Pengkhotbah

Perikop
Kejadian 6:5-18

Ringkasan Khotbah

Pembelajaran mengenai iman dan teguran dapat kita pelajari melalui kehidupan Nuh dalam kitab Kejadian 6. Kondisi Nuh pada saat itu sangatlah tidak menyenangkan dan ada dalam suatu lingkungan yang penuh dengan kejahatan. Meskipun demikian, ketika kita belajar dari riwayat hidup Nuh, Ia adalah orang yang hidup benar dan tidak bercela diantara orang-orang sejaman / seangkatannya. Ia menolak untuk berkompromi kepada kefasikan. Ia tetap menjadi orang yang benar, tetap setia, dan berintegritas. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa Nuh adalah orang yang beriman? Ia taat pada Allah dengan membuat sebuah bahtera yang “tidak pada tempatnya”, yaitu di atas gunung, bukan di tempat yang seharusnya misalkan di laut. Kunci Nuh untuk tetap bertahan pada imannya adalah karena Nuh senantiasa “hidup bergaul dengan Allah”. Tuhan memberikan berkat kepada orang-orang yang benar-benar mencari Allah (Ibrani 11:13). Bagi orang yang beriman, meskipun berkat Tuhan tidak selalu diberikan sesuai waktu kapan ia meminta, namun ia akan tetap beriman.

Ada 3 hal yang dapat kita pelajari dalam tema Iman dan Teguran ini. ❶ Allah memperingatkan kita melalui Firman-Nya, supaya kita tidak hidup menuju kehidupan yang penuh kehancuran. Seperti dalam Kejadian 2:16, ketika Adam tidak diperkenankan makan buah yang ada ditengah-tengah taman Eden yang berakibat pada kejatuhan manusia dalam dosa. Peringatan Allah membuat hidup kita menjadi hidup yang benar. Kejatuhan manusia akan dosa pada manusia pertama itu seharusnya menjadi peringatan akan keangkuhan hidup manusia yang jatuhnya manusia ke dalam dosa. Dalam Kejadian 6:9 juga Nuh menjadi peringatan bagi orang sejamannya bahwa hidupnya benar dan tidak bercela. Kata “benar” disini berarti “saddiq”, yang dalam bahasa Ibrani melukiskan watak Nuh yang kelihatan hubungannya dengan sesama manusia. Sedangkan kata “tidak bercela” berarti “tamim” yang merupakan hasil sempurna dari seseorang tukang bangunan yang handal, dan bangunan yang dihasilkan itu lengkap sempurna dan tidak ada cacat.

Kisah lain juga digambarkan pada kejadian sodom dan gomora, dimana Allah menegur perilaku manusia yang penuh dosa dan tidak berkenan dihadapannya. Selain itu, dalam kitab Yunus juga menyingkapkan bahwa individu dan bangsa dapat dan seharusnya menanggapi peringatan Allah. Dalam kisah itu, Niniwe mendengarkan peringatan dan menanggapi, sehingga Allah memperlakukan mereka dengan murah hati (Yunus 3:1-10). ❷ Bagaimana Tuhan memperingatkan orang-orang pada jaman sekarang? (a) Allah memakai orangtua untuk mengajar dan menegur anak-anaknya sejak kecil, sehingga anak-anak dapat tumbuh menjadi orang-orang yang takut akan Tuhan dan setia kepada perintah dan peringatan Tuhan. (b) Allah memperingatkan melalui pengajaran firmanNya apabila manusia mau mengakui otoritas-Nya. (c) Melalui ruang doa kita. (d) Melalui Roh Kudus yang berdiam di dalam diri manusia.

❸ Sejumlah peringatan-peringatan dari Allah antara lain: (a) Kristus memperingatkan kita terhadap sikap yang hanya menjadi pendengar, namun tidak menjadi pelaku Firman (Matius 7:24-27). (b) Allah memperingatkan kita terhadap upah dosa yang adalah maut (Roma 6:23). (c) Allah memperingatkan kita untuk tidak mengabaikan keselamatan besar yang Allah berikan (Ibrani 2:4).

Bagaimana kita menanggapi peringatan Allah? Apakah kita mengabaikan dan memberontak terhadap peringatan Tuhan, ataukan justru sebaliknya kita menurutinya? Ingatlah bahwa kasih Allah juga turut hadir melalui peringatan- peringatan yang Ia berikan kepada kita, manusia berdosa.