Ringkasan Khotbah

Apa yang dapat kita pikirkan tentang otoritas? Otoritas adalah kekuasaan yang dimiliki seseorang untuk menjalankan fungsinya. Seberapa pentingkah otoritas mengambil bagian dalam kehidupan rumah tangga orang Kristen?  Efesus 5:21 berkata “dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus”, ayat ini menyampaikan tentang sebuat relasi setiap individu di dalam keluarga. Ayat ini memimpin kita untuk membawa Kristus masuk kedalam kehidupan rumah tangga kita, serta bagaimana ayat ini menekankan pengaruh kita bagi orang di rumah kita berdasarkan otoritas yang didasarkan pada karakter Kristus. Tuhanlah yang telah menentukan ordo, Ia telah berfirman kepada manusia untuk mengusahakan bumi serta beranak cucu. Jadi Tuhan yang secara langsung memberi otoritas serta tanggung jawab kepada setiap manusia.

Sebelum menerapkan otoritas ini kepada anak-anak, kita perlu membangun relasi yang harmonis antara pasangan sebagai kekuatan kehidupan dalam membangun rumah tangga. Dalam sistem pernikahan yang sehat, ada komponen kehidupan yang sehat pula diantaranya: ❶ ada kebebasan untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran bahkan keunikan identitas pribadi; ❷ ada keinginan untuk menerima yang lebih kuat, daripada keinginan untuk menghakimi; ❸ ada keinginan yang lebih kuat untuk mendengar, daripada sekedar ingin tahu; ❹ ada fleksibilitas yang lebih kuat, daripada kepatuhan kepada berbagai aturan dan hukum. Janganlah kita menjadikan rumah sebagai tempat menghukum kepada pasangan dan anak-anak kita.

Sumber sistem pernikahan yang sehat telah ditentukan Tuhan sejak awal. “Sebab itu, seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kejadian 2:24). Di dalam kesatuan ini ada prinsip memberi dan menerima. Ada yang berkata “tulang rusuk berada di bawah lengan pria, menggambarkan seorang istri ada untuk dipelihara, dicintai, dipeluk dan dilindungi.” Mari kita lihat alasan raja Ahasyweros memecat ratu Wasti karena ratu tidak mau datang dan tunduk seperti yang ditentukan oleh raja. Oleh karena itu, dikeluarkanlah sebuah titah dan ketentuan dalam Ester 1:22 “setiap laki-laki harus menjadi kepala dalam rumah tangga.”

Lalu apa yang harus dilakukan oleh orang tua kepada anak-anaknya? ❶ Mengajarkan dan membicarakan (ay. 19), survei di AS mengenai siapa yang memberi pengaruh paling besar bagi kerohanian anak, hasilnya adalah Ibu (87%), Ayah (64%), Gembala (60%), Pendidikan Kekristenan di Gereja (23%). Mengajarkan dan membicarakan merupakan salah satu cara yang paling efektif, Ulangan 6:7 berkata “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”  Hati para ayah haruslah berpaling kepada hati anaknya agar anaknya dapat berpaling kepada Juruselamatnya, disini diingatkan bahwa pentingnya komunikasi antara orang tua dengan anak sangat diperlukan. ❷ Menuliskannya pada tiang pintu rumah (ay. 20), orangtua harus mempersiapkan anak-anaknya untuk hidup berkenan kepada Allah melalui pengertian yang benar tentang Firman Tuhan. ❸ Menerapkan otoritas yang sehat (Amsal 13:24), tugas mendidik mendahulukan pendekatan kasih ketimbang konfrontasi. Kadang kita perlu memperhadapkan anak kita dengan perbuatannya secara tegas, sekali-kali kita perlu menghukumnya. Namun yang harus lebih sering dan diutamakan adalah menegurnya.

Selain itu ada beberapa prinsip praktis dalam menerapkan otoritas yang sehat di dalam keluarga antara lain: (a). Selalu konsisten, konsisten mutlak dibutuhkan dalam menerapkan aturan dalam keluarga. (b). Memberikan penghargaan, dalam menerapkan aturan, penghargaan tidak kalah penting dengan hukuman. (c). Jadilah pemimpin teladan, orang tua adalah seorang teladan bagi anak-anaknya. Marilah kita mempergunakan otoritas secara sehat di dalam kehidupan keluarga kita untuk menjadi teladan hidup bagi anak-anak kita untuk mempersiapkan mereka menjadi pribadi yang memiliki karakter yang kuat di dalam Tuhan.