Pengkhotbah

Perikop
Ibrani 12:1-11

Ringkasan Khotbah

Iman itu perlu dididik dan dilatih oleh Tuhan supaya semakin dewasa. Jemaat Ibrani mengalami banyak sekali tantangan baik dari luar maupun dari dalam jemaat sendiri. Tekanan dari luar yang dialami oleh jemaat Ibrani berasal dari konfrontasi orang-orang Yahudi yang masih memegang teguh hukum Taurat dan juga tekanan dari pemerintah. Bagaimana supaya kita dapat bertahan dalam iman yang benar ketika dihadapkan pada banyak tantangan? Kita bisa belajar banyak dari setiap ayat pada perikop hari ini. Banyak tokoh iman yang telah mendahului kita yang dapat kita jadikan sebagai teladan, seperti Habel, Nuh, Abraham, Musa, Raja Daud dan tokoh-tokoh lainnya yang disebutkan di pasal 11. Ayat 1 mengajak kita untuk menanggalkan semua beban dan dosa yang merintangi. Tuhan Yesus mengundang semua yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepadaNya (Matius 11:28). Kata “beban” dalam kalimat Tuhan Yesus ini mengacu kepada hal-hal yang ditimbulkan dari sebuah aktivitas itu sendiri (pekerjaan, pergaulan, dan lain-lain). Namun, dalam Ibrani 12:1, “beban” yang dimaksud adalah penderitaan yang ditimbulkan oleh tekanan-tekanan yang berasal dari luar (dari orang-orang Yahudi dan pemerintah).

Dosa yang disebutkan dalam ayat 1 diartikan sebagai godaan. Godaan-godaan ini berasal dari dalam diri jemaat sendiri. Godaan bahkan bisa lebih berat daripada penderitaan karena terkadang tidak dianggap sebagai sebuah hal yang membahayakan. Sebagai contoh, di banyak negara Eropa, sekarang gereja-gereja kosong karena orang-orang Eropa tidak pergi ke gereja, karena hari Minggu adalah waktu bersantai dan berlibur bagi mereka. Godaan-godaan bisa menjadi lebih kuat memisahkan orang percaya dari Tuhan karena sifatnya yang hampir tidak kentara. Dalam jemaat Ibrani, ada orang-orang yang tidak lagi beribadah karena terseret oleh godaan-godaan dunia (Ibrani 10:25). Menanggalkan dosa berarti melepaskan dosa, tidak lagi hidup di dalam dosa. Para tokoh iman menunjukkan bagaimana mereka berlomba dengan tekun dalam mengikuti Tuhan walaupun mengalami banyak penderitaan dan godaan. Orang-orang percaya juga diwajibkan untuk mengikuti perlombaan iman. Para tokoh iman adalah manusia-manusia biasa yang mengalami ujian dan pencobaan sehingga kita di masa sekarang pun juga tidak lepas dari ujian dan pencobaan. Adalah salah apabila kita berkata bahwa kehidupan dan pengalaman Abraham, Nuh, Musa, dan Daud berbeda dengan kita sehingga tidak relevan dengan kita di masa sekarang. Kita harus mengingat apa yang telah Tuhan Yesus kerjakan. Kita diingatkan untuk menetapkan arah mata rohani kita, pikiran kita, hati kita, sungguh-sungguh kepada Tuhan (ayat 2).

Ingatlah pengalaman Petrus. Ketika dia memandang Yesus dan fokus kepada Yesus, Petrus bisa berjalan di atas air. Namun, ketika Petrus merasakan goyangan dari angin badai, Petrus kehilangan fokus kepada Yesus sehingga jatuh ke dalam air (Matius 14:22-33). Tuhanlah yang telah memberikan anugerah kepada kita sehingga kita mempunyai iman, artinya Tuhanlah yang menjadi pendiri (founder) iman kita, Tuhanlah yang menjadi dasarnya sehingga Tuhanlah yang berperan memelihara iman kita. Tidak mungkin kita bertahan dengan kekuatan kita. Tuhan Yesus adalah pokok keselamatan kita (Ibrani 5:8-9). Seperti ketika Yesus memilih murid-muridNya, Yesus berdoa terlebih dahulu sepanjang malam. Petrus merasa diri kuat bahwa dia tidak akan menyangkal imannya kepada Tuhan Yesus. Tapi ternyata, Petrus menyangkal Tuhan Yesus tiga kali. Apakah Petrus dibuang oleh Tuhan? Tidak. Tuhan Yesus memberikan anugerahNya kepada Petrus dan menguatkan iman Petrus dan sampai akhir hidupnya bahkan ketika penderitaan hebat datang. Bagi Tuhan Yesus, Dia sudah tahu apa tujuanNya datang ke dunia. Tuhan Yesus tahu kehendak Allah Bapa sehingga di Getsemani Tuhan Yesus berdoa: “Jadilah kehendakMu”. Inilah teladan teragung yang diberikan kepada kita. Tuhan Yesus mengalami penderitaan besar, namun setelah itu, ada sukacita agung yang dirasakanNya setelah kebangkitanNya. Tuhan Yesus dengan tenang menanggung penderitaan salib. Kita pun akan diberikan kekuatan, kesabaran, dan bahkan sukacita ketika kita mengalami penderitaan karena iman kita di dalam Tuhan Yesus (Matius 5:11-12). Akibat penderitaan, memang kita bisa saja mengalami lemah iman dan putus asa seperti dialami oleh jemaat Ibrani (ayat 3). Namun, dalam pergumulan, kita belum mencucurkan darah seperti Tuhan Yesus (ayat 4). Tuhan mendidik iman kita melalui berbagai kesulitan supaya kita semakin mengenal Tuhan Allah yang benar dan semakin menghormati serta menaatiNya. Seorang Bapak di dunia, apabila mendidik anak-anaknya sejak kecil dengan penuh kuasa dan kasih, maka anak-anak itu pasti menghormati sang Bapak, mendengarkan nasehat-nasehat sang Bapak. Ketika kita dididik dan bahkan dihajar oleh Tuhan, kita perlahan-lahan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang sia-sia dan hidup kita menghasilkan buah-buah kebaikan yang sesuai kehendak Tuhan (ayat 5-11). Ketika berbagai kesulitan datang, kita harus belajar mengarahkan iman kita tetap kepada Tuhan dengan beribadah dan berdoa kepadaNya serta membaca firmanNya. Dengan demikian, kita dikuduskan tiap-tiap hari, berbagai luka rohani dalam hati kita disembuhkan, dan kerohanian kita dikuatkan oleh Tuhan (ayat 12-13).