Ringkasan Khotbah

Setiap orang beriman dipanggil Allah, diselamatkan dengan tujuan menjadi pelayan-pelayan Allah. Hanya orang beriman yang bisa memiliki sukacita dalam melayani Tuhan. Paulus selalu menyatakan dirinya sebagai hamba Yesus atau hamba Tuhan. Iman telah menghantar Paulus menyadari keberadaan hidupnya. Sebagai pelayan beberapa sikap Paulus yang patut kita contoh:

  1. Rendah hati (ay. 19). Semenjak jatuh ke dalam dosa manusia cenderung tidak mau menjadi hamba, merendahkan diri. Kita yang sudah percaya pun masih memiliki kecongkakan tersebut. Seorang bapa gereja berkata bahwa kecongkakan adalah awal dari segala kejahatan. Tetapi buah dari iman adalah rendah hati. Yesus berkata barangsiapa ingin menjadi besar haruslah melayani sesama. Paulus sebagai pemimpin menyadari bahwa ia perlu merendahkan diri melayani. Kita pun perlu merendahkan diri kita melayani. Selayaknya setiap orang memiliki kerendahan hati di dalam gereja.
  2. Banyak mencucurkan air mata (ay. 19). Paulus mencucurkan air mata dalam pelayanannya, bukan hanya karena ia menderita, tapi karena Paulus begitu mengasihi orang-orang yang dilayaninya. Paulus memiliki kasih sampai tidak menghiraukan nyawanya sendiri (ay. 24). Marilah kita juga mencucurkan air mata untuk gereja, keluarga kita, dan orang-orang di sekitar kita.
  3. Banyak mengalami pencobaan (ay. 19). Paulus tidak takut mengalami penderitaan. Allah ingin umat Allah belajar dari Yesus mengalami penderitaan dan salib, karena melalui salib kita itulah orang-orang dibawa kepada Yesus. Janganlah kita mundur karena pencobaan dalam pelayanan, malah itu harus menjadi kesukaan kita menjadi sama seperti Kristus. Bahkan Tuhan Yesus pun dicobai. Kalau Tuhan saja dicobai apalagi kita. Tapi janganlah kita kuatir, tapi tetap teguhlah di dalam pencobaan.
  4. Tidak melalaikan kebutuhan jemaat (ay. 20). Paulus tiga tahun melayani di Efesus siang malam menasehati jemaat (ay. 31). Tidak boleh kita melalaikan pelayanan kepada jemaat. Melalui pelayanan Paulus inilah gereja Efesus bertumbuh. Sukacita yang lahir dari iman akan menghasilkan pelayanan yang baik. Pelayanan harus muncul dari hubungan kita yang baik dengan Tuhan, dari cinta kita kepada Tuhan, bukan karena kita suka pelayanan itu sendiri. Dengan demikian tidak mungkin kita melalaikan peran kita di gereja, juga di dalam keluarga.
  5. Senantiasa bersaksi agar orang lain bertobat (ay. 21). Paulus melayani supaya senantiasa menjadi kesaksian bagi orang lain, memberitakan Injil. Setiap orang percaya harus menjadi pemenang jiwa. Kita perlu memberitakan Kristus. Jikalau orang tua mengaplikasikan Firman Tuhan yang didapatkan di gereja maka akan menjadi kesaksian juga bagi anak-anak.
  6. Semangat untuk berjuang memberitakan Injil (ay. 24). Paulus sadar bahwa yang menyelamatkan dirinya adalah Tuhan. Karena iman yang dianugerahkan Tuhan itu, tujuan hidup Paulus adalah mencapai garis akhir dan menyelesaikan tugas yang diberikan Tuhan kepadanya. Paulus mengerjakan mandat budaya dan mandat injil. Di akhir hidupnya Paulus telah mencapai tujuan dan memelihara iman (2Tim 4:7).

 

Seorang misionaris dari Inggris bernama Peter Cameron Scott melayani di Afrika. Pertama ia pergi ke Afrika ia harus pulang karena kena demam. Tapi hatinya masih berkobar, lalu ia pergi membawa saudaranya John, tapi John meninggal di sana. Scott tetap tidak mundur, malah mendirikan badan misi untuk Afrika dan kembali pergi ke Afrika. William Carey dari Inggris pergi menjadi misionaris ke India, tapi disana anaknya mati dan istrinya menjadi gila. Tapi Carey tidak mundur. Setelah 40 tahun melayani ia kembali. Sungguh mengejutkan bahwa di akhir hidupnya Carey menyuruh menuliskan “Seekor cacing yang hina dan tidak berdaya, dalam tangan kasih-Mu aku jatuh”. Betapa luar biasa Carey merendahkan diri. Kita sudah jatuh di dalam tangan Allah yang maha kuasa, biarlah ada sukacita dalam hati kita untuk melayani.