Ringkasan Khotbah

Paulus adalah orang yang berintegritas mengerjakan dan menghidupi kebenaran, sehingga dia bisa berkata seperti ayat 18: “kamu tahu bagaimana aku hidup diantara kamu sejak hari pertama aku tiba”. Dia hidup bersama jemaat Efesus sebelumnya selama 3 tahun. Bukan sekedar mengajar, tapi juga menjadi teladan.

Semakin seseorang mengasihi Yesus, semakin dia memberi hidup dan melayani Dia. Kasih dan kecintaan kepada Tuhanlah yang membuat seseorang bersemangat dan bersukacita melayani Dia. Apa yang dihadapi Paulus sangat berat, tapi karena cinta pada Tuhan, seberat apapun tantangan di depan, dia tidak takut.

Paulus mengajarkan kepada jemaat Efesus:

  1. Menjaga diri dan kawanan (28)

Dalam gereja, suksesi pelayanan itu baik. Tapi sebelum mereka mengerjakan panggilan mereka, dia memperingati mereka, “Jagalah dirimu”. Paulus mengingatkan pentingnya kesalahen, kehidupan rohani yang sehat, dan ini butuh pertolongan Tuhan. Tanpa kesalehan, tanpa menjaga hidup dihadapan Allah, pelayanan pasti sia-sia. Kepada Timotius dia berkata awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Hidup, kerohanian dan karakter kita dibentuk oleh Allah. Seorang Jenderal di Amerika berkata kepemimpinan adalah kombinasi dari strategi dan karakter. Tetapi jika salah satu dari dua itu harus dihilangkan, anda pilih mana? Dia tegaskan buanglah strategi, pertahankan karakter. Darimana karakter itu terbentuk? Dengan menjaga diri. Kita perlu mempertahankan karakter kita sebagai Kristen.

Selanjutnya Paulus melanjutkan “Jagalah kawanan”. Para penatua disini dipilih karena mereka hidup saleh. Mengapa Paulus penting mengingatkan tentang kawanan ini? Ada dua faktor. Pertama, faktor dari luar (ayat 29): ada serigala, musuh-musuh Injil yang akan melawan, menyiksa, menentang kamu. Kedua, faktor dari dalam (ayat 30): dari penatua sendiri, yang akan membawa ajaran palsu. Ini bisa kita lihat di 2 Tim 1:15 dimana orang-orang tertentu yang menentang Injil, sesat, melawan ajaran Paulus. Gereja dari sejak berdirinya sampai sekarang ada faktor luar dan dalam yang menjadi pergumulan yang sangat serius. Tapi ada pemeliharaan Allah.

  1. Berjaga-jaga dengan Firman (ayat 31)

Di sekitar kota Efesus banyak berdiri gereja-gereja seperti yang disebutkan di Wahyu. Itu karena saat melayani di Efesus, Paulus mengajar di ruang kuliah Tiranus selama 2 tahun.  Walaupun pengajarnya rasul Paulus, ahli Taurat luar biasa, tapi tetap ada juga yang tegar hati: keras kepala, mengeraskan hati, tidak mau terima Injil. Sebagai orang percaya kita mutlak untuk senantiasa berjaga-jaga, secara aktif dalam arti membaca Firman, merenungkan, dan melakukan. Gereja yang bertahan adalah gereja yang terus berjaga-jaga dan mengingat tiap kebenaran yang telah diterima dari Allah.

  1. Mendukung pelayanan dengan pengorbanan dan harta (ayat 34-35)

Paulus menunjukkan teladan bahwa dia tidak mau menyusahkan orang lain. Dia berjuang. Paulus tahu apa itu kelimpahan, apa itu kekurangan (Fil 3:12). Paulus belajar namanya berkorban. Konsep dunia: melakukan sesuatu untuk mendapat sesuatu. Konsep Kristen: belajar dari Tuhan, yang telah turun bahkan mati, tapi tak dapat apa-apa, bahkan ditolak. Bagi Paulus adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima. Orang Kristen sudah menerima keselamatannya makanya dia bersukacita, mau berkorban untuk Allah. Orang Kristen sejati tidak terikat hanya untuk menerima saja. Sejauh mana pandangan kita tentang Tuhan dan berkatNya? Kalau kita semakin cinta Tuhan, kita tidak takut jika berkat Tuhan semakin banyak atau sedikit. Cara kita menggunakan uang kita menyingkapkan karakter dan bagaimana prioritas kita. Tuhan Yesus berkata, dimana hartamu berada, disitu hatimu berada. Bagaimana hati kita sekarang. Apakah kita mau cinta Tuhan atau berkatnya. Perpuluhan adalah latihan yang sangat sehat untuk menolong kita belajar beriman dalam kehidupan finansial kita. Mencintai Tuhan adalah ada kemauan untuk berkorban.  Mari kita hidup semakin mencintai Tuhan, bersukacita pada kehendakNya.