajar langsung oleh Yesus (Mat 10:19-20). Roh Kudus yang mengajar dan membuat mereka setia dan berkobar-kobar memberitakan Injil (ayat 32). Selain itu mereka senantiasa menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan dan aktivitas mereka. Gereja dan orang percaya ada untuk Allah.

Allah memaksudkan penderitaan Kristus melalui penderitaan umat-Nya. Melaluinya kita dapat menyaksikan kasih Kristus bagi dunia dengan kita menyangkal diri, taat kepada Allah dan hidup berintegritas dalam dunia. Walau banyak tantangan sekalipun mari kita jangan undur karena kita dimampukan untuk melakukannya sebab Yesus adalah pemimpin (ayat 34) dan perintis melalui karya kebangkitan-Nya (Ibrani 6:19-20). Dan Injil yang memberi hidup itu akan menolong kita dalam setiap pergumulan dan memampukan kita taat kepada Allah dan dalam melangkah ke kehidupan kekal di sorga.