Pengkhotbah

Perikop
1 Yohanes 5:1-12

Ringkasan Khotbah

Rasul Yohanes sangat memahami pergumulan setiap orang percaya bahwa mereka selalu berhadapan dengan tantangan menjadi murid Kristus (1 Yoh 2:16). Paulus juga menulis tentang orang-orang yang menjadi seteru salib Kristus (Filipi 3:19). Fakta inilah yang senantiasa dihadapi oleh umat Tuhan. Kita bersyukur karena Allah senantiasa mengaruniakan kepada kita kemenangan. Hal ini karena iman di dalam Kristus. Bagaimana seseorang dapat mengalahkan dunia? ①Hidup dalam kasih (ay. 3) atau kasih kepada Allah, istilah “mengasihi” di sini ditulis dengan kata dasar agape. Itu berarti, mengasihi Allah perlu belajar dari Allah, karena hanya Dialah yang telah melakukan kasih yang sempurna tanpa pamrih. Yesaya 59:2 menulis bahwa dosa telah mengakibatkan sebuah kondisi yang paling membahayakan bagi setiap manusia yaitu terpisahnya ciptaaan dengan Pencipta. Istilah “memisahkan” ini ditulis dengan kata “separates”. Jadi, ayat ini menunjukkan bahwa dosa itu memiliki kekuatan yang membuat umat Allah tidak dapat bersekutu dengan Pencipta. Ayat 3 menulis bahwa kasih kepada Allah adalah menuruti perintah-perintah-Nya.

Mengasihi Allah -> mengasihi perintah-Nya -> menuruti perintah. Prinsip ini tidak berat. Berbeda halnya jika seseorang melakukan perintah Tuhan dengan cara dipaksa-paksa. Ketaatan karena dorongan kasih tidak berat. Ketaatan berdasarkan paksaan, itu ketakutan. Biasanya hal ini tidak bertahan. ②Mengasihi sesama (ay. 2), setelah mengasihi Allah, kita akan mengaplikasikannya melalui kasih kepada sesama. Prinsip keKristenan adalah terikat kepada kasih Allah. Sebab kalau kasih tidak mendasari orang percaya maka mereka akan dikuasai oleh kebencian. Mari kita memulai dari saat ini. Kita tidak boleh kalah oleh ego dan kedagingan kita. Untuk menjadi pemenang, kita belajar untuk mengalahkan ego diri sendiri.

Mengapa kita percaya kesaksian tentang Yesus? (a) Karena di sorga disaksikan (ay. 7), satu kelebihan yang dimiliki oleh Yesus Kristus yaitu ada kesaksian sorga yang turut meneguhkan kebenaran-Nya. Karena sorga menyaksikan-Nya, tidak ada alasan untuk meragukan-Nya. Jika sorga sudah berbicara tentang Tritunggal, tidak ada alasan bagi duia untuk meragukan-Nya. (b) Karena di bumi disaksikan (ay. 8), di bumi juga ada kebenaran yang meyakinkan bahwa Kristus adalah Penyelamat. Walau ini terus mengalami penolakan namun kebenaran ini tidak dapat disangkali. (c) Kesaksian dari Allah (ay. 9), jika Allah bersaksi tentang Anak-Nya, kebenaran itu tidak dapat diragukan lagi. Dalam Diri Kristus, kesaksian di sorga, di bumi dan dari Allah dinyatakan. Oleh sebab itu, orang percaya tidak ada alasan untuk kalah terhadap dunia. Dunia dengan berbagai macam caranya meragukan kebenaran ke-Tuhan-an Kristus tetapi umat Allah dipanggil untuk terus menyaksikan-Nya.

Allah memanggil umat-Nya untuk menjadi pejuang dan pemenang di tengah dunia ini. Pengalaman bersama Allah bukan hanya menjangkau pengetahuan dan pengajaran semata melainkan menjadi sebuah pengalaman bersama Allah. Mutlak, hanya dengan iman kepada Tuhan, yang menjadi dasar kemenangan kita, bukan dengan yang lain. Perjalanan bersama Allah perlu menjadi sebuah wujud kemenangan atas dunia ini. Walau banyak tantangan dan penyimpangan atau pergumulan, umat Tuhan dijanjikan untuk menjadi pemenang bersama Tuhan. Kutipan ungkapan dari Marthin Luther tentang Teologia Salib. Ia berkata: “Di dalam kehinaan, penderitaan ada kemuliaan”. Jadi, yang akan menang ialah mereka yang mau menanggung derita karena iman kepada Tuhan.