Pengkhotbah

Perikop
Roma 6:1-14

Ringkasan Khotbah

Kita sudah merenungkan bahwa iman adalah pemberian Allah. Allah adalah sumber Firman, dan melalui Firman itu kita dibimbing. Pengalaman rasul Paulus sendiri pun mengatakan bahwa setiap pribadi harus berjuang bersama Tuhan untuk mengalahkan dosa. Bersama dengan Tuhan kita bisa mengalahkan dosa. Setelah seseorang meninggalkan dosa, mengikuti Allah, buah-buah kebenaran itu harus menjadi nyata. Yaitu ia berjuang hingga mematikan dosa (mortification). Mematikan dosa ini bukan pekerjaan yang mudah. Tak ada dosa yang mudah. Tapi kita tidak boleh menyerah, harus mengalahkannya bersama Roh Kudus.

Bagaimana caranya supaya konsep kita sama dengan cara pandang Allah? Allah itu dalam karyaNya selalu mengkhususkan umatNya untuk menyatakan karyaNya. Dari banyak bangsa, Dia memilih suatu bangsa, umat pilihan. Kemah Suci dipisahkan dari banyak kemah yang ada. Dalam Kemah Suci pun ada yang dikhususkan menjadi tempat maha Kudus. Dalam 7 hari, ada hari Sabat yang dikhususkan untuk Tuhan. Berdasarkan fakta ini, kita dapat melihat bahwa Allah memanggil dan mengkhususkan kita. Dalam panggilan itulah kita terus berjuang.

Yang menjadi nasehat rasul Paulus kepada jemaat Roma waktu itu:

  1. Jangan lagi bertekun dalam dosa. Pada waktu itu, ada yang berpikir bahwa tidak apa-apa berbuat dosa karena semakin banyak dosa semakin banyak kasih karunia yang kita terima. Ini pikiran orang picik. Sebenarnya, kita tidak boleh dengan sengaja menekuni dosa yang sama. Kita harus mati bagi dosa, dan hidup bagi Allah. Apa artinya mati bagi dosa? Sama seperti mati jasmani, tidak ada respon apa-apa, tak ada nafas. Seseorang yang mati bagi dosa, tidak lagi merelakan otaknya, pikirannya bagi dosa. Maka sebagai umat Allah, setelah kita percaya pada Yesus, pada saat yang sama kita pindah status. Yang dulunya hamba dosa, sekarang jadi hamba kebenaran. Kita berhutang kepada Yesus. Mati bagi dosa, hidup bagi Allah. Faktanya: orang Kristen juga tidak lepas dari perilaku dosa dan kejahatan. Pada kenyataannya, manusia begitu rentan untuk jatuh dalam dosa dan penyelewengan. Seperti halnya pernikahan. Waktu masuk dalam pemberkatan nikah, kita diberkati di hadapan jemaat dan Tuhan. Setelah masuk dalam kehidupan bersama, apakah dalam pernikahan itu tidak ada air mata, marah, kecewa? Ada. Tapi justru dalam fakta-fakta itulah kita butuh kekuatan dari Tuhan. Itulah namanya kita berjuang untk mengaplikasikan janji nikah tadi. Berjuang bersama. Jangan mempertahankan ego. Hal yang sama juga dalam hubungan dengan Tuhan. “Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya” (Roma 13:14). Salah satu ancaman manusia adalah memuaskan keinginan yang tidak bisa terkendali.

Dasarnya: ayat 10. Harus ada relasi yang sangat penting dengan Kristus. Iman adalah mengenal, mengasihi, percaya dan bersandar penuh kepada Kristus dengan cara yang aktif sekaligus bertumbuh. Jika kita jatuh dalam dosa, ingatlah karya Kristus (Roma 7:24). Iman menjadi tidak nyata jika tidak disertai dengan perbuatan. Tubuh ini fana, hanya sementara, kita harus mengalahkan dosa. Jangan biarkan dosa berkuasa atas hidup kita. Jangan biarkan itu menjadi kebiasaan.

  1. Jangan menyerahkan tubuh kepada dosa sebagai hamba kelaliman. Kita perlu mengetahui letak kelemahan kita dan membiarkan itu dipakai sebagai hamba kelaliman, misalnya: mata, telinga, mulut. Senjata kebenaran itu berarti kita harus tunduk kepada kebenaran. Sebagai anak-anak Allah, kita punya Roh Allah yang membuat kita bisa taat. Kalau kita bisa semakin dekat dengan Allah, marilah kita mendengarkan pimpinanNya.

Kesimpulan: Dosa memiliki daya tarik yang besar, tapi Tuhan mengatakan kita harus mematikannya. Tidak mudah. Tapi kalau kita bersama Tuhan kita bisa mematikannya. Mari kita dengan rendah hati meminta kekuatan pada Tuhan. Tantangan memang berat. Tetapi kerinduan orang kudus adalah rindu dekat dengan Allah.