Pengkhotbah

Perikop
Ibrani 11:8-19

Ringkasan Khotbah

Hari ini kita memperingati Hari Bapak Internasional. Dan kita mau belajar mengenai iman dari Abraham yang disebut Bapak Orang Beriman. Kisah mengenai Abraham ditulis dalam Kitab Kejadian dalam 13 pasal, di surat Ibrani diringkas dalam 11 ayat, yaitu dari sisi iman Abraham.

Kapankah dan dimanakah pertama kali Abraham dipanggil Allah, agak kurang jelas. Kej 11 menuliskan Abraham dipanggil waktu di Haran, setelah pindah bersama2 dengan ayahnya dari Ur-Kasdim, negeri asalnya. Tetapi kesaksian Stefanus dalam Kis 7:2-3 menyatakan bahwa Allah sudah menampakkan diri dan berfirman kepada Abraham waktu ia masih tinggal di Mesopotamia sebelum tiba di Haran.

Sepertinya dua bagian ini bertentangan, tapi sebenarnya bisa saja bila ternyata Abraham sudah mendapat wahyu Tuhan sebelum tiba di Haran. Yang penting adalah Abraham mendengar dan mengikuti kata-kata Tuhan. Penting juga bagi kita untuk mendengar suara Tuhan dan mematuhinya, bukan sekedar memeluk agama Kristen dan beribadah saja. Seperti halnya Petrus dan rasul-rasul lainnya yang setelah mendengar panggilan Yesus langsung meninggalkan profesi-profesi mereka dan mengikut Yesus untuk menjadi penjala manusia.

Baik di dalam KKR, bible camp, seminar atau ibadah biasa, bila kita mendengar suara Tuhan tinggalkanlah semua pandangan, hidup lama kita dan ikutlah Yesus. Inilah dasar iman. Ibrani 11 disebut pasal iman, dan di ayat 1 ada definisi iman, yaitu dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kelihatan. Orang Kristen perlu memiliki pendirian, yaitu suka mendengar Firman Tuhan, dan memegang teguh serta melaksanakan Firman yang didengar.

Abraham mendengar perkataan Tuhan, taat, lalu berangkat mengikuti Firman Tuhan. Setelah berangkat mengikuti perkataan Tuhan, tidak berarti Abraham langsung dan selalu mengalami keberhasilan. Abraham tidak pernah tinggal lagi di rumah tetapi di kemah, dan ia tinggal di Kanaan seperti di tanah asing (ay. 9). Ur-Kasdim dan Haran adalah daerah Mesopotamia, kemungkinan budaya masih sama, mungkin sama dengan bila kita pindah dari Jakarta ke Surabaya. Tapi di tanah Kanaan bahasa, budaya, cara hidup, nilai2 berbeda. Abraham, Ishak dan Yakub menganggap diri mereka pendatang, perantau, penumpang, yang tinggal sebentar saja di tanah Kanaan (ay. 13). Bangsa Israel ketika keluar dari Mesir dipimpin Tuhan berjalan di padang gurun 40 tahun sebelum masuk Kanaan, agar bangsa Israel bisa diajar oleh Tuhan seperti anak diajar oleh ayahnya (Ul 8:1-5). Tuhan mengajar kita supaya kita memperoleh kekudusan (Ibr 12:10) melalui penderitaan. Demikianlah kehidupan Abraham setelah berangkat dari Haran, penuh penderitaan. Bahkan begitu masuk tanah Kanaan langsung mengalami kelaparan hingga harus mengungsi ke Mesir, dan di sana mengalami masalah sosial seputar istrinya, sehingga akhirnya Abraham pun berbohong.

Ketika menanti keturunan Abraham sempat ambil jalan pintas mengambil Hagar, sehingga hasilnya adalah perselisihan dengan lahirnya Ismael. Sekembali dari Mesir Abraham menyembah Tuhan di mesbah yang dibuatnya, mengaku dosa dan mohon pengampunan. Ketika Sarai diambil Firaun, Tuhan mengambil kembali dengan kuasaNya. Tuhan tidak pernah bohong, Tuhan pasti penuhi janjiNya. Kitalah yang seringkali gagal untuk setia kepada Tuhan.

Pada waktu kita berbuat salah dan tidak setia, pentingnya untuk kita kembali ke mesbah, mengaku dosa dan minta ampun. Melalui kesulitan-kesulitan Abraham terdidik, dan imannya dikuatkan. Abraham fokus bukan kepada tanah Kanaan yang berkelimpahan, tetapi kepada tanah yang dijanjikan, yaitu tanah air sorgawi yang lebih mulia (ay. 15-16).

Kita perlu fokus kepada tanah air sorgawi yang akan datang, tapi kita pun tidak boleh melarikan diri dari dunia ini, kita tetap haru menjalankan tanggung jawab kita dengan baik. Orang kristen perlu memiliki 2 mata, yang melihat sorga sekaligus dunia ini dengan seimbang. Itulah sebabnya ketika Abraham diuji untuk menyerahkan Ishak, anak yang dijanjikan, Abraham bisa beriman bahwa meski Abraham mempersembahakn Ishak sekalipun Tuhan sanggup membangkitkan kembali (ay. 17-19). Betapa besar iman Abraham, sehingga selain bapa orang beriman, Abraham juga disebut sahabat Allah. Marilah kita pun tekun dalam iman kita dengan mencontoh iman Abraham.